PILIHAN REDAKSI

Perbedaan Jadikan Kekuatan, Ansor Pasbar Gelar Seminar Nasional Moderasi Beragama

BENTENGSUMBAR.COM - Di tengah lesunya gerakan organisasi kepemudaan Islam di Kabupaten Pasaman Barat, Gerakan Pemuda Ansor tern...

Advertorial

Siap Jadi Entrepreneur, Santri Zaman Now Harus Sukses Dunia Akhirat

          Siap Jadi Entrepreneur, Santri Zaman Now Harus Sukses Dunia Akhirat
Siap Jadi Entrepreneur, Santri Zaman Now Harus Sukses Dunia Akhirat
BENTENGSUMBAR.COM - Pesantren merupakan salah satu akar sejarah pendidikan di Nusantara. Sebelum institusi pendidikan berdiri, pesantren telah melahirkan para santri yang melek pengetahuan. Tak hanya berbekal pengetahuan agama, mereka juga dibekali dengan ilmu-ilmu lainnya.

Pondok pesantren merupakan sistem pendidikan di mana murid, dalam hal ini disebut santri, tinggal dan belajar dalam sebuah pondokan. Mereka dibimbing oleh para guru yang biasanya dikenal dengan sebutan Kiai.

Istilah pondok pesantren di tiap daerah berbeda, misalnya di Jawa, Sunda, dan Madura menggunakan istilah pondok pesantren. Sementara itu di Aceh disebut sebagai dayah atau rangkang atau menuasa, sedangkan di Minangkabau disebut sebagai surau.

Hasani Ahmad Said dalam artikelnya di Jurnal Ibda menyebut pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Nusantara. Sejumlah sejarawan menyebut eksistensi pesantren terlebih dahulu hadir sebelum kedatangan bangsa Eropa di Nusantara pada abad ke-16. 

Istilah pesantren sendiri disebut-sebut merujuk pada tempat belajar bagi kaum intelektual Muslim yang dinamakan santri. Mereka mewarisi dan memelihara keberlanjutan tradisi keilmuan Islam sehingga sampai kepada dakwah Rasulullah SAW.

Sementara itu, dalam buku berjudul Tradisi Pesantren (2011), Zamakhsari Dhofier berpendapat genealogi istilah pondok pesantren. Pondok dari kata funduq yang dalam bahasa Arab berarti asrama. 

Kata pesantren sendiri memiliki akar kata santri. Dhofier lalu mengutip pendapat beberapa ahli sejarah, salah satunya Profesor Johns yang menyebutkan kata santri berasal dari bahasa Tamil dengan arti `guru.'

Sedangkan CC Berg berpendapat, santri berasal dari kata shastri atau cantrik yang dalam bahasa Sanskerta berarti orang yang mengetahui isi kitab suci atau orang yang selalu mengikuti guru. Adapun M Chaturverdi dan BN Tiwari menilai, kata ini berasal dari shastra yang berarti buku.

Elemen penting pesantren

Pondokan tersebut menciptakan suatu hubungan komunikatif antara santri dan kiai, juga antar santri dan santri lainnya. Hal ini berakibat pada timbulnya rasa kekeluargaan dan sikap saling menyayangi di antara mereka, yang juga menjadi elemen penting dari pondok pesantren hingga saat ini.

Sementar itu, elemen utama dalam sistem pendidikan pondokan adalah masjid. Bangunan ini merupakan pusat kegiatan belajar dan mengajar serta kegiatan keagamaan seperti sholat lima waktu, khotbah, dan sholat Jumat.

Masjid juga digunakan sebagai pusat kegiatan merupakan manifestasi dari sistem pendidikan Islam. Selain itu digunakannya masjid sebagai pusat kegiatan juga merupakan kesinambungan ajaran yang dibawa pada masa Nabi Muhammad SAW.

Adapun elemen lain dalam pendidikan pondok pesantren adalah pengajaran kitab-kitab klasik. Pengajaran kitab klasik ini tujuan utamanya adalah mendidik santri menjadi calon ulama yang setia terhadap pemahaman agama Islam. Pemahaman terkait kitab klasik sendiri tidak begitu jelas, namun pada umumnya kitab klasik ini populer dengan "kitab kuning".

Melahirkan santri-preneur

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy pernah berujar, pondok pesantren harus memiliki keterbukaan terhadap perkembangan dan kemajuan dunia, tanpa menghilangkan pendidikan keagamaan yang melekat sebagai dasar tradisi di pondok pesantren.

“Bagaimana pun tradisi itu jangan dihilangkan karena itu adalah kekuatan umat. Tapi kita juga tetap harus mendorong para santri untuk mempelajari keterampilan agar menjadi bekal mereka di dunia,” kata dia.

“Yang perlu diperkuat ke depan adalah membekali santri dengan keterampilan, terutama di bidang ekonomi atau entrepreneur. Jadi, alumni pesantren akan makin banyak yang jadi businessman,” lanjutnya.

Sementara itu, Deputi Bidang Koordinasi Pendidikan dan Agama Agus Sartono mengatakan, pondok pesantren bisa dijadikan sebagai media untuk penguatan sumber daya manusia. Selain memperkuat pondasi keagamaan, para santri juga harus diimbangi dengan kemampuan keterampilan.

“Pesantren bisa menjadi basis pengembangan ekonomi wilayah sekaligus menciptakan ketahanan ekonomi,” tuturnya.

Pada kesempatan sama, Ketua Umum Ikatan Pesantren Indonesia KH Zaini Ahmad berharap dukungan pemerintah ke depan akan dapat semakin mendorong aktualisasi peran dari para santri dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

“Kontribusi para santri dan alumni pesantren yang selama ini sudah ditunjukkan akan semakin nyata memberikan pengaruh terhadap kemajuan bangsa,” ucapnya.

Laporan: Mela
Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »
Loading...