Pariwisata

Ekonomi

POLITIK

HUKUM

Most Popular

Ketum PBNU Sependapat Dengan Presiden Jokowi Soal Pemisahan Politik Dengan Agama

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj Ketika Diundang Makan Siang Oleh Presiden Jokowi ke Istana Negara.

Ketum PBNU Sependapat Dengan Presiden Jokowi Soal Pemisahan Politik Dengan Agama
BENTENGSUMBAR.COM - Imbauan Presiden Joko Widodo (Jokowi) agar semua pihak memisahkan persoalan politik dan agama tidak dipersoalkan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj. Pasalnya, Said Aqil mengklaim pernyataan Presiden Jokowi itu adalah pendapatnya.

"Itu pendapat saya kok, tidak ada agama dalam politik dan tidak ada politik dalam agama. Itu pendapat saya," ujar Aqil di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu. 

Dirinya mengaku memiliki pemikiran tersebut jauh sebelum Presiden Jokowi melontarkannya. Kata dia, politik jika dicampurkan dengan agama akan menimbulkan radikalisme. Tak hanya itu, seseorang akan mudah mengkafirkan orang jika mencampurkan agama dengan politik.

"Politik kalau dicampurkan dengan agama akan galak, akan radikal, akan mudah mengkafirkan, akan mudah mengganggap oposan menjadi kafir," pungkasnya.

Diketahui, sebelumnya Presiden Jokowi mengimbau semua pihak memisahkan persoalan politik dan agama. Pemisahan tersebut dianggapnya untuk menghindari gesekan antarumat. 

Sementara itu, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menjelaskan bahwa pernyaatan Presiden Joko Widodo tidak dalam konteks memisahkan agama dan politik.

Menurutnya, konteks yang dimaksudkan Presiden adalah ingin memisahkan antara adanya motif dan ekses buruk dari aktivitas politik dengan proses dan tujuan mulia dari agama.

"Hemat saya, Presiden ingin menegaskan bahwa tak boleh mencampuradukkan antara adanya yang buruk dari proses dan tujuan berpolitik dengan yang baik dari proses dan tujuan beragama," terang Menag, beberapa waktu lalu, seperti dikutip dari laman resmi kemenag.

Menag yakin bahwa Presiden menyadari betul realitas bangsa Indonesia yang religius, yang warganya selalu melandaskan diri dengan nilai-nilai agama dalam menjalani kehidupan berbangsa.

Apalagi, lanjut Menag, pernyataan Presiden itu juga diiringi dengan pesan bahwa perbedaan adalah anugerah Allah bagi Indonesia yang harus dijaga.

Untuk itu, imbuh Menag, Kepala Negara berharap para ulama terus menyebarkan Islam rahmatan lil alamin agar masyarakat Indonesia dapat memandang perbedaan sebagai kekuatan menjaga persatuan dan kesatuan.

Sebab, jika perbedaan itu bisa dirawat maka didalamnya terdapat kekuatan dan potensi besar. Sebaliknya jika tidak bisa dijaga dan dirawat, bisa terjadi pertikaian.

Presiden menurut Menag justru mengingatkan semua untuk menjadikan agama sebagai sarana menjaga dan merawat keragaman karena hal itu adalah anugerah Allah.

"Pernyataan beliau haruslah dilihat dari konteks dan perspektif di atas," tambahnya. (malin/snc)

Previous
« Prev Post

Komentar Anda:

Loading...

Formulir Kontal

Nama

Email *

Pesan *