| Inisiatif ini merupakan yang pertama se-Sumatera Barat, lahir berkat kolaborasi antara PT Tirta Investama AQUA Solok dan PKBI Sumatera Barat. (Foto: Diskominfo). |
Inisiatif ini merupakan yang pertama se-Sumatera Barat, lahir berkat kolaborasi antara PT Tirta Investama AQUA Solok dan PKBI Sumatera Barat, sekaligus menjadi bukti nyata sinergi multipihak dalam menjaga lingkungan dan membangun ekonomi sirkular.
Kegiatan ini menegaskan bahwa keterbatasan sumber daya pemerintah bukan penghalang berjalannya agenda lingkungan.
Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Kabupaten Solok Zaitul Ikhlas menjelaskan, kondisi justru mendorong lahirnya model kerja sama yang lebih kokoh.
“Dunia usaha dan organisasi masyarakat sipil hadir sebagai mitra, bergerak bersama memperkuat kelembagaan, membangun kapasitas, serta menghadirkan inovasi hingga ke tingkat komunitas,” ujarnya.
Hingga tahun 2026, Kabupaten Solok telah memiliki 1 Bank Sampah Induk dan 11 Bank Sampah Unit yang aktif melakukan pemilahan, pengumpulan, hingga pemanfaatan kembali sampah.
Hal ini menunjukkan kesadaran masyarakat sudah tumbuh, namun masih diperlukan wadah penyatuan visi dan koordinasi agar gerakan ini makin terarah dan berkelanjutan.
Kepala Pabrik AQUA Solok Deden menyampaikan harapan besar terhadap kehadiran forum ini.
“Forum Bank Sampah Kabupaten Solok menjadi ruang bersama untuk menyatukan langkah, memperkuat kemampuan, dan menjalin komunikasi antarpengelola. Tujuannya jelas: menurunkan volume sampah yang berakhir di Tempat Pembuangan Akhir, sekaligus memberi nilai guna lebih tinggi bagi sampah yang dikelola,” tegasnya.
Sebagai mitra pendamping, Sekretaris PKBI Sumatera Barat Firdaus Jamal menambahkan, penguatan kelembagaan ini bukan sekadar urusan teknis, melainkan upaya mengubah pola pikir masyarakat.
“Kami ingin sampah dipandang bukan lagi sebagai beban, melainkan sumber daya yang bernilai ekonomi,” ujarnya.
Dalam rangkaian acara digelar diskusi bertiga perspektif: Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Solok menguraikan arah kebijakan dan kolaborasi menuju daerah bebas sampah; Program Manager Susdev Danone Indonesia memaparkan penerapan ekonomi sirkular dan tanggung jawab dunia usaha; serta pakar Teknik Lingkungan Universitas Andalas mengangkat peran inovasi dan pengelolaan dari sumber terbawah.
Dengan dikukuhkannya forum pertama ini, Kabupaten Solok kini menjadi contoh bahwa pengelolaan sampah tidak harus sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah semata.
Sinergi lintas pihak — mulai pemerintah, dunia usaha, lembaga masyarakat, akademisi, hingga warga — menjadi kunci utama mewujudkan gerakan lingkungan yang mandiri, berdaya, dan lestari.(80)
Silakan baca konten menarik lainnya dari BentengSumbar.com di Google News
BERITA SEBELUMNYA
« Prev Post
« Prev Post
BERITA BERIKUTNYA
Next Post »
Next Post »