PILIHAN REDAKSI

Ali Imron Pernah Minta Izin Ngebom Rumah Amien Rais, Denny Siregar: Harusnya Waktu Itu Jangan Ditangkap Dulu

BENTENGSUMBAR.COM – Pegiat media sosial Denny Siregar angkat bicara mengenai pengakuan pelaku Bom Bali 1. Pasalnya, Ali Imron d...

Iklan Bank Nagari

Soal Video Mumtaz, Pengamat Bersuara Lantang: Hanya Mengejar Elektabilitas Digital Semata

          Soal Video Mumtaz, Pengamat Bersuara Lantang: Hanya Mengejar Elektabilitas Digital Semata
BENTENGSUMBAR.COM - Pengamat politik digital Bambang Arianto, menilai bahwa video Mumtaz Rais terkesan hanya mengejar elektabilitas digital semata. 

Sebab selama ini nama dan ketokohan Mumtaz Rais sebagai figur politik kurang populer di media sosial.

Terkait konten, menurut peneliti media sosial Institute for Digital Democracy (IDD) ini, konten video yang digunakan lebih menyerupai kampanye politik digital kebanyakan.

Tapi, menariknya dalam video tersebut diselipkan materi sumbangan untuk sebuah pondok pesantren. 

"Nah, disinilah letak kontroversialnya karena menyinggung nama pondok pesantren," ujar Bambang kepada BentengSumbar.com, Rabu, 6 Oktober 2021.

Menurutnya, tentu penyebutan ini akan memancing sentimen warganet yang kebetulan memiliki kultur sama atau hubungan dengan pondok pesantren tersebut. 

"Inilah yang kemudian menimbulkan banyak sentimen dari warganet baik positif, negatif maupun netral sehingga akhirnya viral," cakapnya.

Biasanya, jelas Bambang lagi, teknik konten seperti ini digunakan oleh temen-temen kita yang menjadi buzzer media sosial. 

Sebab ada analogi teori buzzer yang mengatakan bahwa membuat kegaduhan itu harus diciptakan ditengah pasar bukan di tengah hutan.

"Artinya bila ingin viral diperlukan materi yang bisa menjadi trigger (pemicu) agar menimbulkan banyak pemaknaan," tukuknya.

Menurutnya, pemicunya bisa menggunakan frasa atau gerak tubuh yang bisa dimaknai bercabang.

"Semakin banyak menimbulkan makna, maka sebuah konten semakin bagus karena pada akhirnya akan menjadi kontroversial," paparnya.

Tapi perlu diingat bahwa membangun elektabilitas digital diperlukan waktu lama. 

"Jadi tidak bisa hanya sebentar, sebulan atau dua bulan. Sebab, dunia digital itukan sifatnya hit and run. Artinya cepat viral tapi cepat pula orang untuk melupakannya," katanya.

Artinya seorang figur politik bila ingin memperbaiki elektabilitas digital, tentulah harus konsisten menciptakan konten yang bisa memancing interaksi warganet lebih banyak. 

"Dan tidak lupa memiliki tim media sosial yang harus sejak dini aktif untuk menghadapi 2024," pungkasnya. (*)
Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »
Loading...