Advertorial

Daerah

Laksamana: Petugas Partai vs Penyewa Partai, Mana yang Lebih Baik?

          Laksamana: Petugas Partai vs Penyewa Partai, Mana yang Lebih Baik?
Laksamana: Petugas Partai vs Penyewa Partai, Mana yang Lebih Baik?
BENTENGSUMBAR.COM - Pertentangan antara petugas partai vs penyewa (rental) partai, ini kini menyeruak ditengah masyarakat umum. Kalimat yang dipakai soal istilah petugas partai itu dikonsepsi-kan sesuatu yang negatif sehingga harus dijadikan sebagai bahan kampanye politik negatif, bagi yang tak paham. Seolah-olah kata petugas partai jelek atau buruk.

"Menurut saya, lebih berbahaya penyewa/ rental partai daripada petugas partai. Sebab petugas partai itu lebih punya moral tanggung jawab yang lebih besar daripada penyewa/ rental partai politik. Penyewa partai politik itu tidak punya beban tanggung-jawab kepada konstituen karena hanya penyewa partai politik,"kata Samuel F. Silaen Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara (Laksamana) di Jakarta, Sabtu (12/11).

Dikatakannya, parpol-parpol rental dan orang yang rental inilah hal yang tak baik untuk bangsa Indonesia sebab partai politik yang tidak punya kader unggul untuk didukung maju sebagai eksekutif dan legislatif dan seterusnya. Ini problem partai politik yang hanya sebagai pe-rental untuk kaum "berduit", "kritik alumni Lemhanas pemuda 2009 itu.

"Beda halnya sebagai petugas partai politik yang merupakan kader militan yang sudah teruji secara sosiologis dan klinis, serta mampu melakukan amanah bagi bangsa dan negara. Bahwa ini tugas partai politik yang sesungguhnya, menciptakan dan menyiapkan kader yang terampil dan profesional untuk menjadi pelayan bagi seluruh rakyat Indonesia, "papar Silaen.

Jika partai politik "stempel" tukang rental maka orang yang rental akan cuci tangan apabila ada kegagalan dalam melakukan janji kampanye politiknya.

"Orang/ ngerental yang hanya pinter "ngemeng" alias olah tata kata-kata yang manutnya kepada pemilik rental (cukong/ bohir). Pemimpin seperti itu bukan sebagai pelayan rakyat tapi pelayan cukong/ bohir. Jadi rakyat hanya dibutuhkan ketika kampanye politik tokh. Selesai terpilih maka janji tinggal janji alias abu nawas, "jelas mantan tenaga ahli fraksi DPR RI Senayan itu.

"Inilah wataknya perpolitikan rental yang hanya mau untung, guna mengembalikan biaya rental yang sudah dikeluarkan untuk membiayai kegiatan kampanye politiknya. Parpol yang miskin kader tentu saja akan menjadi parpol rental kepada siapapun yang berani bayar, "beber Silaen.

"Kader yang dimaksud sebagai petugas partai politik itu karena merupakan kader keras alias tanaman keras partai politik yang sudah digembleng dari nol sampai menjadi something else matters. Itulah yang dimaksudkan sebagai petugas partai politik yakni kader siap pakai yang sudah teruji secara ideologis,"ungkap aktivis organisasi kemasyarakatan pemuda (OKP) itu.

Dikatakannya, apabila ada orang yang me-ngenyek soal sosok figur petugas partai itu salah kaprah dan tidak mengerti maksudnya sebagai kader unggulan partai. 

"Naif apabila ada orang yang mengaku tokoh tapi miskin pemahaman tentang anggota (kader) partai politik yang sudah disiapkan untuk tugas- tugas negara sebagai sumber rekrutmen SDM yang berkualitas, "pungkas Silaen. (*)
Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »