6.000 Guru dan Dosen Lulus Program AI, ParagonCorp: Peran Pendidik Justru Makin Penting

6.000 Guru dan Dosen Lulus Program AI, ParagonCorp: Peran Pendidik Justru Makin Penting
Penutupan Inspiring Educators 2026 yang digelar ParagonCorp di Jakarta Concert Hall, Sabtu (26/9/2026). (Foto: Eko). 

BENTENGSUMBAR.COM
- Kecerdasan buatan (AI) kini mampu menyusun rencana pembelajaran dalam hitungan detik. Namun, di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat, peran guru dan dosen justru dinilai semakin penting dalam membentuk karakter, cara berpikir, hingga keberanian generasi muda.

Pesan tersebut mengemuka dalam penutupan Inspiring Educators 2026 yang digelar ParagonCorp di Jakarta Concert Hall, Sabtu (26/9/2026). Sebanyak 6.000 pendidik, terdiri dari 5.000 guru dan 1.000 dosen, dinyatakan lulus dari program Wardah Inspiring Teacher (WIT) dan Inspiring Lecturer Program (ILP) 2026.

Komisaris ParagonCorp Salman Subakat mengatakan, AI memang dapat membantu peserta didik memperoleh pengetahuan dengan cepat. Namun, teknologi tidak serta-merta menggantikan peran pendidik dalam membangun karakter dan daya juang.

“AI bisa membantu murid mendapatkan knowledge. Tetapi pendidik membantu murid membangun cara berpikir, karakter, keberanian, dan daya juang,” kata Salman di hadapan sekitar 1.000 guru, dosen, dan pegiat pendidikan.

Untuk menunjukkan kemampuan AI, Salman bahkan memperagakan langsung teknologi tersebut di atas panggung. AI diminta menyusun kurikulum selama enam bulan bagi siswa sekolah dasar di daerah terdampak bencana, lengkap dengan rencana pembelajaran, asesmen, dan materi yang disesuaikan dengan kemampuan anak.

Hasilnya muncul dalam hitungan detik. Demonstrasi itu sekaligus menggambarkan bagaimana teknologi dapat mengubah cara kerja pendidik. Namun, menurut Salman, kemudahan tersebut tidak seharusnya membuat guru merasa kehilangan relevansi.

“Jangan sampai perubahan zaman maupun berbagai tantangan membuat seorang pendidik lupa betapa penting dirinya,” ujarnya.

Satu Nilai 10 yang Mengubah Kepercayaan Diri

Salman kemudian membagikan pengalaman yang menurutnya menggambarkan kekuatan seorang guru. Hampir 30 tahun lalu, guru Fisika SMA-nya, Yani Bayani, memberinya nilai 10 di rapor.

Bagi Salman, nilai tersebut bukan sekadar angka. Kepercayaan dari sang guru membuat dirinya berani mengajari teman-temannya, mengikuti lomba mewakili sekolah hingga mendaftar ke Institut Teknologi Bandung (ITB).

“Yang berkesan itu bukan karena angkanya. Tapi karena di balik angka itu ada sebuah pesan: saya percaya kamu bisa,” tuturnya.

Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak hanya berkaitan dengan transfer pengetahuan. Pendidik juga memiliki peran dalam mengubah pengetahuan menjadi kebijaksanaan, sekaligus mendorong peserta didik berani melihat kemungkinan yang lebih besar.

6.000 Pendidik Dibekali Kemampuan AI

Program WIT 2026 tidak hanya berfokus pada pembelajaran berbasis proyek yang berpusat pada murid. Para guru juga mendapatkan pembekalan mengenai berpikir komputasional dan pemanfaatan AI dalam pembelajaran.

Pada 2026, WIT tercatat menarik 31.000 pendaftar. Dari jumlah tersebut, 25.000 guru mengikuti program, 10.000 di antaranya menjalankan proyek implementasi di sekolah, dan 5.000 guru dinyatakan lulus.

Sementara itu, ILP melibatkan 5.000 dosen, dengan 1.000 peserta dinyatakan lulus. Kedua program tersebut berlangsung selama enam bulan.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Prof. Abdul Mu'ti, yang hadir dalam acara tersebut, menekankan bahwa tugas guru bukan sekadar menyampaikan materi pelajaran.

