| Al-Qur'an mengingatkan tentang kondisi hati yang demikian melalui Surat Al-Baqarah ayat 7. (Foto: Int). |
Al-Qur'an mengingatkan tentang kondisi hati yang demikian melalui Surat Al-Baqarah ayat 7:
“Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka. Pada penglihatan mereka ada penutup, dan bagi mereka azab yang sangat berat.”
Ayat ini berbicara tentang orang-orang yang menolak kebenaran. Dalam penjelasan tafsir Ibn Kathir, kata khatama menggambarkan “penutupan” atau “penguncian” terhadap hati dan pendengaran, sementara penglihatan mereka tertutup dari petunjuk. Para ulama tafsir juga menjelaskan hubungan kondisi tersebut dengan sikap terus-menerus berada dalam kebatilan dan dosa.
Namun, ayat ini bukan sekadar peringatan tentang orang lain. Ia juga layak menjadi bahan muhasabah bagi setiap Muslim.
Sebab, Al-Qur'an menggambarkan bahwa hati manusia dapat mengalami perubahan. Dalam Surat Al-Muthaffifin ayat 14, Allah berfirman bahwa hati mereka tertutup oleh ran akibat apa yang mereka kerjakan.
Dalam tafsir yang dinukil Ibn Kathir, Mujahid menjelaskan bahwa dosa dapat mengelilingi hati hingga akhirnya menjadi seperti “cap” atau penutup. Ibn Kathir juga mengaitkannya dengan hadis tentang noda hitam yang muncul pada hati ketika seseorang melakukan dosa. Jika ia bertobat, noda tersebut dibersihkan; jika dosa terus dilakukan, noda itu bertambah.
Bukan Sekali Berbuat Dosa, Lalu Hati Langsung Terkunci
Gambaran tersebut penting untuk dipahami. Setiap manusia dapat melakukan kesalahan. Islam membuka pintu taubat dan perbaikan.
Yang perlu ditakutkan adalah ketika dosa tidak lagi membuat seseorang merasa bersalah, nasihat tidak lagi diterima, dan kebenaran justru dianggap sebagai sesuatu yang mengganggu kepentingannya.
Rasulullah SAW menggambarkan kondisi hati dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Sahih Muslim. Beliau menjelaskan bahwa berbagai fitnah atau cobaan ditawarkan kepada hati manusia secara bertahap. Hati yang menerimanya akan mendapatkan noda hitam, sedangkan hati yang menolaknya mendapatkan tanda putih. Pada akhirnya, hadis tersebut menggambarkan dua keadaan hati: hati yang tetap bersih dan hati yang menjadi gelap sehingga tidak lagi mengenali kebaikan sebagai kebaikan dan kemungkaran sebagai kemungkaran.
Pesannya sangat dalam: kerusakan hati dapat berlangsung sedikit demi sedikit.
Bukan selalu datang dalam satu malam.
Hari ini seseorang mungkin merasa biasa ketika melakukan dosa kecil. Besok ia mengulanginya. Setelah itu, nasihat mulai dianggap berlebihan. Lama-kelamaan, sesuatu yang dahulu membuat hati gelisah justru tidak lagi terasa sebagai masalah.
Di sinilah seorang Muslim perlu berhati-hati.
Ketika Dosa Mulai Terasa Biasa
Al-Qur'an tidak hanya berbicara tentang hati yang tertutup. Dalam Surat Al-Anfal ayat 24, Allah menyeru orang-orang beriman agar memenuhi seruan Allah dan Rasul ketika mereka dipanggil kepada sesuatu yang memberikan kehidupan kepada mereka.
Pesan tersebut menunjukkan bahwa kehidupan sejati bukan hanya berkaitan dengan tubuh yang masih bernapas. Ada kehidupan hati yang membutuhkan petunjuk Allah.
Sementara dalam Surat Al-Hadid ayat 16, orang-orang beriman diingatkan agar hati mereka menjadi khusyuk ketika mengingat Allah dan menerima kebenaran yang telah diturunkan.
