PILIHAN REDAKSI

Luhut Dapat Tugas Baru dari Jokowi untuk Urus Minyak Goreng: Semoga Tidak Lama Bisa Terselesaikan

BENTENGSUMBAR.COM - Presiden Joko Widodo kembali menjadi memberikan tugas khusus Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Inv...

Advertorial

Mengenal Menhir Belubus di Nagari Sungai Talang Kabupaten Lima Puluh Kota

          Mengenal Menhir Belubus di Nagari Sungai Talang Kabupaten Lima Puluh Kota
Mengenal Menhir Belubus di Nagari Sungai Talang Kabupaten Lima Puluh Kota
KEBUDAYAAM megalitik merupakan istilah untuk menyebutkan kebudayaan yang menghasilkan bangunan-bangunan dari batu besar.

Mega berarti besar dan lithos berarti batu, kebudayaan megalitik selalu berdasarkan pada kepercayaan akan adanya hubungan antara yang telah meninggal dan mempunyai pengaruh kuat terhadap kesejahteraan dan kesuburan. 

Objek-objek batu yang berukuran kecil, dan bahan-bahan seperti kayu harus dimasukkan ke dalam klasifikasi megalitik bila benda-benda itu dipergunakan untuk tujuan sakral tertentu, yakni pemujaan kepada arwah nenek moyang (Soejono, 1990: 205).

Berdasarkan pembagian zamannya masa megalitik diperkirakan berada pada kisaran masa neolitik akhir dan berkembang ke masa perundagian, megalitik terbagi dua yaitu, masa megalitik tua yang diperkirakan dari 2500-1500 sebelum masehi bangunan yang identiknya berupa menhir, undak batu serta simbolis monumental pada era neolitik dan megalitik muda (Soejono, 1981).

Persebaran kebudayaan megalitik masuk ke Indonesia dibawa oleh Ras Kaukasia yang datang dari daerah Mediterania melalui Benua Asia bagian selatan (Prasetyo, 2015). Persebaran megalitik memberikan gambaran yang sangat luas dari Sumatera sampai Papua. 

Sumatera menjadi salah satu pulau yang memiliki situs megalitik paling banyak diantara semua pulau, mulai dari Sumatera bagian Utara, Nias, Sumatera bagian Barat, sumatera bagian Tengah, Sumatera bagian Selatan. Semua situs yang tersebar memiliki berbagai bentuk yang memiliki kesamaan dan mempunyai perbedaan sebagai tinggalan arkeologi (Budisantosa, 2012). 

Beberapa dari tinggalan megalitik beberapa ditemukan memiliki motif hias baik dalam posisi tegak maupun dalam posisi rebah. 

Masing-masing posisi megalit memiliki keunikan masing-masing yang dapat ditemukan di berbagai wilayah. Dominik Bonatz dkk mengelompokkan dalam dua tipe, yaitu tipe kerucut dan tipe silinder (Bonatz al, 2006).

Tinggalan arkeologi di dataran Tinggi Sumatera Barat, Khusunya Kabupaten Lima Puluh Kota yang masih terletak dalam gugusan Bukit Barisan yang membujur sepanjang pulau Sumatera.

Kabupaten Lima puluh Kota sangat kaya akan tinggalan budaya masa prasejarah khususnya tinggalan megalit yang berupa menhir atau biasa disebut dengan batu tegak. 

Menhir berasal dari kata Breton yaitu ‘men’ yang berarti batu dan ‘hir’ yang berarti berdiri dan secara keseluruhan berarti batu berdiri (Soejono, 1981c).

Jadi, menhir berarti batu tegak, yaitu sebuah batu panjang yang didirikan tegak, berfungsi sebagai batu peringatan dalam hubungan dengan pemujaan arwah leluhur. 

Dalam pengertian vademekum, menhir adalah batu tegak berlatar tradisi megalitik yang merupakan objek pemujaan. Umumnya ditancapkan dalam posisi tegak, namun demikian ada pula yang terlentang (Junus Satrio Atmojo, 1999: 25).

Situs-situs yang terdapat dari Kabupaten Lima Puluh Kota, contohnya situs menhir di Mahat, situs Menhir Guguak, situs Menhir Sungai Talang, situs Menhir Belubus, situs Menhir Talago, situs Menhir Kubang. 

Menhir dalam budaya megalitik disimpulkan memiliki fungsi utama berkaitan pemujaan arwah leluhur, beberapa diantaranya dengan bentuk yang sudah diolah lebih lanjut berkaitan dengan kegiatan kubur atau penguburan (Sukendar, 2013). 

Dari banyaknya situ-situs menhir di Sumatera Barat tersebut, salah satunya adalah Situs Menhir Belubus yang berada di Nagari Sungai Talang, Kabupaten Lima Puluh Kota. 

Nagari Sungai Talang merupakan satu dari lima nagari yang ada di Kecamatan guguak yang memiliki luas wilayah 13 km² yang merupakan nagari dengan luas wilayah nomor empat terbesar setelah Nagari Guguak VIII Koto, Nagari VII Koto Talago dan Nagari Kubang. Nagari Sungai Talang terdiri dari lima jorong. 

Jorong Belubus merupakan jorong yang paling luas di wilayah Nagari Sungai Talang.

Dari yang kita ketahui bahwa menhir adalah batu tunggal, biasanya berukuran besar, yang ditata seperlunya sehingga berbentuk tugu dan biasanya diletakkan berdiri tegak di atas tanah.

Pada situs ini terdapat kurang lebih 16 menhir yang masih berdiri dengan berbagai bentuk dan ukuran. Menhir daerah ini mempunyai bentuk khas yang menjadi menhir-menhir di Sumatera Barat pada umumnya.

Peninggalan megalitik ini merupakan data historis dan arkeologis untuk mengungkapkan kehidupan nenek moyang karena memiliki corak dan gaya tersendiri, terutama lengkungnya yang berbentuk tanduk kerbau. 

Namun, bukan tidak pernah terjadi pemugaran di situs ini, pemugaran dilakukan oleh proyek pemugaran dan pemeliharaan peninggalan sejarah dan purbakala Sumatera Barat pada tahun anggaran 1983/1984 dengan kegiatan pembersihan dan penertiban situs, pengokohan menhir, pembuatan jalan setapak serta pertamanan (Suparyanti, 2016).

Menhir atau batu tegak secara umum mempunyai tiga fungsi, yaitu batu tegak yang berfungsi dalam upacara penguburan, batu tega yang berfungsi dalam upacara pemujaan dan batu tegak yang tidak mempunyai fungsi religius (Sukendar, 1983: 100, Bidi Wiyana, 2008: 311). 

Menhir Belubus ini memiliki fungsi yang tidak hanya untuk pemujaan arwah nenek moyang, atau untuk upacara penguburan dan tanda kubur (makam) prasejarah, tetapi juga pada masa sekarang dimanfaatkan sebagai lokasi wisata budaya dan objek penelitian sejarah bagi pelajar, mahasiswa dan Lembaga riset sejarah dan arkeologi.

Menhir Belubus mengarah ke arah Gunung Sago itu dikarenakan ada kaitannya dengan kepercayaan masyarakat setempat. 

Seperti yang telah diketahui nenek moyang dahulu sebelum mengenal agama baik itu islam, hindu, budha menganut yang namanya kepercayaan animisme dan dinamisme. 

Nenek moyang dahulu percaya bahwa arwah mereka setelah meninggal akan berada dan menetap di dalam menhir (Suprayanti, 2016). 

Adanya kecenderungan keletakan menhir di atas bukit merefleksikan adanya penghargaan tertentu dari masyarakat untuk menghormati tempat-tempat yang tinggi, dan arah hadap menhir yang cenderung ke Gunung Sago merefleksikan gunung tersebut merupakan tempat yang dianggap suci.

*Ditulis Oleh: Sintia Hermayulita, Mahasiswa Jurusan Sastra Minangkabau Universitas Andalas.
Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »