HEADLINE
Setelah Perang Dunia I, Satu Generasi Mencari Makna Hidup Dalam The Sun Also Rises    
Senin, Oktober 05, 2026

On Senin, Oktober 05, 2026

Setelah Perang Dunia I, Satu Generasi Mencari Makna Hidup Dalam The Sun Also Rises
Oleh Nurul Nafisah Khairiyyah. Mahasiswa Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas. (Foto: Ist). 

PAMPLONA, Spain, summer 1926. Gerald Murphy, Sara Murphy, Pauline Pfeiffer, Ernest Hemingway and Hadley Hemingway. Photograph in the Ernest Hemingway Photograph Collection, John F. Kennedy Presidential Library and Museum, Boston. / Wikimedia Commons

Bertahun-tahun setelah Perang Dunia I, sekelompok ekspatriat menjalani kehidupan di antara kafe, pesta, alkohol, perjalanan, dan hubungan yang rumit di Paris dan Spanyol. Kehidupan Jake Barnes, Brett Ashley, Robert Cohn, Mike Campbell, dan Bill Gorton menunjukkan sebuah generasi yang berusaha menemukan makna dan arah hidup setelah perang, tetapi masih menghadapi ketidakpuasan, konflik emosional, dan pencarian akan sesuatu yang dapat membuat hidup mereka terasa berarti.

Jake Barnes, seorang jurnalis Amerika yang tinggal di Paris, membawa luka fisik akibat perang. Ketika seorang perempuan bertanya apa yang terjadi kepadanya, Jake hanya menjawab, “Aku terluka dalam perang.” Jawaban tersebut menghubungkan kehidupan pribadinya dengan dampak perang. Luka tersebut juga memengaruhi hubungannya dengan Brett Ashley, perempuan yang ia cintai tetapi tidak dapat ia miliki dalam hubungan seperti pasangan pada umumnya.

Dampak perang juga terlihat dari cara Jake dan teman-temannya menjalani kehidupan. Mereka sering bertemu di kafe, minum, menghadiri pesta, bepergian, dan mencari hiburan. Namun, berpindah dari satu tempat ke tempat lain tidak selalu membuat mereka menemukan tujuan hidup.

Robert Cohn menjadi salah satu contohnya. Meskipun memiliki uang dan kesempatan untuk bepergian, ia merasa hidupnya berlalu begitu saja tanpa benar-benar dijalani. “Aku tidak tahan memikirkan bahwa hidupku berlalu begitu cepat dan aku sebenarnya tidak benar-benar menjalaninya,” kata Cohn kepada Jake. Ia percaya bahwa pergi ke Amerika Selatan mungkin dapat memberikan perubahan yang ia butuhkan. Namun, Jake menjawab, “Kamu tidak bisa melarikan diri dari dirimu sendiri hanya dengan berpindah dari satu tempat ke tempat lain.”

Ketidakpuasan Cohn berlanjut ketika kelompok tersebut bepergian ke Spanyol. Perjalanan itu seharusnya memberikan kesempatan untuk memancing, menikmati pesta San Fermín di Pamplona, dan menjauh sejenak dari kehidupan di Paris. Namun, konflik pribadi justru mengikuti mereka. Cohn semakin tertekan karena Brett dan akhirnya pergi setelah terlibat dalam konfrontasi dengan Pedro Romero. Setelah itu, Cohn menangis di kamar hotel dan mengatakan bahwa ia telah mengalami ‘neraka’ karena Brett serta merasa bahwa “Semuanya sudah hilang.”

Hubungan Brett juga menunjukkan ketidakstabilan emosional yang terjadi dalam kelompok tersebut. Ia pernah menjadi V.A.D. selama perang dan menikah selama masa perang setelah laki-laki yang dicintainya meninggal karena disentri. Hubungannya dengan Jake menjadi rumit akibat luka perang yang dialami Jake, sementara hubungannya dengan laki-laki lain juga terus menimbulkan konflik baru.

Perjalanan para tokoh dari Paris ke Spanyol bukan hanya menunjukkan perpindahan tempat. Perjalanan tersebut juga menggambarkan usaha mereka untuk menemukan kesenangan dan tujuan hidup melalui perjalanan, pertemanan, hubungan romantis, minuman keras, olahraga, dan perayaan. Namun, berbagai masalah yang mereka bawa dari kehidupan sebelumnya tetap mengikuti mereka.

Novel tersebut memperlihatkan sebuah generasi yang telah melewati perang tetapi masih hidup dengan berbagai dampaknya. Luka Jake, ketidakpuasan Cohn, serta hubungan yang tidak stabil di antara para tokoh menunjukkan bagaimana mereka berusaha membangun kehidupan yang bermakna di dunia yang telah berubah.

Pandangan mengenai fenomena Lost Generation juga disampaikan oleh Dzakirah Ghina Amanda, mahasiswa Farmasi Universitas Andalas. Saat ditanya tentang istilah Lost Generation, Dzakirah menjelaskan bahwa istilah tersebut merujuk pada generasi yang mengalami dampak besar dari Perang Dunia I hingga merasa kehilangan arah, tujuan, dan makna hidup. 

Menurutnya, generasi tersebut mengalami kekecewaan, trauma, serta kesulitan menyesuaikan diri dengan kehidupan setelah perang. Kondisi ini terlihat pada tokoh Jake, Brett, dan Robert yang menjalani kehidupan penuh perjalanan, pesta, dan hubungan yang rumit, tetapi tetap merasa tidak puas.

Saat ditanya tentang perjalanan dan kehidupan baru yang dijalani para tokoh, Dzakirah menilai bahwa keduanya dapat menjadi usaha untuk menemukan makna hidup sekaligus bentuk pelarian. Namun, dalam cerita, ia melihat sisi pelarian lebih dominan. Perjalanan dari Paris ke Spanyol, pesta, minuman, dan hubungan dengan orang lain memang memberikan hiburan sementara, tetapi masalah dan luka masa lalu tetap mengikuti mereka. 

Setelah Perang Dunia I, Satu Generasi Mencari Makna Hidup Dalam The Sun Also Rises
Mereka kemudian merasa bingung mengenai bagaimana harus menjalani kehidupan setelah berbagai pengalaman yang telah mereka lalui. (Foto: Ist). 

Ia menilai bahwa perjalanan tersebut belum benar-benar menyelesaikan masalah atau membantu para tokoh menemukan tujuan hidup. Hal ini sejalan dengan perkataan Jake bahwa seseorang tidak dapat melarikan diri dari dirinya sendiri hanya dengan berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

Dzakirah juga memberikan pandangannya mengenai alasan seseorang dapat kehilangan arah setelah mengalami pengalaman berat. Menurutnya, pengalaman tersebut dapat menimbulkan trauma, kehilangan, dan kekecewaan yang kemudian mengubah cara pandang seseorang terhadap kehidupan.

Hal-hal yang sebelumnya dianggap penting mungkin tidak lagi terasa berarti. Akibatnya, seseorang dapat merasa kosong, bingung menentukan masa depan, atau mencari kesenangan untuk melupakan masalah. Kondisi serupa, menurut Dzakirah, terlihat pada para tokoh yang terus mencari kebahagiaan melalui perjalanan, pesta, dan hubungan, tetapi masih membawa luka dari masa lalu.

Sementara itu, Nurul Zahrah Azizah, mahasiswa Desain Komunikasi Visual Institut Teknologi Bandung, memberikan pandangan yang sedikit berbeda. Ketika ditanya mengenai pengertian Lost Generation, Nurul mengatakan bahwa istilah tersebut dapat menggambarkan orang-orang yang merasa kehilangan arah atau tujuan hidup setelah mengalami kejadian yang berat.

Mereka kemudian merasa bingung mengenai bagaimana harus menjalani kehidupan setelah berbagai pengalaman yang telah mereka lalui.

Mengenai perjalanan yang dilakukan para tokoh, Nurul melihat bahwa kehidupan baru tidak selalu hanya menjadi bentuk pelarian. Ia mengakui bahwa pada awalnya perjalanan tersebut bisa menjadi cara untuk menjauh dari hal-hal yang membuat mereka tertekan.

Namun, seiring berjalannya waktu, kehidupan baru juga dapat memberikan pengalaman dan membantu seseorang menemukan tujuan baru. “Nggak selalu berarti mereka benar-benar lari dari masa lalu,” ujarnya. 

Menurut Nurul, perjalanan juga dapat menjadi proses untuk perlahan melanjutkan hidup dan menemukan kembali diri sendiri.
Saat ditanya mengapa seseorang dapat kehilangan arah atau tujuan hidup setelah mengalami pengalaman berat, Nurul menjelaskan bahwa pengalaman tersebut dapat membuat seseorang berubah dan mempertanyakan kembali berbagai hal dalam hidupnya. 

Sesuatu yang sebelumnya dianggap penting bisa saja tidak lagi terasa berarti. Ia juga menilai bahwa seseorang membutuhkan waktu untuk menerima apa yang telah terjadi. Karena itu, perasaan bingung dan tidak mengetahui apa yang harus dilakukan selanjutnya dapat menjadi bagian dari proses sebelum seseorang menemukan kembali arah hidupnya.

Pandangan lain disampaikan oleh Annisa Zalfa Zahirah, mahasiswa Teknik Informatika Universitas Putra Indonesia “YPTK”. Ia juga memahami Lost Generation sebagai orang-orang yang kehilangan arah atau tujuan hidup setelah mengalami hal-hal yang berat. Menurut Annisa, kondisi tersebut dapat membuat seseorang kehilangan semangat, merasa bingung, dan tidak mengetahui apa yang harus dilakukan untuk menghadapi masa depan.

