Advertorial

Daerah

Terang-terangan! Anies Baswedan Lebih ‘Klop’ dengan AHY Dibanding Aher: Elektabilitas Ketum Demokrat Itu Lebih Tinggi!

          Terang-terangan! Anies Baswedan Lebih ‘Klop’ dengan AHY Dibanding Aher: Elektabilitas Ketum Demokrat Itu Lebih Tinggi!
Terang-terangan! Anies Baswedan Lebih ‘Klop’ dengan AHY Dibanding Aher: Elektabilitas Ketum Demokrat Itu Lebih Tinggi!
BENTENGSUMBAR.COM - Dibandingkan berpasangan dengan Wakil Ketua Majelis Syuro PKS Ahmad Heryawan alias Aher, menurut Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) Ujang Komarudin, Anies Baswedan lebih untung jika berpasangan dengan Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). 

Menurut Ujang, adapun hal yang menjadikan Aher tidak cocok dengan Anies adalah karena mantan Gubernur DKI Jakarta itu didukung oleh lawan politik yang anti radikal.

"Jadi kalau soal pilihan AHY lebih cocok dibandingkan Aher, itu kita bicara objektif seperti itu," ucap Ujang Komarudin saat melansir dari AKURAT.CO, Rabu (02/10/2022).

Dia menerangkan, Anies dengan AHY dirasa lebih cocok karena Partai Demokrat merupakan partai nasionalis dan kemungkinan masih bisa diterima oleh publik.

"Padahal kita tidak tahu (benar PKS dukung paham radikal), belum tentu gitu ya. Tapi itu tidak bagus itu akan membenarkan tuduhan lawan politik Anies bahwa Anies didukung PKS, dan PKS dianggap mendukung kelompok-kelompok garis keras," sambungnya.

"Lebih cocok memang anies AHY sama-sama muda ya, dan AHY elektabilitasnya lebih tinggi dibandingkan Aher," kata Ujang. 

Sementara itu, Ujang mengingatkan apabila kedua partai antara NasDem dan PKS saling berjibaku sama-sama ingin mengusung Cawapres, maka koalisi tiga partai ini berpotensi akan bubar.

"Enggak ada yang berkoalisi. Karena kalau salah satu misalkan Demokrat atau PKS tidak gabung salah satunya saja, kan tidak bisa kurang 20 persen (Partai NasDem)," jelasnya.

Dia menyarankan agar lebih baik ketiga partai ini bisa bersama-sama mematangkan bakal calon Wakil Presiden. 

Sementara bagi partai yang tidak mendapatkan suara bisa diberikan kompensasi.

"Jadi sejatinya harus kalau berkoalisi harus bijaksana harus mengalah, mana yang terbaik baru nanti yang kalah apa yang tidak dijadikan Cawapres misalkan ya harus dapet kompensasi, di perpolitikan seperti itu," pungkasnya.

Sumber: Wartaekonomi
Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »