Detik-detik Terakhir Perlawanan Sultan Taha Syaifuddin

Detik-detik Terakhir Perlawanan Sultan Taha Syaifuddin
26 April 1904 menjadi penutup perjalanan hidup Sultan Taha Syaifuddin. (Foto Ilustrasi: Marjafri). 

PADA
April 1904, hutan pedalaman Jambi perlahan berubah menjadi lingkaran pengepungan.

Dari Muara Tebo, Penapalan, Remaji, Pelayangan hingga Betung Bedarah, gerakan pasukan berlangsung hampir bersamaan. Sungai menjadi jalur pergerakan, jalan setapak menjadi petunjuk, sementara rimba yang rapat menyembunyikan sebuah rahasia: di suatu tempat di antara aliran Sungai Besar dan anak-anak sungainya, Sultan Taha Syaifuddin masih bertahan.

Belum ada kepastian mengenai tempat persembunyian itu. Hanya dua kemungkinan yang berhasil dipetakan. Kedua tempat tersebut ditandai sebagai titik A dan B, masing-masing berada di sebelah barat laut dan barat daya Betung Bedarah, di sekitar aliran Sungai Batang Hari (Lihat Peta).

Salah satunya diyakini kuat menjadi tempat Sultan Taha berlindung.

Pada 21 April, setelah komandan markas Muara Tebo dievakuasi, Kapten von Schauroth mengambil alih komando di tempat itu. Keesokan harinya, 22 April, informasi dari Kontrolir Burgdorffer membawa pengejaran memasuki tahap yang lebih menentukan.

Sebuah operasi besar mulai disusun.

Rencana itu tidak hanya mengandalkan kekuatan pasukan. Setiap gerakan harus dilakukan dengan perhitungan. Arah perjalanan perlu disamarkan. Jalur penyeberangan harus ditutup. Penduduk harus dicegah agar tidak membawa kabar ke dalam hutan. Bahkan para pemasok makanan yang telah diketahui membantu persembunyian Sultan tidak segera ditangkap.

Penangkapan terlalu dini dapat membangunkan seluruh jaringan yang selama ini menopang persembunyian.

Pada pagi 23 April, Letnan Dua Badings bergerak bersama seorang Demang setempat dan 25 personel bersenjata bayonet. Kapal Tegal membawa rombongan menuju Teluk Curana. Dari sana perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju Pematang, di tepi Sungai Tabir.

Hari berikutnya, perjalanan diteruskan menuju Bangko Pintas.

Pada 25 April, langkah-langkah pasukan mulai memasuki jalur setapak yang mengarah ke titik persembunyian B.

Gerakan menuju Bangko Pintas sengaja dibuat seperti patroli biasa. Arah perjalanan harus menimbulkan kesan bahwa pasukan hanya bergerak menuju Sungai Tabir sebagaimana patroli-patroli sebelumnya. Tidak boleh ada tanda yang menunjukkan bahwa sebuah operasi pengepungan sedang berlangsung.

Di sebuah persimpangan yang ditandai sebagai titik C, sebagian kekuatan kemudian dipisahkan. Jalur menuju Penapalan harus diamankan untuk menjaga hulu Sungai Besar di sisi kanan.

Letnan Badings bersama kekuatan utama mengambil jalur menuju Betung Bedarah.

Malam 25 menuju 26 April telah ditetapkan sebagai saat pemasangan jebakan. Seluruh jalur penyeberangan dari tepi kanan menuju tepi kiri Sungai Besar harus ditutup. Jalur itu diyakini mengarah ke sebuah anak sungai di sebelah kiri Sungai Besar, tempat persembunyian Sultan diperkirakan berada.

Pada 26 April, kawasan tersebut akan disisir.

Demang Muara Tabir ikut memegang peranan penting dalam gerakan itu dengan menyediakan pemandu jalan lokal. Pergerakan Letnan Badings juga harus diselaraskan dengan satuan patroli lain yang bergerak serentak dari Betung Bedarah pada malam yang sama.

Sementara pengejaran dari arah Sungai Tabir berlangsung, kekuatan lain mulai berdatangan.

