 |
| Dari kawasan inilah batu bara diangkut untuk menggerakkan lokomotif, kapal uap, dan berbagai infrastruktur yang menopang perekonomian kolonial. (Foto/Ist). |
TAMBANG batu bara Ombilin di Sawahlunto merupakan salah satu tonggak penting sejarah industrialisasi di Hindia Belanda. Dari kawasan inilah batu bara diangkut untuk menggerakkan lokomotif, kapal uap, dan berbagai infrastruktur yang menopang perekonomian kolonial. Di mata pemerintah kolonial, Ombilin dipandang sebagai lambang kemajuan teknologi, efisiensi manajemen, dan keberhasilan eksploitasi sumber daya alam dalam skala besar.
Namun di balik capaian tersebut tersimpan kenyataan yang jauh lebih kompleks. Tambang ini tidak dibangun dan dijalankan dalam kondisi yang mudah. Setiap lorong yang menembus perut bukit, setiap rel yang membelah lembah, dan setiap bongkah batu bara yang terangkat ke permukaan menyimpan jejak kerja keras ribuan manusia. Ombilin berdiri di atas ketekunan para pekerja yang menukar tenaga, kesehatan, bahkan nyawa mereka demi menjaga agar roda industri terus berputar.
Para pekerja itu berasal dari berbagai penjuru Nusantara. Sebagian merupakan buruh kontrak, sebagian pekerja hukuman, dan sebagian lainnya tenaga kerja bebas. Mereka bekerja di lorong-lorong sempit dan gelap, menghadapi ancaman runtuhan batu, gas beracun, kebakaran, banjir, serta berbagai penyakit yang selalu mengintai. Dalam lingkungan seperti itu, keselamatan tidak pernah sepenuhnya terjamin, dan setiap hari kerja mengandung kemungkinan bahwa seseorang tidak akan kembali ke rumah.
Sejarah Ombilin karena itu tidak hanya dapat dibaca melalui statistik produksi atau laporan teknis pertambangan. Ia juga harus dipahami sebagai sejarah manusia: sejarah tentang keringat, air mata, dan darah para pendahulu yang menjadi fondasi berdirinya salah satu kawasan industri terpenting di Asia Tenggara pada masanya. Kemajuan yang dicatat dalam arsip kolonial sesungguhnya memiliki biaya kemanusiaan yang sangat besar.
Salah satu peristiwa yang paling mengguncang adalah kebakaran besar di Lobang Ampat Sawaraso pada Januari 1928. Dalam musibah ini, puluhan pekerja kehilangan nyawa ketika api dan gas panas menjalar di dalam terowongan tambang. Sebagian korban berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat, tetapi banyak lainnya terperangkap di bawah tanah. Proses penyelamatan berlangsung dalam situasi yang sangat berbahaya karena suhu di dalam lorong terus meningkat dan api belum dapat dipadamkan.
Peristiwa tersebut memperlihatkan secara nyata bahwa di balik kemegahan industri tambang terdapat risiko yang harus ditanggung oleh para pekerja. Batu bara yang menjadi sumber energi bagi perkembangan ekonomi kolonial tidak hanya dihasilkan melalui teknologi dan modal, tetapi juga melalui pengorbanan manusia yang bekerja dalam kondisi yang keras dan berbahaya.
Tulisan berikut menghadirkan laporan sezaman yang dimuat dalam surat kabar Tjaja Sumatra edisi 1 Februari 1928 mengenai kebakaran di Lobang Ampat Sawaraso. Ejaan dan susunan kalimat dipertahankan sebagaimana termuat dalam sumber aslinya agar karakter bahasa dan perspektif zamannya tetap terjaga. Melalui laporan ini, dapat disaksikan secara langsung bagaimana sebuah bencana tambang dicatat pada masanya, sekaligus diingat kembali sebagai bagian penting dari sejarah kemanusiaan di Ombilin, Sawahlunto.
Berita Tentang Kebakaran Besar Dalam Lobang Ampat Sawaraso Di Sawahloento.
Menjoesoel kabar kawat dari Sawah Loento dari pembantoe kami disana jang mentjeritakan bagaimana kehebatan kebakaran dalam lobang jang terseboet dan telah membawa korban berpoeloeh djiwa manoesia. maka di kabarkan lebih djaoeh sebagai diterangkan dibawah ini.
Pada hari Minggoe jang laloe ada beberapa orang koeli kontrak, orang rantai dan oppas bestuur bersama toean Purvies masoek kedalam lobang ampat di Sawaraso akan melihat dan memeriksa bagaimana keadaan dalam lobang itoe, sebab besoknja hari Senin orang akan moelai bekerdja dalam lobang terseboet.
Kira kira poekoel 10 malam dengan sekoenjoeng koenjoeng lobang ampat post 17 itoe telah terbakar. Sepandjang kabar jang diterima, moelai bahaja itoe datang sekoenjoeng koenjoeng datang asap jang berasa amat panas jang mana orang mengira bahwa itoelah hawa gas jang telah meniwaskan djiwa orang.
Dalam bahaja ini dapat ditolong 24 orang dan pada malam itoe djoega di bawa keroemah sakit di Sawahloento.
Waktoe pagi pagi telah dapat lagi sembilan mait dan djoega dibawa ke roèmah sakit, sedang orang orang jang mati itoe adalah toean Purvies opziener, Oenoes orang Pematang Pandjang Boeo, Boelek orang Andalas Matoer, Saidi Djawa, Limin orang Kota Pandjang, Gadigo orang Nias, Saidi orang Katjang dan 2 orang hoekoeman.
Poekoel 12 tengah hari kita mendapat kabar lagi ada 35 orang jang mati dan poekoel doea segala mait itoe akan dapat dikirim keroemah sakit. Sebab kita akan mengetahoel lebih landjoet, kita toenggoe sampai poekoel doea, tetapi dengan sekoenjoeng koenjoeng datang lagi kabar jang mengatakan bahwa poekoel anam petang baroe segala mait sampai diroemah sakit, karena api dalam lobang jang terseboet bertambah besar dan segala toean toean Ingenieur telah masoek lobang mentjari akal akan memadamkan api jang terseboet.
Poekoel 7 malam toean toean itoe telah kembali dan segala familie jang mati telah menanti diroemah sakit disoeroeh poelang sadja.
Poekoel 9 malam terkabar lagi, beberapa orang toean toean Ingenieür akan masoek lagi kedalam loebang tembok dan akan ditjari akal boeat memadamkan api itoe. tetapi roepanja tak berhasil karena hawa ada amat panas sekali.
Ketika kabar ini ditoelis, mait jang 26 orang lagi masih dalam lobang djoega dan beloem terbawa keloear sedang api itoe masih sadja teroes menjala sampai dimoeka lobang ampat .
Bagaimana keadaan mait jang 24 itoe lagi, sedang api masih menjala, nanti akan dapat kita kabarkan.
Tjaja Sumatra No. 26, Hari Arbaa 1 Februari 1928, Tahoen ke 32
Tambang Ombilin Meledak.
Laporan berikut merupakan kelanjutan dari berita sebelumnya mengenai kebakaran besar di Lobang Ampat Sawaraso, Sawahlunto. Jika berita yang dimuat dalam Tjaja Sumatra pada 1 Februari 1928 merekam perkembangan peristiwa secara cepat dan emosional, maka laporan dari Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië edisi Jumat, 24 Februari 1928, menyajikan penjelasan yang lebih rinci mengenai kronologi kebakaran, upaya penyelamatan, kondisi teknis di dalam tambang, serta dugaan penyebab bencana.
Kedua sumber ini saling melengkapi. Yang pertama memperlihatkan suasana kepanikan dan duka ketika korban masih terperangkap di dalam tambang, sedangkan yang kedua menjelaskan bagaimana gas karbon monoksida menjadi faktor utama yang menyebabkan kematian, bagaimana ventilasi diubah untuk memperbaiki kualitas udara, dan bagaimana operasi penambangan akhirnya dapat dilanjutkan setelah area kebakaran dibendung.
Di antara seluruh uraian teknis tersebut, terdapat satu kesaksian yang sangat menggugah: jawaban singkat seorang sipir penjara melalui telepon dari dalam tambang yang dipenuhi gas beracun—“Saja Tida Koewat Lagi”—sebelum ia ditemukan meninggal dengan gagang telepon masih berada dalam genggamannya. Ada pula kisah seorang pekerja bernama Kemis yang berhasil keluar hidup-hidup setelah bertahan selama 84 jam di dalam tambang yang terbakar. Dua kisah ini menghadirkan dimensi manusiawi yang kuat di tengah penjelasan teknis tentang ventilasi, bendungan api, dan kandungan gas.
Laporan ini menunjukkan bahwa di balik bahasa teknis pertambangan tersimpan kenyataan yang sangat sederhana: puluhan orang kehilangan nyawa ketika bekerja di bawah tanah demi mengangkat batu bara ke permukaan. Kebakaran tersebut mungkin pada akhirnya dapat dikendalikan, dan produksi dapat dilanjutkan, tetapi nyawa para pekerja yang telah hilang tidak pernah dapat dipulihkan.
Berikut disajikan terjemahan laporan sebagaimana dimuat dalam Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië, 24 Februari 1928, sebagai pelengkap bagi berita sebelumnya dan sebagai sumber penting untuk memahami salah satu bencana paling memilukan dalam sejarah Tambang Batu Bara Ombilin.
Tentang kebakaran di tambang Ombilin.
Seperti yang telah di kirimkan lewat telegram, Pr. Herald selanjutnya melaporkan secara spesifik:
Tragedi Ini pertama kali diketahui pada Minggu malam, tanggal 29 Januari, sekitar jam 9.30 pagi, dan dilaporkan ke manajemen segera setelahnya. Insinyur pertambangan kemudian segera menindaklanjuti ke lokasi tambang dari mana datang laporan-laporan yang sangat mengkhawatirkan .
Sipir penjara segera memerintahkan petugas polisi melalui telepon untuk membuka semua pintu yang ada di lokasi tambang yang tertutup dan menginstruksikan agar seluruh pekerja di evakuasi dan keluar dari lobang tambang Sesegera mungkin.
Karena ini tidak seorang pun berada di pintu-pintu lubang yang tertutup, dan itu adalah kesalahan yang fatal , seperti apa yang telah telah ditulis oleh "de courier" dalam terbitan tertanggal 1 Februari yang baru lalu "Bahwa puluhan korban tidak lagi bisa menyelamatkan diri dan mati seperti tikus dalam perangkap yang berapi-api" !
Sebelum mengambil tindakan apa pun, para insinyur harus menemukan lokasi yang tepat dari penyebab kebakaran, ini adalah satu hal usaha dan waktu.
Saat lokasi tersebut dapat di tentukan dan di pastikan di dalam lapangan tambang Sawah Rasau IV, Kipas yang berada di sebelah Utara di matikan dan udara segar dari Selatan diarahkan ke lapangan Sawah Rasau. Dengan kondisi tersebut Gas yang terjadi akibat kebakaran dapat dievakuasi / di alirkan dari tambang dengan sesegera mungkin sehingga dapat memberi peluang untuk menyelamatkan para pekerja yang masih hidup dari dalam tambang.
Pada saat kebakaran terjadi, shift kedua yang biasa bekerja pada Minggu malam hanya bertugas untuk perbaikan (rawatan*red), dan berada di tambang. Tim ini terdiri dari total 125 orang, dimana 26 diantaranya meninggal dunia. 1 pengawas Eropa, 5 penjaga penjara, 4 penjaga polisi, 5 pekerja bebas, 7 pekerja kontrak dan 4 buruh paksa (orang rantai*red). yang dihukum ditemukan tidak berada di lokasi tambang.
Berbekal peralatan pesawat/telpon penyelamat, personel tambang Eropa berhasil menemukan beberapa yang mabuk, tetapi tidak mungkin di selamatkan karena kepulan asap tebal yang menghalangi mereka untuk masuk jauh ke dalam tambang.
Ke 26 korban berada di jalur udara yang di penuhi aliran gas yang menyerang dan mematikan , sisanya dapat menyelamatkan diri meninggalkan tambang dengan cara lain.
Bahwa bencana tersebut memakan banyak korban adalah di sebabkan adanya karbon monoksida dalam gas hasil pembakaran, sehingga para korban menjadi mabuk tanpa menyadari bahaya yang sebenarnya. Karena itu salah satu sipir penjara yang meskipun ada perintah telepon untuk segera meninggalkan tambang, tidak mampu menuruti perintah tersebut.
Beberapa menit kemudian saat do telpon kembali ketika dia menjawab :
" Saja Tida kKoewat Lagi " dan kemudian sipir tersebut di temukan dalam keadaan tewas dengan pesawat telpon dalam genggaman tangannya.
Karbon monoksida yang sangat beracun tidak hanya datang saat ada kebakaran tapi juga terjadi jika pada lokasi dengan suhu yang tinggi. Oleh karena itu keberadaannya hanya terdeteksi dalam gas pembakaran api tambang di tambang Ombilin yang juga pernah terjadi pada tahun 1914 saat terjadi kebakaran di lapisan A. lapangan tambang Pandjang, dengan kandungan 0,3 pCt, sedangkan kandungan 0,1 pCt. CO saja sudah bisa mematikan.
Karena ventilasi yang telah di sesuaikan , Kandungan Udara berangsur-angsur mulai membaik di dalam tambang sehingga mayat-mayat itu dapat ditemukan secara berurutan.
Tiga korban terakhir dimakamkan hari Senin tanggal 6 Februari, dan lusa penambangan batubara dapat dilanjutkan setelah
medan api yang berada di sisi aliran udara dibendung.
Karena fakta bahwa asap masih muncul dari beberapa galeri tambang, dapat disalah artikan bahwa tidak ada tindakan yang memadai untuk memadamkan api, namun untuk mencegah ledakan, aliran udara tetap terbuka sampai yang terakhir, dan mungkin tidak akan ditutup sampai bendungan di aliran udara masuk benar-benar tertutup, dan gas pembakaran yang keluar telah mendingin sedemikian rupa sehingga suhunya lebih lanjut mencegah ledakan. Hal ini selanjutnya dipertimbangkan untuk mencapai tempat api dengan lubang dari permukaan dan untuk memadamkannya melalui bilasan tipis.
Seorang Kuli bernama Kemis, pada hari Kamis 2 Februari keluar dari tambang dalam keadaan masih hidup, setelah berada di dalam tambang yang terbakar itu selama 84 jam.
Dia menerangkan pada saat kebakaran terjadi dia tertidur akibat menghirup sejumlah kecil gas CO dan akhirnya sadar kembali. Ketika telah berada di luar, dia mengeluh merasa tidak nyaman meskipun waktunya dalam pelayanan pasti sudah berakhir!
Penyebab kebakaran belum bisa dipastikan karena satu-satunya orang yang selamat dari kobaran api menyatakan lobang sudah terbakar begitu saja .Tidak ada indikasi lebih lanjut untuk menjelaskan penyebab kebakaran tersebut. Pemaksaan kubis dianggap tidak mungkin. Tumpukan kayu di pusat kebakaran terbakar dengan cara yang belum dapat dijelaskan.
Sumber = het nieuws van den dag ,voor nederlandsch indie - Vrijdag 24 Februari 1928
Penyunting: marjafri - wartawan, pendiri dan ketua Komunitas Anak Nagari Sawahlunto "Art, Social Culture and Tourism