| Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah saat meninjau langsung pembangunan Fly Over Sitinjau Lauik, Kamis (17/9/2026). (Foto: Cen). |
Kabar perkembangan itu disampaikan Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah saat meninjau langsung pembangunan Fly Over Sitinjau Lauik, Kamis (17/9/2026). Bersama pihak Hutama Karya dan Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN), Mahyeldi melihat perkembangan pekerjaan sekaligus mendengarkan paparan teknis terkait tahapan konstruksi.
“Alhamdulillah dengan dukungan semua pihak, untuk masalah tanah sudah selesai. Berarti sekarang HPSL selaku pelaksana sudah bergerak untuk pembangunan fisik. Dan sekarang ini progresnya cukup menggembirakan,” kata Mahyeldi.
Di balik proyek yang kini mulai bergerak itu, tersimpan pekerjaan konstruksi yang tidak sederhana. Tim teknis menjelaskan, Jembatan 3 dan Jembatan 4 memiliki karakter desain berbeda, termasuk konstruksi melengkung dengan bentang sekitar 180 meter serta konstruksi cable-stayed dengan bentang sekitar 300 meter.
“Ini suatu hal yang tidak sederhana. Alhamdulillah dari pelaksana dan juga tim yang ahli-ahli, mereka ini luar biasa. Ini suatu kebanggaan juga bagi kita,” ujar Mahyeldi, menyoroti kompleksitas sekaligus kemampuan teknis yang dibutuhkan dalam pengerjaan proyek tersebut.
Bagi Sumbar, Fly Over Sitinjau Lauik bukan sekadar bangunan beton dan baja yang membentang di kawasan perbukitan. Infrastruktur ini diarahkan untuk menjawab persoalan keselamatan dan kelancaran lalu lintas di jalur yang selama ini menjadi salah satu titik menantang bagi kendaraan, terutama angkutan logistik.
PPK Sitinjau Lauik, Risma, yang mewakili pihak Balai, menjelaskan proyek tersebut dilaksanakan melalui skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU). Dalam skema ini, badan usaha tidak hanya berperan dalam pembiayaan pembangunan, tetapi juga dalam operasional dan pemeliharaan infrastruktur selama masa layanan.
Salah satu titik yang menjadi perhatian adalah Tikungan Panorama 1. Kawasan tersebut memiliki radius tikungan kecil dan kemiringan yang cukup tinggi, sehingga menjadi tantangan tersendiri bagi kendaraan yang melintas. Kehadiran fly over diharapkan dapat meningkatkan keselamatan sekaligus memperlancar arus kendaraan.
Setelah pengadaan tanah yang sebelumnya sempat terkendala akhirnya terselesaikan, pekerjaan konstruksi kini memiliki ruang yang lebih luas untuk digenjot. Penyesuaian jadwal kerja sama pun telah dilakukan, dengan target penyelesaian konstruksi ditetapkan pada Mei 2028.
“Dengan tuntasnya pembebasan lahan ini, kami optimis pembangunan akan berjalan lebih optimal. Target kita ini tuntas Mei 2028,” ujar Risma.
Mahyeldi pun menggarisbawahi satu hal yang dianggap menjadi kunci dalam pembangunan: sinergi. Ia mengapresiasi kontribusi HPSL, Kementerian Pekerjaan Umum, Agrinas, DPR RI, pemerintah kabupaten dan kota, jajaran teknis hingga masyarakat yang ikut mendukung kelancaran proyek.
“Semangat kebersamaan ini harus dikembangkan. Jangan ada yang mengatakan bahwasanya ini adalah hasil saya, karena semuanya adalah hasil kerja bersama dan sinergi banyak pihak,” tegas Mahyeldi.
Menurut Mahyeldi, pengalaman menyelesaikan persoalan lahan dalam proyek ini juga menunjukkan pentingnya komunikasi dengan masyarakat. Ia menilai pembangunan akan lebih mudah bergerak ketika masyarakat merasa dihargai dan dilibatkan sejak awal. Dengan koordinasi yang terus dijaga, Fly Over Sitinjau Lauik diharapkan menjadi infrastruktur yang memperkuat keselamatan, konektivitas, mobilitas masyarakat, sekaligus memperlancar distribusi logistik di Sumatera Barat.(adpsb/cen).
Silakan baca konten menarik lainnya dari BentengSumbar.com di Google News
BERITA SEBELUMNYA
« Prev Post
« Prev Post
BERITA BERIKUTNYA
Next Post »
Next Post »