| Permainan tradisional ini sudah 70 tahun malang melintang di Pariaman, menjadi bagian dari tradisi dalam setiap perayaan Lebaran Idul Fitri. |
Buayan Kaliang selalu hadir setiap tahunnya di hari raya Idul Fitri di lokasi yang mudah dicari.
Persis dekat pantai Gandoriah Pariaman, tepatnya di belakang Masjid Nurul Bahari, Kelurahan Pasir, Kecamatan Pariaman Tengah.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Pariaman Ferialdi, S.Pi, M.Si kepada Bentengsumbar.com, Kamis (26/3/2026) di Pariaman menyebutkan, Pemerintah Kota Pariaman masih peduli dan memfasilitasi Buaya Kaliang setiap usai lebaran Idul Fitri di kawasan Pantai Gandoriah ini.
“Sebagai permainan anak nagari yang menggunakan tenaga manusia, kita tetap melestarikannya. Di tengah gemburan permainan berteknologi, Buaya Kaliang masih ada generasi Pariaman yang melanjutkannya. Terkait lokasi yang saat ini berada di tengah ramainya pedagang, untuk keamanan dan kenyamanan pengunjung yang manfaatkan jasa Buayan Kaliang, ke depan akan dilakukan penataan yang lebih baik,” tutur Ferialdi.
Buayan Kaliang merupakan permainan tradisional anak nagari, yang terbuat dari rangka kayu terdiri dari kotak segi empat sebagai bangku atau tempat duduk penumpangnya.
Satu buayan digerakkan dengan tenaga manusia itu terdiri dari empat kotak penumpang.
Menurut Nurhayati (Mak Inun) pemilik Buayan Kaliang yang tinggal di Kampung Belacan Kecamatan Pariaman Tengah ini, Buayan Kaliang ini merupakan usaha turun temurun dari ayahnya (Abang Ayo) sebagai pengelola pertama permainan ini di Pariaman.
“Dulu usaha ini dikelola oleh ayah saya dengan 15 unit Buayan Kaliang. Setelah beliau meninggal maka usaha tersebut saya meneruskan sampai sekarang,” ungkap Mak Inun.
“Sekarang Buayan ini di Kota Pariaman hanya tiga unit yang bisa dimainkan karena keterbatasan tempat yang semakin sempit sehingga sisa dari buayan kaliang itu kami sebar di beberapa lokasi agar tetap bisa termanfaatkan dan menghasilkan,” jelasnya.
Untuk naik Buayan Kaliang penumpang harus merogoh kocek sebesar lima ribu rupiah per orang.
Satu kotak penumpang tersebut diisi sekitar empat sampai enam orang penumpang.
Jika sudah penuh Buayan Kaliang tersebut akan dihoyak atau diputar oleh enam orang tenaga manusia hingga kecepatan maksimal baru dilepaskan.
Mak Inun berharap kepada Pemerintah Kota Pariaman agar lokasi Buayan Kaliang sekarang jangan sampai dicor semen.
“Kalau bisa saya meminta kepada pemerintah Kota Pariaman lokasi yang ada sekarang jangan diberi cor semen. Biarlah tetap berlantai tanah agar kami bisa memasang tonggak kayu buayan tersebut dengan mudah,” ulas Mak Inun.
Salah seorang pengunjung yang berasal dari Sungai Geringging Kabupaten Padang Pariamn bernama Rini ketika diminta testimoninya mengatakan,
“Sampai sekarang saya masih suka naik Buayan Kaliang. Karena saya suka dengan tantangan yang bisa memicu adrenalin saya apalagi ketika sampai dipuncaknya. Tapi sekarang saya tidak sama teman-teman lagi, sekarang saya bisa ajak suami dan anak saya untuk menaikinya lagi,” katanya. (si/at)
Silakan baca konten menarik lainnya dari BentengSumbar.com di Google News
BERITA SEBELUMNYA
« Prev Post
« Prev Post
BERITA BERIKUTNYA
Next Post »
Next Post »