| Islam tidak mengajarkan umatnya untuk mengharamkan sesuatu yang telah Allah SWT halalkan. Pesan itu ditegaskan dalam Surah Al-Maidah ayat 87. (Foto: Int). |
Ayat tersebut mengandung pesan penting bahwa kehidupan seorang Muslim harus berjalan dalam keseimbangan. Menikmati makanan yang halal, mencari rezeki, beristirahat, membangun rumah tangga dan menikmati berbagai karunia Allah SWT bukanlah sesuatu yang tercela selama dilakukan sesuai ketentuan syariat. Yang menjadi persoalan bukan kenikmatannya, melainkan ketika manusia melampaui batas atau menggunakan kenikmatan tersebut untuk bermaksiat.
Rasulullah SAW juga pernah mengingatkan sejumlah sahabat yang berniat menjalankan ibadah secara berlebihan. Ada yang ingin terus salat malam dan tidak tidur, ada yang hendak berpuasa setiap hari, dan ada pula yang berniat meninggalkan pernikahan. Rasulullah SAW kemudian menjelaskan bahwa beliau sendiri berpuasa dan berbuka, salat malam sekaligus tidur, serta menikah. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, beliau bersabda, “Barang siapa yang tidak menyukai sunnahku, maka ia bukan termasuk golonganku.”
Pesan Rasulullah SAW tersebut menunjukkan bahwa kesalehan tidak diukur dari seberapa jauh seseorang menyiksa dirinya atau meninggalkan sesuatu yang halal. Islam justru mengajarkan keseimbangan antara ibadah kepada Allah, menjaga tubuh, memenuhi kebutuhan keluarga, bekerja mencari nafkah, serta menjalankan tanggung jawab sosial. Setiap hak memiliki tempatnya, dan semuanya harus dijalankan secara proporsional.
Para ulama tafsir juga memberikan perhatian terhadap larangan dalam ayat tersebut. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah SWT melarang hamba-Nya mengharamkan berbagai perkara baik yang telah dihalalkan-Nya. Larangan itu sekaligus menjadi peringatan agar manusia tidak berlebih-lebihan dalam menjalankan agama dengan menetapkan bagi dirinya sesuatu yang tidak ditetapkan Allah SWT dan Rasul-Nya.
Dalam kehidupan sehari-hari, pesan ini sangat relevan. Jangan sampai seseorang begitu sibuk mengejar dunia hingga melupakan akhirat. Namun sebaliknya, jangan pula seseorang meninggalkan tanggung jawab dunia dengan alasan ingin sepenuhnya beribadah. Islam mengajarkan jalan tengah: dunia dijalani sebagai amanah, sementara akhirat menjadi tujuan. Rezeki dinikmati dengan syukur, ibadah dilaksanakan dengan ikhlas, dan seluruh aktivitas dijaga agar tidak keluar dari batas yang Allah SWT tetapkan.
Pada akhirnya, Surah Al-Maidah ayat 87 mengajarkan satu prinsip sederhana namun mendalam: jangan mengubah yang halal menjadi haram, dan jangan mengubah kebebasan menjadi alasan untuk melampaui batas. Seorang Muslim dipanggil untuk menikmati karunia Allah dengan rasa syukur sekaligus menjaga diri dari kesombongan, pemborosan dan kemaksiatan. Di situlah keseimbangan hidup menemukan maknanya—menjalani dunia tanpa kehilangan arah menuju akhirat. (*)
Silakan baca konten menarik lainnya dari BentengSumbar.com di Google News
BERITA SEBELUMNYA
« Prev Post
« Prev Post
BERITA BERIKUTNYA
Next Post »
Next Post »