Pada 24 April, satu kompi pasukan mobilisasi yang dipanggil dari Muara Tembesi tiba di Muara Tebo. Keesokan harinya, Letnan Dua Van Staden ten Brink bersama 40 personel bersenjata bayonet, di bawah komando Ajudan Bintara Müssig, berangkat menggunakan kapal Seng Bie menuju Penapalan.

Kapten von Schauroth telah lebih dahulu meninggalkan Muara Tebo pada pagi yang sama menggunakan kapal uap Otto. Pasukan Van Staden ten Brink harus menunggu instruksi lanjutan.

Di Pelayangan, sebuah unit patroli yang sebelumnya berkekuatan 12 personel diperkuat menjadi 30 personel. Gerakan menuju Penapalan kembali diselimuti tipu daya. Seolah-olah hanya akan menginap dan bermalam di tempat tersebut.

Di Remaji, 15 personel pasukan Tungkal di bawah pimpinan Pembantu Letnan Ferwerda juga bersiap. Kapal uap Otto akan membawa kekuatan itu masuk ke dalam operasi.

Lingkaran mulai terbentuk.

Namun, di tengah penyusunan operasi, ditemukan persoalan yang dapat mengacaukan seluruh perhitungan.

Peta ternyata tidak sepenuhnya sesuai dengan keadaan di lapangan.

Jalur setapak dari Bangko, Tabir, yang harus dilalui pasukan Letnan Badings ternyata berada di antara Sungai Selangki dan Sungai Besar, bukan di tepi kanan Sungai Besar sebagaimana informasi awal.

Kesalahan itu diketahui ketika pasukan sudah bergerak.

Pesan koreksi tidak dikirim.

Bukan karena kesalahan itu dianggap tidak penting, melainkan karena sebuah pesan yang dikirim melalui kurir di tengah perjalanan dapat menjadi petunjuk bagi penduduk mengenai operasi yang sedang berlangsung. Pasukan Badings juga sudah harus mencapai posisi untuk memasang jebakan.

Di tengah ketidakpastian medan itu, informasi lain justru mempersempit pencarian.

Pada 14 April, Sultan Taha terlihat menaiki perahu-perahu kecil menyusuri Sungai Besar.

Nama-nama penduduk yang baru-baru ini memasok makanan ke tempat persembunyian juga telah diketahui.

Namun tidak seorang pun segera ditangkap.

Jaringan itu dibiarkan tetap bergerak. Penangkapan yang terlalu cepat justru dikhawatirkan membuka rencana pengepungan dan membuat persembunyian Sultan berubah menjadi tempat kosong sebelum pasukan tiba.

Maka seluruh kekuatan terus bergerak.

Ketika jumlah pasukan di lapangan dianggap telah cukup untuk menutup ruang gerak persembunyian, pengepungan penuh mulai dilaksanakan. Pasukan diangkut menggunakan kapal uap Otto, kemudian dibagi menjadi empat kekuatan yang bergerak menuju sasaran masing-masing.

Pasukan pertama berada di bawah Sersan Eropa Jacobi. Kekuatan itu terdiri atas sepuluh personel.

Dari Penapalan, jalur setapak ditempuh ke arah selatan hingga mencapai sebuah aliran sungai kecil. Di sana, pertemuan dengan pasukan Letnan Van Staden ten Brink dari arah berlawanan telah direncanakan.

Malam adalah waktu yang tepat untuk merancang jebakan.

Jalur pelarian Sultan ke arah utara dari persembunyian A harus ditutup. Pada saat yang sama, jalur-jalur setapak rahasia yang mungkin mengarah ke persembunyian harus dicari.

Keesokan harinya, titik A harus ditembus. Setelah itu perjalanan dilanjutkan menuju Betung Bedarah dengan bantuan seorang gids.

Namun ada satu ketentuan yang berlaku bagi seluruh kekuatan.

Tidak boleh ada tembakan yang dilepaskan terlalu cepat.

Salah tembak antarpasukan dapat terjadi dalam gelapnya hutan. Lebih penting lagi, satu suara tembakan yang terlalu dini dapat memberi tahu Sultan bahwa pengepungan telah tiba di sekitar persembunyiannya.

Pasukan kedua berada di bawah Letnan Van Staden ten Brink dengan kekuatan 15 personel.