Ayat ini menjadi pengingat bahwa hati juga perlu dijaga.
Sebagaimana tubuh membutuhkan makanan, hati membutuhkan iman, zikir, ilmu, amal saleh, dan nasihat.
Jangan Merasa Aman dari Perubahan Hati
Salah satu doa yang diajarkan Nabi Muhammad SAW adalah:
“Yā muqallibal-qulūb, tsabbit qalbī ‘alā dīnik.”
Artinya: “Wahai Dzat Yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”
Doa tersebut menunjukkan bahwa seorang beriman tidak seharusnya merasa dirinya sudah pasti aman dari perubahan hati. Dalam penjelasan tafsir Al-Baqarah ayat 7, doa tentang keteguhan hati ini juga dinukil dalam pembahasan para ulama.
Karena itu, ketika seseorang membaca ayat tentang hati yang terkunci, pertanyaan terpenting bukanlah, “Siapa yang dimaksud ayat ini?”
Tetapi:
“Bagaimana kondisi hatiku sendiri?”
Apakah masih mudah tersentuh ketika mendengar ayat Al-Qur'an?
Apakah masih merasa bersalah setelah melakukan dosa?
Apakah masih mau menerima nasihat meskipun datang dari orang yang tidak kita sukai?
Apakah kita mampu mengakui kesalahan ketika kebenaran datang?
Atau justru hati semakin keras karena terlalu sering membenarkan diri sendiri?
Tanda yang Patut Ditakuti Bukan Hanya Banyaknya Dosa
Banyaknya dosa memang merupakan perkara serius. Namun, salah satu bahaya yang perlu direnungkan adalah ketika dosa tidak lagi membuat seseorang ingin kembali kepada Allah.
Tafsir Ibn Kathir atas Al-Baqarah ayat 7 mengutip penjelasan ulama terdahulu mengenai dosa yang terus dilakukan hingga menutupi hati. Ia juga menghubungkannya dengan hadis tentang noda pada hati dan dengan firman Allah mengenai ran dalam Al-Muthaffifin ayat 14.
Artinya, seorang Muslim tidak cukup hanya bertanya berapa banyak dosa yang telah dilakukan.
Ia juga perlu bertanya:
Apakah setelah melakukan dosa, hati masih ingin kembali kepada Allah?
Jika masih ada rasa takut, penyesalan, dan keinginan untuk bertobat, jangan pernah menunda untuk kembali.
Sebab, hati yang masih ingin kembali adalah nikmat yang harus dijaga.
Jangan Tunggu Hati Benar-Benar Keras
Al-Baqarah ayat 7 ditutup dengan peringatan tentang azab yang sangat berat. Peringatan tersebut menunjukkan betapa seriusnya persoalan penolakan terhadap kebenaran.
Namun bagi seorang Muslim yang sedang membaca ayat ini, pesan terpentingnya bukan untuk sibuk menunjuk orang lain.
Ayat ini justru dapat menjadi alarm untuk diri sendiri.
Ketika hati mulai sulit menerima nasihat, segera evaluasi.
Ketika dosa mulai terasa biasa, segera berhenti.
Ketika Al-Qur'an tidak lagi menyentuh hati, kembali mendekat kepada Allah.
Ketika kesalahan selalu dibela, belajar kembali merendahkan hati.
Sebab hati manusia tidak terlihat oleh mata, tetapi dari hatilah lahir perkataan, sikap, dan perbuatan.
Dan sebelum hati benar-benar tertutup, masih ada kesempatan untuk kembali.
Mungkin karena itu, pertanyaan paling penting setelah membaca Al-Baqarah ayat 7 bukanlah “siapa mereka?” Melainkan “jangan-jangan saya sedang berjalan ke arah yang sama?” (*)
Silakan baca konten menarik lainnya dari BentengSumbar.com di Google News
BERITA SEBELUMNYA
« Prev Post
« Prev Post
BERITA BERIKUTNYA
Next Post »
Next Post »