Kegiatan yang digelar selama dua hari itu bertempat di Kampus Universitas Andalas (UNAND) Limau Manis, Kecamatan Pauh, Kota Padang, Provinsi Sumbar. (Foto: Emil). |
Pada kesempatan ini kiranya jadi ajang kumpul aktivis Pers Mahasiswa (Persma), yang bernaung di Lembaga Pers Mahasiswa/LPM beberapa Kampus perguruan tinggi negeri/swasta atau PTN/PTS seantero Provinsi Sumbar atau se-Sumbar. Di antaranya, aktivis Persma, Suara Kampus (UIN Imam Bonjol Padang), SKK Ganto (Universitas Negeri Padang), Genta Andalas (Universitas Andalas/UNAND), Wawasan Proklamator (Universitas Bung Hatta/UBH), PersMedika (LPM Universitas PGRI Sumbar/Upgrisba), UIN Bukittinggi, Politani Payakumbuh dan DetakAlinea (FISIP UNAND).
Siaran pers AspemSumbar menyebutkan PJTM 2106 kali ini menjadi wadah peningkatan kapasitas insan pers mahasiswa untuk memahami praktik jurnalistik yang profesional, beretika, serta adaptif terhadap perkembangan ekosistem media digital.
Berbagai materi strategis diberikan kepada peserta guna memperkuat kompetensi
jurnalistik, mulai dari manajemen redaksi oleh Emil Mahmud (Pemimpin Redaksi/Penanggungjawab Kalibrasinews.com. Berikutnya, materi tentang kode etik jurnalistik dan hukum pers oleh Aulia Rizal (Direktur LBH Pers).
Lebih lanjut teknik kepenulisan mendalam indepth oleh Hendra Makmur (Jurnalis Senior), serta materi tentang video jurnalisme oleh Aidil Ichlas (Interes).
Pada sesi Manajemen Redaksi, materi yang disajikan menjelaskan pentingnya pengelolaan sumber daya manusia dalam organisasi pers melalui proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan untuk mencapai tujuan organisasi media secara efektif.
Ia menekankan bahwa sistem manajemen redaksi perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing institusi pers agar roda organisasi berjalan sesuai perencanaan dan target yang telah ditetapkan.
Struktur kerja redaksi yang terdiri atas Pemimpin Redaksi, Wakil Pemimpin Redaksi, Redaktur Pelaksana, Koordinator Liputan, redaktur rubrik, hingga reporter. Menurutnya, setiap posisi memiliki peran penting dalam menjaga kualitas produk jurnalistik.
Ia turut menyoroti pentingnya peran copy editor sebagai pemeriksa akhir naskah sebelum dipublikasikan guna memastikan ketepatan bahasa dan meminimalkan kesalahan dalam produk jurnalistik.
Selain aspek keredaksian, peserta juga memperoleh pemahaman mengenai kode etik jurnalistik dan hukum pers. Dalam sesi ini ditekankan bahwa kebebasan pers harus diiringi dengan tanggung jawab etik dalam proses peliputan dan pemberitaan.
Wartawan dituntut menghormati hak privasi nara-sumber, menjaga akurasi informasi, serta menjunjung prinsip kehati-hatian dalam menyampaikan informasi kepada publik.
Pembahasan turut menyoroti pentingnya hak jawab dan hak koreksi sebagai bentuk
perlindungan bagi masyarakat yang merasa dirugikan akibat pemberitaan. Di tengah derasnya arus informasi digital, verifikasi fakta dan tanggung jawab editorial menjadi semakin penting untuk mencegah penyebaran hoaks, fitnah, ujaran kebencian, maupun konten diskriminatif.
Peserta juga diajak memahami berbagai tantangan yang masih dihadapi dunia pers
Indonesia, seperti intimidasi, kekerasan, pelecehan, sensor, kriminalisasi, hingga tuntutan hukum terhadap jurnalis.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perlindungan terhadap kerja jurnalistik dan kebebasan pers masih menjadi agenda penting dalam memperkuat demokrasi dan keterbukaan informasi di Indonesia.
Penguatan kompetensi teknis dilakukan melalui materi teknik kepenulisan indept
menjelaskan bahwa liputan mendalam (indepth reporting) merupakan metode peliputan yang bertujuan menggali, menganalisis, dan menyajikan informasi secara lebih komprehensif dibandingkan berita langsung.
Proses liputan mendalam dilakukan secara sistematis melalui penentuan topik, riset
awal, penyusunan rencana peliputan, pengumpulan data, analisis dan verifikasi temuan, hingga proses penulisan serta evaluasi karya jurnalistik.
Peserta juga diperkenalkan pada berbagai bentuk karya jurnalistik, seperti news analysis, explainer, feature, investigative report, datadriven report, hingga solution report.
Sementara itu, pada materi; Menjadi video jurnalisme yang menyoroti pentingnya
kemampuan jurnalis dalam memanfaatkan kekuatan gambar dan suara untuk menyampaikan informasi secara efektif.
Penjelasan mengenai perkembangan teknologi memungkinkan jurnalis menghasilkan karya audio visual berkualitas dengan memanfaatkan telepon pintar, asalkan didukung pemahaman mengenai teknik videografi, komposisi gambar, etika visual, serta aspek keselamatan saat peliputan.
Proses produksi berita audio visual dimulai dari tahap pra-produksi melalui riset, penentuan isu, penyusunan sudut pandang liputan, pemilihan narasumber, hingga penyusunan shot list dan script outline.
Tahapan tersebut kemudian dilanjutkan dengan proses produksi dan pascaproduksi melalui pengambilan gambar, wawancara, penyuntingan video dan audio, serta penyempurnaan naskah sebelum dipublikasikan.
Melalui PJTM 2026, ASPEM Sumbar berharap insan pers mahasiswa mampu
meningkatkan kapasitas profesional, memperkuat komitmen terhadap etika jurnalistik, serta lebih siap menghadapi tantangan media digital yang terus berkembang.
Kegiatan ini menjadi
bagian dari upaya ASPEM Sumbar dalam mendukung terciptanya pers mahasiswa yang kritis, independen, dan bertanggung jawab dalam menjalankan fungsi jurnalistik di lingkungan kampus serta masyarakat.
Sebelumnya, pada hari pertama PJTM 2026 ini, dilanjutkan dengan Diskusi Publik dan Sarasehan bersama seluruh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) se-Sumatera Barat.
Rangkaian acara ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas jurnalis mahasiswa serta mendorong dukungan institusional kampus terhadap kebebasan pers mahasiswa.
Diskusi Publik bertajuk “Peran dan Dukungan Institusional Kampus terhadap Pengembangan Pers Mahasiswa” diselenggarakan pada hari pertama PJTM, Jumat, 12 Juni 2026, bertempat di Seminar PKM Lt. 1 Universitas Andalas, dimulai pukul 08:00 WIB hingga selesai.
Acara ini menjadi forum penting untuk membahas tantangan dan peluang pers mahasiswa dalam ekosistem kampus. Diskusi ini menghadirkan narasumber-narasumber terkemuka di bidangnya:
Mona Triana dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Padang, yang berbagi perspektif tentang peran jurnalisme independen.
Dr. Harry Efendi Iskandar S.S., M.A., Kepala Kantor Humas, Protokoler, dan Layanan Informasi, yang menjelaskan pentingnya komunikasi dan dukungan institusional.
Dr. Eng. Dendi Adi Saputra S.T., M.T., Direktur Kemahasiswaan Universitas Andalas, yang memaparkan kebijakan dan dukungan universitas terhadap kegiatan mahasiswa, termasuk pers mahasiswa.
Rangga Zamahendra, Ketua BidangAdvokasi ASPEM Sumbar, yang menyuarakan aspirasi
dan tantangan yang dihadapi LPM di Sumatera Barat. (*)
Silakan baca konten menarik lainnya dari BentengSumbar.com di Google News
BERITA SEBELUMNYA
« Prev Post
« Prev Post
BERITA BERIKUTNYA
Next Post »
Next Post »