Perahu kompi ditarik kapal uap Otto hingga ke muara Sungai Api. Pendaratan dilakukan di sebelah selatan muara. Dari sana, perjalanan dilanjutkan melalui jalur setapak ke arah barat daya menuju anak sungai di sebelah kanan Sungai Api.

Di tempat itulah pasukan Van Staden ten Brink dijadwalkan bertemu dengan pasukan Jacobi.

Dua kekuatan itu akan bersama-sama menutup jalur pelarian menuju utara dari persembunyian A.

Pasukan ketiga bergerak dari wilayah Remaji.

Kekuatan tersebut terdiri atas 15 personel pasukan mobilisasi di bawah Ajudan Bintara Müssig dan 28 personel di bawah Sersan Eropa Slotman.

Slotman mendapat tugas mengepung seluruh kawasan dusun di tepi kanan Betung Bedarah. Penduduk harus digiring dan diisolasi di dalam beberapa rumah.

Sementara itu, pasukan Müssig bergerak melalui jalur setapak menuju sasaran yang lebih jauh: persembunyian A.

Pasukan keempat adalah pasukan Tungkal di bawah Pembantu Letnan Ferwerda, berkekuatan 15 personel.

Dari Remaji, pasukan tersebut diangkut menggunakan kapal uap Otto. Sesampainya di Betung Bedarah, perjalanan diteruskan menggunakan perahu menuju jalur setapak di sebelah selatan dusun yang mengarah ke Sungai Tabir.

Sasaran akhirnya adalah persembunyian B.

Rute yang ditempuh Letnan Badings juga telah diberitahukan kepada satuan ini agar dua kekuatan tidak saling bertemu secara keliru di tengah hutan.

Sementara pasukan-pasukan bergerak masuk ke wilayah pengepungan, Otto tetap berjaga di antara tepian kiri dan kanan dusun Betung Bedarah. Sejumlah prajurit ditempatkan untuk mencegah penduduk menyeberangi Sungai Batang Hari.

Tidak boleh ada orang yang lolos membawa kabar kepada Sultan.

Malam pun turun.

Setiap kekuatan membawa seorang pemandu jalan. Dalam rencana, para pemandu itu seharusnya menjadi mata yang mengenal medan. Namun hutan segera memperlihatkan persoalan lain.

Tidak seluruh pemandu dapat memberikan bantuan yang diharapkan.

Ada yang benar-benar tidak mengetahui medan. Ada pula yang justru melakukan penyesatan. Jalan yang seharusnya mendekatkan pasukan kepada sasaran dapat berubah menjadi jalan yang membawa pasukan menjauh.

Ketidakjujuran dan kesalahan arah itu beberapa kali berhasil diketahui sebelum menimbulkan akibat yang lebih besar.

Pasukan Jacobi berhasil memasang jebakan sepanjang malam. Namun pertemuan dengan Pasukan II tidak terjadi.

Tidak ditemukan tanda-tanda keberadaan musuh.

Jalur rahasia menuju persembunyian A juga tidak ditemukan.

Ketika pagi tiba, pasukan Jacobi kembali menuju tepi Sungai Batang Hari melalui jalur setapak.

Pasukan Van Staden ten Brink menghadapi keadaan yang lebih sulit. Bulan telah terbenam menjelang pukul 02.00. Kegelapan membuat hutan hampir tidak memberikan petunjuk. Pemandu jalan kehilangan arah.

Menjelang pagi, perjalanan dihentikan dan pasukan memutuskan untuk mundur.

Pasukan ketiga juga tidak mencapai sasaran.

Pemandu jalan terbukti sengaja menyesatkan komandan pasukan. Pergerakan berakhir tanpa menemukan tempat persembunyian yang dicari.

Sementara itu, pasukan Ferwerda berhasil menemukan sebuah tempat persembunyian di jalur menuju Bangko Pintas.

Tetapi tempat itu telah kosong.

Para pengikut Sultan telah meninggalkannya.

Tidak ada kontak dengan pasukan Letnan Badings. Pasukan Ferwerda akhirnya mundur menuju Betung Bedarah.

Satu demi satu jalur pengepungan gagal memberikan hasil.

Namun perjalanan Letnan Badings membawa perkembangan berbeda.

Pada 25 April sekitar pukul 16.00, pasukan Badings mencapai titik C.

