Tolong-Menolong dalam Kebaikan, Bukan Melindungi Kezaliman

Tolong-Menolong dalam Kebaikan, Bukan Melindungi Kezaliman
Islam tidak hanya mengajarkan manusia untuk menjadi pribadi yang saleh dalam hubungan dengan Allah SWT, tetapi juga mengajarkan kepedulian, persaudaraan, dan tanggung jawab sosial terhadap sesama. (Fotdok: Int). 

BENTENGSUMBAR.COM
- Tolong-menolong merupakan salah satu fondasi penting dalam kehidupan manusia. Islam tidak hanya mengajarkan manusia untuk menjadi pribadi yang saleh dalam hubungan dengan Allah SWT, tetapi juga mengajarkan kepedulian, persaudaraan, dan tanggung jawab sosial terhadap sesama. Prinsip ini ditegaskan Allah SWT dalam Al-Qur’an Surah Al-Maidah ayat 2: “Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya.”

Ayat tersebut mengandung pesan mendalam bahwa setiap bentuk kerja sama harus memiliki landasan moral dan tujuan yang benar. Tidak semua kebersamaan dapat disebut kebaikan apabila dibangun untuk kepentingan yang merugikan orang lain. Islam mengajarkan umatnya untuk saling menguatkan dalam kejujuran, keadilan, kepedulian, dan kemaslahatan, bukan saling melindungi dalam kesalahan, kebohongan, kezaliman, maupun permusuhan. Dengan demikian, ukuran persaudaraan bukan sekadar seberapa kuat seseorang membela kelompoknya, melainkan seberapa teguh ia menjaga kebenaran.

Pesan tersebut sejalan dengan sabda Rasulullah SAW dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim: “Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya dizalimi.” Hadis ini mengajarkan bahwa kepedulian tidak cukup diwujudkan melalui kata-kata, tetapi harus hadir dalam tindakan nyata. Ketika saudara mengalami kesulitan, kita dianjurkan membantu. Ketika melihat kezaliman, kita tidak boleh berpura-pura tidak tahu. Membela orang yang tertindas merupakan bagian dari tanggung jawab moral dan keimanan.

Rasulullah SAW juga memberikan gambaran indah tentang persaudaraan melalui hadis riwayat Bukhari dan Muslim, bahwa perumpamaan kaum mukminin dalam kasih sayang, cinta, dan kelembutan adalah seperti satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh merasakan sakit, seluruh tubuh ikut merasakan demam dan tidak dapat tidur. Perumpamaan ini memperlihatkan bahwa penderitaan sesama semestinya menjadi perhatian bersama. Kesulitan yang dialami seseorang bukan alasan untuk menjauh, melainkan kesempatan untuk menghadirkan empati, solidaritas, dan pertolongan.

Nasihat yang dinisbatkan kepada Imam Ali bin Abi Thalib juga mengingatkan manusia tentang pentingnya memperlakukan sesama dengan kemanusiaan. Salah satu ungkapan yang masyhur adalah, “Manusia itu ada dua golongan: saudaramu dalam agama atau saudaramu dalam kemanusiaan.” Pesan ini mengajak kita melampaui sekat perbedaan dalam membangun hubungan sosial. Perbedaan suku, golongan, jabatan, pandangan, maupun latar belakang tidak boleh menjadi alasan untuk menghilangkan rasa hormat dan kepedulian. Kemanusiaan harus tetap menjadi jembatan untuk saling membantu dan menjaga martabat sesama.

Para ulama juga menjelaskan bahwa kebajikan dan ketakwaan harus berjalan beriringan. Imam Al-Ghazali dalam pemikirannya tentang penyucian jiwa mengingatkan pentingnya membersihkan hati dari kesombongan, iri hati, kebencian, dan sifat-sifat yang merusak hubungan antarmanusia. Sebab, seseorang tidak akan mudah menolong dengan tulus apabila hatinya dipenuhi kepentingan pribadi. Amal kebaikan bukan hanya dinilai dari besarnya bantuan, tetapi juga dari keikhlasan, cara memberikan, serta manfaat yang dirasakan oleh orang yang menerima pertolongan.

Dalam kehidupan bermasyarakat, pesan Surah Al-Maidah ayat 2 seharusnya menjadi pedoman dalam setiap hubungan, baik di lingkungan keluarga, organisasi, pemerintahan, dunia usaha, maupun kehidupan berbangsa. Gotong royong, membantu masyarakat yang tertimpa musibah, memperjuangkan keadilan, menjaga amanah, dan mengingatkan sesama ketika melakukan kekeliruan merupakan contoh nyata tolong-menolong dalam kebajikan. Sebaliknya, membenarkan kesalahan karena hubungan pertemanan, menutupi penyimpangan demi kepentingan kelompok, menyebarkan fitnah, serta menjatuhkan orang lain merupakan bentuk kerja sama yang bertentangan dengan nilai ketakwaan.

Karena itu, setiap orang perlu berani membedakan antara solidaritas dan pembenaran terhadap kesalahan. Menolong seseorang bukan berarti selalu membenarkan semua tindakannya. Terkadang, pertolongan terbaik justru berupa nasihat yang jujur, teguran yang santun, dan keberanian mencegahnya melakukan perbuatan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa menolong orang yang berbuat zalim dilakukan dengan cara mencegahnya dari kezaliman. Inilah makna kepedulian yang tidak sekadar mengikuti kehendak seseorang, tetapi mengarahkannya kembali kepada kebenaran.

Pada akhirnya, tolong-menolong dalam kebajikan bukan sekadar ajaran yang indah untuk diucapkan, melainkan prinsip yang harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Al-Qur’an memberikan pedoman, Rasulullah SAW memberikan teladan, Imam Ali mengingatkan tentang persaudaraan dan kemanusiaan, sementara para ulama mengajarkan pentingnya keikhlasan serta kebersihan hati. Sudah semestinya kita membangun kebersamaan yang memperkuat kebaikan, bukan permusuhan; menegakkan keadilan, bukan melindungi kezaliman; serta menghadirkan manfaat, bukan kerugian. Sebab, sebaik-baik manusia bukanlah mereka yang hanya kuat bersama kelompoknya, melainkan mereka yang kehadirannya membawa manfaat dan kebaikan bagi sesama. (*)

Silakan baca konten menarik lainnya dari BentengSumbar.com di Google News
BERITA SEBELUMNYA
« Prev Post
BERITA BERIKUTNYA
Next Post »