| Pengalaman pahit itu dirasakan Rara Kalbina Fajri, pelajar SMA Negeri 1 Suliki, Kabupaten Lima Puluh Kota, yang harus menjalani rawat inap akibat tukak lambung. (Fotdok: Hermiko). |
Rara mulai menjalani perawatan setelah mengalami sejumlah keluhan, mulai dari mual, muntah, meriang hingga nyeri ulu hati seperti terbakar. Kondisinya membuat orang tua segera membawanya ke instalasi gawat darurat (IGD) untuk mendapatkan pemeriksaan medis. Di RSUD dr. Achmad Darwis, pemeriksaan laboratorium dan endoskopi menemukan indikasi yang mengarah pada tukak lambung.
Diagnosis tersebut membuat Rara terkejut. Ia tidak menyangka penyakit yang membutuhkan perawatan di rumah sakit bisa dialaminya ketika masih duduk di bangku sekolah. Pengalaman itu sekaligus mengubah pandangannya tentang kesehatan, yang selama ini mungkin dianggap bukan persoalan mendesak bagi anak muda.
“Saya baru sadar pentingnya JKN ketika sakit seperti ini. Kita merasa masih muda dan sehat, tetapi ternyata penyakit bisa datang kapan saja. Oleh karena itu, menurut saya anak muda juga perlu peduli dengan kesehatan dan memastikan sudah menjadi peserta JKN,” ujar Rara.
Selama menjalani perawatan, Rara mulai mengevaluasi kebiasaan sehari-harinya. Ia mengakui cukup sering mengonsumsi makanan pedas, makanan cepat saji, makanan kemasan, termasuk mi instan. Pengalaman tersebut mendorongnya untuk lebih memperhatikan pola makan dan kondisi tubuh. Baginya, menerapkan pola hidup sehat tidak perlu menunggu sampai muncul keluhan atau penyakit.
Di tengah proses pengobatan, kepastian pembiayaan melalui Program JKN turut memberikan ketenangan bagi Rara dan keluarganya. Pelayanan kesehatan yang diterimanya dijamin sesuai indikasi medis dan ketentuan program yang berlaku. Dengan adanya perlindungan tersebut, keluarga dapat lebih fokus mendampingi proses pemulihan tanpa harus menanggung kekhawatiran berlebihan mengenai biaya perawatan yang dijamin JKN.
“Tenang rasanya karena biaya pengobatan saya ditanggung BPJS Kesehatan. Jadi orang tua tidak perlu pusing memikirkan biaya pengobatan saya. Kalau tidak punya JKN, mungkin keluarga akan lebih khawatir memikirkan dari mana biaya untuk berobat,” ungkapnya. Rara juga mengaku proses administrasi rawat inap berjalan lancar. Orang tuanya cukup menunjukkan Nomor Induk Kependudukan (NIK) untuk membantu proses penjaminan sesuai prosedur yang berlaku.
Bukan hanya soal pembiayaan, Rara merasakan pelayanan yang baik selama dirawat. Dokter dan perawat dinilainya ramah, sementara tindakan medis diberikan sesuai kebutuhan. Ia juga mengaku tidak merasakan perbedaan perlakuan karena menggunakan JKN. Menurutnya, pengalaman tersebut memperkuat pemahaman bahwa program jaminan kesehatan dapat membantu peserta memperoleh pelayanan medis sesuai ketentuan yang berlaku.
Rara juga baru mengetahui keberadaan petugas BPJS SATU (BPJS Kesehatan Siap Membantu) yang hadir di rumah sakit untuk memberikan informasi dan membantu peserta ketika membutuhkan penjelasan atau ingin menyampaikan pengaduan. Informasi itu membuatnya semakin tertarik mengenal program JKN lebih jauh. Bahkan, ia berencana mengikuti seleksi Duta Muda BPJS Kesehatan pada periode berikutnya agar dapat membagikan pengalaman nyata kepada teman-teman sebayanya.
Bagi Rara, pengalaman sakit di usia muda menjadi pelajaran berharga bahwa perlindungan kesehatan bukan hanya kebutuhan orang tua atau mereka yang sedang sakit. Ia mengajak generasi muda memastikan kepesertaan JKN tetap aktif, membiasakan pola hidup sehat, dan memahami manfaat program sejak dini. “Jangan menunggu sakit baru sadar pentingnya jaminan kesehatan. Lebih baik kita mempersiapkan diri sejak sehat, memahami manfaat JKN dan memastikan kepesertaan tetap aktif,” pungkas Rara. (HM)
Editor: Zamri Yahya, WU
Silakan baca konten menarik lainnya dari BentengSumbar.com di Google News
BERITA SEBELUMNYA
« Prev Post
« Prev Post
BERITA BERIKUTNYA
Next Post »
Next Post »