Pemeriksaan ulang terhadap pemandu jalan membuka fakta penting. Sungai Besar ternyata mengalir di sebelah timur persimpangan tersebut, bukan di sebelah barat sebagaimana informasi awal.

Posisi itu terlalu penting untuk ditinggalkan.

Sebelas personel kemudian ditinggalkan di persimpangan.

Tugasnya menjaga titik tersebut sepanjang sisa hari, memasang jebakan pada malam hari untuk menutup kedua akses jalan, kemudian kembali menuju Sungai Batang Hari pada keesokan paginya.

Badings melanjutkan perjalanan hanya dengan 14 personel.

Sasaran berikutnya adalah tepi kanan Sungai Besar.

Jalur penyeberangan harus ditutup.

Setelah sekitar satu jam perjalanan, tingkah pemandu kembali menimbulkan kecurigaan. Pengetahuan mengenai medan menunjukkan bahwa posisi gubuk Sultan Taha sebenarnya mungkin telah diketahui.

Namun perjalanan terus berputar.

Waktu berjalan.

Hutan semakin gelap.

Baru menjelang pukul 19.30 sebuah jalur setapak ditemukan. Pemandu menyatakan jalur itu menuju persembunyian Sultan.

Perangkap segera dipasang.

Sepanjang malam jalur itu diawasi.

Tidak ada pergerakan.

Tidak ada tanda pelarian.

Fajar akhirnya muncul di antara pepohonan.

Letnan Badings kemudian membawa sembilan personel pemukul untuk menembus titik yang diduga sebagai pusat persembunyian Sultan.

Sekali lagi, pemandu jalan membawa pasukan berputar di dalam hutan.

Satu jam berlalu tanpa hasil.

Badings akhirnya memutuskan kembali ke titik pertahanan awal.

Lima personel masih berada di sana bersama barang-barang logistik.

Pada titik itulah pencarian memasuki tahap yang berbeda.

Seorang prajurit bumiputera bernama Amit berada dalam rombongan yang dibawa oleh sang Demang.

Seragam militer dilepaskan.

Pakaian adat sipil Jambi dikenakan.

Amit kemudian bergerak masuk ke dalam hutan bersama seorang pengikut Demang.

Bukan sebagai prajurit.

Bukan sebagai bagian dari pasukan yang bergerak terbuka.

Penyamaran itu dimaksudkan untuk menembus kawasan yang selama berjam-jam gagal ditemukan oleh pasukan bersenjata.

Amit bergerak seorang diri ke dalam jantung hutan untuk mencari gubuk rahasia Sultan Taha.

Empat puluh lima menit kemudian, Amit kembali.

Sebuah area tebangan pohon telah ditemukan di tengah hutan lebat.

Ada suara anak-anak kecil yang terdengar dari kawasan tersebut.

Petunjuk itu segera mengubah arah pengejaran.

Letnan Badings membawa sembilan personel pemukul.

Amit berada di depan sebagai penunjuk jalan. Sang Demang ikut mendampingi.

Langkah demi langkah ditempuh dengan senyap.

Semakin dalam memasuki hutan, semakin dekat posisi yang dicari.

Akhirnya kompleks persembunyian terlihat.

Letaknya tepat di tepi anak sungai sebelah kanan Sungai Besar.

Pasukan berhenti di balik vegetasi.

Gubuk-gubuk kayu berada di hadapan.

Formasi kemudian dipecah menjadi dua kelompok. Dua arah pengepungan disiapkan agar penggerebekan dapat dilakukan secara serentak.

Tidak ada lagi jalan untuk memperlebar lingkaran.

Sasaran berada di depan mata.

Tanggal 26 April 1904 menjadi hari terakhir Sultan Taha Syaifuddin berada di persembunyian tersebut.

Penggerebekan berlangsung cepat.

Seorang penjaga yang berada di luar gubuk menyadari kepungan. Senapan segera diangkat.

Tembakan pertama pasukan Belanda mendahului.

Penjaga itu tewas.

Suara tembakan memecah keheningan hutan.

Para penghuni gubuk berhamburan keluar dan berusaha melarikan diri menuju rimba.

Dua kelompok pasukan Badings segera melepaskan tembakan dari dua arah.

