Headline

Opini

PADANG

Sports

Tanggapi 'Quran Menyuruh Menyembah Yesus', Mustofa: Tipuan Kuno, Mereka Pikir Umat Islam Bisa Ditipu

          Tanggapi 'Quran Menyuruh Menyembah Yesus', Mustofa: Tipuan Kuno, Mereka Pikir Umat Islam Bisa Ditipu
BENTENGSUMBAR.COM - Politikus Partai Ummat angkat bicara mengenai pernyataan seorang netizen yang menanggapi soal Bahasa Arab secagai ciri teroris sampai-sampai menyinggung soal video yang sangat kontroversial.

Melalui akun Twitternya, @TofaTofa_id mulanya menilai seorang pengamat yang menyebut ciri teroris adalah menyebarkan bahasa Arab merupakan sosok yang sedang mencari muka terhadap bosnya yang baru.

“Saking bingungnya cari muka ke Boss Baru. Bahasa Arab-pun dianggap teroris,” kata Mustofa, Kamis 9 September 2021.

Seorang netizen bernama hans @hanshan01327042 kemudian menanggapi dengan mengunggah tangkapan layar akun “Kesaksian Misi”.
“Mungkin ini yang dimaksud...tolong fb nya di ras massal,” kata Hans.

Dalam tangkapan akun Kesaksian Misi mencuit: “Quran Menyuruh Menyembah Yesus”. Sementara video yang diunggah merupakan konten Christian Prince yang tengah mengulas tentang percakapan dengan orang Arab Saudi.
Mustofa Nahrawardaya kemudian memberikan tanggapan kepada Hans.

“Ngapain di ras massal. Lha itu tipuan kuno pakai gaya wawancara segala. Mereka pikir, umat Islam bisa ditipu dgn konten youtube. Kan kita buka Al Qur'an beserta terjemahan di sini. Maka biarkan aja begitu kontennya. Agar saya bisa mentertawakannya,” tegas Mustofa Nahrawardaya.

Sementara sebelumnya diberitakan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof Dadang Kahmad, angkat bicara terhadap yang disampaikan pengamat Intelijen Susaningtyas Nefo Kertopati yang menuding banyak sekolah di Indonesia berkiblat pada militan Taliban dan bahasa Arab sebagai ciri teroris.

Muhammadiyah menyayangkan pernyataan Susaningtyas dan menilai ini bagian dari Islamofobia.

"Betul pernyataan yang berbahaya jika Bahasa Arab dikaitkan dengan terorisme. Ini bagian dari Islamofobia, sangat disayangkan adanya pernyataan seperti itu," kata Prof Dadang, saat dihubungi Republika.co.id, Rabu (8/9).

Terkait kemungkinan akan mensomasi Susaningtyas Nefo karena pernyataannya, pihaknya menegaskan Muhammadiyah tidak akan melakukannya. Muhammadiyah juga tidak berniat untuk memberi klarifikasi dan memilih membiarkannya. Pihaknya juga tak khawatir orang bisa termakan tudingan Susaningtyas.

Sebab, dia melanjutkan, Susaningtyas hanyalah pengamat intelijen, artinya dikhawatirkan pernyataannya bukan berdasarkan fakta melainkan asumsi.

"Cuma yang kita khawatirkan ini bagian dari gerakan pendiskreditkan simbol simbol agama yang lainnya," ujarnya.

Mengenai upaya untuk melawan tudingan tersebut, pihaknya menilai untuk mempengaruhi orang bisa mengimbangi dengan sosialisasi tentang perlunya bahasa Arab dalam beragama Islam. 

"Bahasa Arab itu penting sebab kitab suci dan sholat pakai bahasa Arab," katanya.

Sebelumnya, Pengamat intelijen Susaningtyas Nefo Kertopati menilai saat ini banyak sekolah di Indonesia yang mulai berkiblat ke Taliban yang dia anggap sebagai organisasi radikal.

Dia menyebutkan ciri-ciri sekolah dan para gurunya yang mulai berkiblat ke Taliban atau ke radikalisme, diantaranya tidak mau hafal nama-nama Partai Politik.

“Mereka tak mau pasang foto presiden dan wapres. Lalu mereka tak mau menghafal menteri-menteri, tak mau menghafal parpol-parpol,” ujar Susaningtyas dilansir di progam Crosscheck yang disiarkan di akun YouTube, dikutip Rabu (8/9).

Dia mengatakan bahwa gerakan sekolah yang berkiblat pada Taliban ini, tentu harus diwaspadai. Karena sekolah merupakan pabrik pencetak para pemimpin negeri di masa depan, sekolah pula yang mencerdaskan bangsa.

Mantan anggota DPR Komisi I ini juga menyebut ciri anak muda yang terpapar radikalisme adalah dengan perbanyak belajar bahasa Arab.

“Bagaimana saya tak khawatir, anak muda kita sudah tak mau lagi hormat pada bendera Indonesia, tak mau menyanyikan lagu Indonesia Raya. berbahasa Arab,” ujarnya.

Dia menambahkan, bukan berarti Arab itu memiliki konotasi teroris, melainkan kalau arahnya ke terorisme bahaya.

"Karena sebenarnya mereka juga ingin berkuasa, ingin punya kekuasaan, tapi mereka ingin berkuasa dengan cara mereka sendiri,” ujarnya seperti dinukil Republika. (Netralnews)
Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »
Loading...