Isu Reshuffle Panas! Pengamat Sebut Prabowo Dilema: Kinerja vs Loyalitas, Nasib Bahlil dan Meutya Hafid Terancam?
On Sabtu, April 18, 2026
| Isu perombakan kabinet atau reshuffle di era Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto semakin kencang berembus. |
Peneliti Senior Citra Institute, Efriza, memberikan analisis tajam mengenai deretan menteri yang posisinya sedang "digoyang".
Namun, Efriza justru meragukan apakah sang Presiden punya keberanian untuk menyentuh nama-nama besar di lingkaran kekuasaannya, mengingat adanya pertaruhan politik yang cukup besar.
Bahlil Lahadalia: Terjepit di Antara Dua "Matahari"
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjadi nama pertama yang masuk radar evaluasi. Efriza menilai Bahlil berada dalam posisi sulit karena harus membagi loyalitas antara Prabowo dan mantan Presiden Jokowi, ditambah beban tugasnya sebagai Ketum Partai Golkar.
Kerap dianggap kurang kompeten dalam mengelola kebijakan energi akibat kegaduhan komunikasi politik, posisi Bahlil sebenarnya rawan. Namun, pengaruh politiknya yang kuat membuat reshuffle terhadapnya menjadi perjudian besar.
"Bahlil acap dinilai kurang berkompeten mengelola kebijakan energi karena kegaduhan komunikasi politiknya. Ada kekhawatiran dia tidak fokus. Tapi apa berani Prabowo mereshuffle Bahlil? Dia politisi dengan pengaruh kuat," ujar Efriza, Jumat 17 April 2026.
Nasib Kontras: Natalius Pigai vs Widiyanti Putri
Di kementerian hasil pemecahan, muncul prediksi menarik. Menteri HAM Natalius Pigai dinilai sangat aman meski sering mendapat sentimen negatif. Alasannya simpel: loyalitas. Pigai dianggap sebagai sosok yang sudah "berkeringat" lama mendampingi Prabowo.
Kondisi sebaliknya menimpa Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana. Ia diprediksi rentan digeser karena performa yang dianggap tidak optimal, terutama saat berhadapan dengan DPR.
"Widiyanti memungkinkan digeser karena kinerjanya tidak optimal dan ketidakmampuannya menjelaskan pengelolaan anggaran saat rapat bersama DPR," tambah Efriza.
Komdigi Meutya Hafid dalam Pantauan Radar
Sektor pelayanan publik dan ekonomi juga tidak luput dari pantauan. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) yang dipimpin Meutya Hafid disebut-sebut masuk radar evaluasi.
Efriza menyoroti transformasi digital yang belum mencapai titik optimal sebagai titik lemah kepemimpinan Meutya saat ini.
Loyalitas Lebih "Sakti" dari Rapor Merah?
Efriza menyimpulkan bahwa dalam gaya kepemimpinan Prabowo, kinerja yang kurang memuaskan bisa jadi dimaafkan asalkan loyalitasnya teruji.
Reshuffle diprediksi bukan sekadar soal siapa yang bermasalah secara teknis, tapi siapa yang dianggap kurang sejalan dengan agenda besar sang Presiden.
"Bahkan, rasanya ragu Presiden Prabowo punya nyali melakukan reshuffle terhadap menteri-menteri tersebut. Sekadar menggeser posisinya saja perlu kehati-hatian ekstra," pungkas Efriza.
Daftar Menteri yang Masuk Radar Evaluasi:
- Bahlil Lahadalia (Menteri ESDM): Isu fokus kerja & loyalitas ganda.
-;Meutya Hafid (Menkomdigi): Isu optimalisasi transformasi digital.
- Widiyanti Putri Wardhana (Menpar): Isu kompetensi manajerial & anggaran.
- Natalius Pigai (Menteri HAM): Disorot publik, namun dinilai aman karena loyalitas. (*)
Sumber: konteks