Pasukan bergerak maju hingga mencapai sisi luar kompleks persembunyian. Tembakan terus diarahkan kepada para pengikut yang berusaha melarikan diri.

Setelah itu tembakan dihentikan.

Pos-pos penjagaan taktis dipasang mengelilingi kawasan.

Barulah penggeledahan dimulai.

Pondok-pondok kayu diperiksa satu demi satu.

Tiga jenazah ditemukan.

Setelah dilakukan identifikasi, salah satu jenazah dikenali sebagai mantan Sultan Jambi, Sultan Taha Syaifuddin.

Seorang laki-laki dan dua perempuan dari pihak gerilya ditemukan dalam keadaan terluka.

Di pihak pasukan Belanda tidak terdapat personel yang terluka ataupun gugur.

Dari kompleks persembunyian ditemukan berbagai barang.

Satu pucuk senapan otomatis modern jenis bayonet Model 95, satu pucuk senapan isi belakang, dua pucuk senapan sundut kuno, serta sejumlah besar pasokan amunisi berhasil disita. Di antaranya terdapat 21 butir amunisi tiruan buatan lokal untuk senapan M.95.

Berbagai senjata tajam tradisional juga ditemukan.

Yang tidak kalah penting adalah stempel-stempel resmi yang menjadi tanda kedaulatan Sultan Taha.

Keterangan lain mengenai penyitaan tersebut mencatat enam buah stempel kerajaan, termasuk stempel resmi negara Jambi yang dikenal sebagai “Tjap Matjan”, atau Cap Macan.

Penggerebekan telah berakhir.

Tetapi jenazah Sultan Taha masih berada jauh di dalam hutan.

Pasukan Letnan Badings bergerak kembali menuju titik logistik awal. Perjalanan keluar dari belantara dilakukan menuju tepian Sungai Batang Hari, tempat kapal uap roda buritan Otto telah menunggu untuk membawa pasukan pemukul kembali ke Muara Tebo.

Medan yang berat dan pertempuran yang baru saja berlangsung telah menguras tenaga.

Jenazah para korban ditinggalkan sementara di lokasi penggerebekan.

Dari Muara Tebo kemudian dikirim pasukan bantuan khusus untuk mengambil jenazah-jenazah tersebut dan membawanya keluar dari hutan.

Sesampainya di Muara Tebo, identitas jenazah Sultan Taha kembali diperiksa.

Wajah jenazah diperhadapkan kepada para pemandu jalan dan beberapa kepala suku pribumi yang sedang berada dalam tahanan Belanda.

Pengenalan dilakukan di bawah sumpah.

Kesaksian diberikan.

Jenazah tersebut dibenarkan sebagai jasad Sultan Taha Syaifuddin.

Perjalanan panjang itu pun sampai pada akhirnya.

Sultan Taha kemudian dimakamkan di wilayah Muara Tebo dengan pengawalan militer.

Demikianlah jejak terakhir Sultan Taha Syaifuddin berakhir pada 26 April 1904—setelah sebuah operasi pengepungan yang melibatkan Muara Tebo, Bangko Pintas, Penapalan, Remaji, Pelayangan, Betung Bedarah, Sungai Tabir, Sungai Besar, Batang Hari dan jaringan jalur setapak di pedalaman Jambi.

Kesalahan peta, gelapnya hutan, kegagalan sejumlah satuan, pemandu yang kehilangan arah, pemandu yang melakukan penyesatan, penyamaran Amit, hingga penemuan sebuah kompleks kecil di tepi anak sungai akhirnya membawa pengejaran itu menuju titik terakhir.

Di tengah belantara Jambi, jauh dari pusat kekuasaan, di antara pondok-pondok kayu dan aliran sungai yang menjadi bagian dari medan perjuangan, ditemukan jasad seorang Sultan yang selama bertahun-tahun bertahan di pedalaman.

26 April 1904 menjadi penutup perjalanan hidup Sultan Taha Syaifuddin.

Oléh: Marjafri - Jurnalis, Pegiat Budaya, ketua komunitas anak nagari Sawahlunto "art, social culture and tourism

Silakan baca konten menarik lainnya dari BentengSumbar.com di Google News
BERITA SEBELUMNYA
« Prev Post
BERITA BERIKUTNYA
Next Post »