Menurutnya, pendidik perlu menjadi sosok yang mencintai murid dan ilmu sekaligus mampu memberikan inspirasi dalam proses belajar.

“Kalau Bapak/Ibu ingin menjadi guru, jadilah orang yang cinta murid dan cinta ilmu. Mendidik itu adalah menginspirasi,” kata Abdul Mu'ti.

Ia juga mengingatkan bahwa guru merupakan pembelajar yang harus terus berkembang bersama peserta didiknya. Karena itu, proses pendidikan membutuhkan keterlibatan aktif guru dalam proses belajar, bukan sekadar menyampaikan materi.

Dari 30 Guru Menjadi Lebih dari 43.000 Pendidik

Perjalanan WIT sendiri telah berlangsung sejak 2017. Program tersebut pertama kali dimulai di Yogyakarta dengan hanya melibatkan 30 guru.

Hingga 2026, WIT telah membersamai lebih dari 36.000 guru dari berbagai jenjang pendidikan di Indonesia. Program tersebut kemudian diperluas ke pendidikan tinggi melalui ILP yang dimulai pada 2021.

Hingga 2026, ILP telah menjangkau lebih dari 7.000 dosen di Indonesia. Secara keseluruhan, WIT dan ILP telah menjangkau lebih dari 43.000 guru dan dosen di 38 provinsi.

Jejaring tersebut juga terhubung dengan lebih dari 10.000 sekolah, universitas, dan institusi pendidikan di Indonesia.

Bagi ParagonCorp, keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah peserta yang lulus. Dampak yang diharapkan justru muncul ketika para pendidik membawa pengalaman dan pengetahuan dari program tersebut ke sekolah, kampus, serta komunitas masing-masing.

“Satu pendidik bisa mempengaruhi banyak murid. Dan satu pendidik yang menginspirasi pendidik lain bisa mempengaruhi jauh lebih banyak anak Indonesia,” ujar Salman.

Alumni Terhubung dalam 30 Komunitas

Perjalanan para pendidik juga tidak berhenti setelah program berakhir. Alumni WIT dan ILP saat ini terhubung melalui 30 komunitas alumni yang menjadi ruang untuk bertukar pengalaman, berbagi praktik baik, serta mengembangkan berbagai inisiatif pendidikan.

Ekosistem tersebut juga diperkuat melalui jejaring digital yang telah memiliki lebih dari 116.000 pengikut. Dengan jejaring tersebut, pendidik dari berbagai daerah dapat terus bertukar pengalaman dan pembelajaran.

Salman mengatakan, pembangunan pendidikan membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Pemerintah memiliki peran penting, tetapi pendidik berada di garis depan karena setiap hari berhadapan langsung dengan peserta didik.

“Peran ParagonCorp adalah membersamai perjalanan Bapak dan Ibu pendidik—memberikan ruang untuk belajar, bertumbuh, dan saling menginspirasi, sehingga dampaknya dapat terus bergerak dan menjangkau lebih banyak anak Indonesia,” ujarnya.

Graduation WIT dan ILP 2026 akhirnya bukan sekadar seremoni kelulusan bagi 6.000 guru dan dosen. Momentum tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang untuk memperkuat kapasitas pendidik menghadapi perubahan teknologi, termasuk perkembangan AI.

Di tengah teknologi yang mampu menyediakan informasi semakin cepat, pendidikan tetap membutuhkan manusia yang mampu membantu anak-anak menemukan potensi, membangun karakter, berani bermimpi, dan menggunakan pengetahuan untuk menciptakan manfaat.

Sebab, masa depan pendidikan bukan hanya tentang seberapa canggih teknologi yang digunakan, tetapi juga tentang siapa yang mendampingi generasi muda untuk tumbuh dan berani menghadapi masa depan. (*) 

Laporan: Eko
Editor: Zamri Yahya, WU

Silakan baca konten menarik lainnya dari BentengSumbar.com di Google News
BERITA SEBELUMNYA
« Prev Post
BERITA BERIKUTNYA
Next Post »