Dalam melihat perjalanan yang dilakukan para tokoh, Annisa menilai bahwa dampaknya bergantung pada bagaimana seseorang menyikapi masa lalu. Jika seseorang mampu belajar dari pengalaman yang telah dilewati, perjalanan dapat membantunya menemukan kembali makna hidup.

Namun, jika perjalanan hanya digunakan untuk melarikan diri dari masa lalu, hal tersebut justru dapat menjadi bentuk pelarian. Dengan demikian, perjalanan tidak secara otomatis memberikan makna baru, tetapi bergantung pada bagaimana seseorang menghadapi dan memahami pengalaman hidupnya.

Annisa juga menambahkan bahwa pengalaman berat terkadang membuat seseorang sulit melihat hal-hal positif karena masih terpikir oleh kejadian yang telah dilewati. Akibatnya, seseorang dapat merasa tidak memiliki tujuan atau tidak mengetahui apa yang sebenarnya diinginkan. Namun, menurutnya, kehilangan arah tersebut juga bergantung pada bagaimana setiap individu menghadapi masalah yang dialaminya.

Perjalanan mereka juga menunjukkan bahwa meninggalkan suatu tempat tidak selalu berarti meninggalkan masalah dari masa lalu. Seperti yang dikatakan Jake kepada Cohn, “Kamu tidak bisa melarikan diri dari dirimu sendiri hanya dengan berpindah dari satu tempat ke tempat lain.” (*)

Madjoe Pahit dari Tandjong Sakti: Jejak Kisah Si Pahit Lidah dalam Catatan Tahun 1917    
Senin, Oktober 05, 2026

On Senin, Oktober 05, 2026

Madjoe Pahit dari Tandjong Sakti: Jejak Kisah Si Pahit Lidah dalam Catatan Tahun 1917
Kisah Madjoe Pahit yang dituturkan dalam tulisan ini menarik perhatian karena memiliki sejumlah unsur yang sangat dekat dengan tradisi Si Pahit Lidah atau Serunting Sakti yang dikenal dalam tradisi lisan Sumatra bagian selatan. (Foto: Marjafri). 

KATA
Pengantar

Kisah Madjoe Pahit yang dituturkan dalam tulisan ini menarik perhatian karena memiliki sejumlah unsur yang sangat dekat dengan tradisi Si Pahit Lidah atau Serunting Sakti yang dikenal dalam tradisi lisan Sumatra bagian selatan. Namun, kisah yang dimuat dalam Java-post; weekblad van Nederlandsch-Indië, 6 April 1917, tampil dengan nama tokoh, alur, tokoh lawan, serta sejumlah tempat yang berbeda.

Kisah ini dicatat oleh Pastoor Donat Verhoeven, yang menulis dari Tandjong Sakti. Ia menyebut bahwa sebelumnya pernah mendengar nama Madjoe Pahit, tetapi belum mengetahui alasan tokoh tersebut begitu terkenal dalam ingatan masyarakat setempat. Setelah melakukan penelusuran melalui pertanyaan kepada penduduk, ia kemudian menuliskan cerita yang didengarnya.

Dalam kisah tersebut, Madjoe Pahit digambarkan sebagai seorang pemuda dari Palembang yang memperoleh sakti setelah bertemu dengan para dewe dari Boekit Segoentong. Sejak memperoleh kesaktian itu, ucapannya mempunyai akibat yang luar biasa. Orang-orang dapat berubah menjadi kera, manusia dan kerbau menjadi batu, sementara manusia lainnya berubah menjadi binatang. Perjalanan Madjoe Pahit kemudian membawanya melalui sejumlah tempat di wilayah Sumatra bagian selatan, antara lain Moeara Rambong, Tandjong Sakti, Batoe Rantjing, Sebakas, Besemah, hingga Oeloe Padang Goetji.

Pada bagian akhir, muncul tokoh Matè Empat atau Mr. Vieroog, seorang manusia dengan dua mata di bagian depan dan dua mata di bagian belakang kepala. Ia diturunkan ke bumi untuk menghadapi Madjoe Pahit. Pertarungan kesaktian keduanya kemudian berakhir dengan kematian Madjoe Pahit dan, setelah itu, kematian Matè Empat ketika mencicipi lidah Madjoe Pahit yang disebut sangat pahit.

Kemiripan unsur-unsur tersebut dengan cerita Si Pahit Lidah/Serunting Sakti tentu menarik untuk dicermati. Namun, tulisan ini tidak secara eksplisit menyebut Madjoe Pahit sebagai Si Pahit Lidah atau Serunting Sakti. Karena itu, kisah berikut sebaiknya dibaca terlebih dahulu sebagaimana ia dicatat pada sumber tahun 1917, dengan nama, tempat, tokoh, dan alurnya tetap dipertahankan.

Dengan demikian, kisah ini bukan sekadar cerita tentang seorang tokoh sakti. Ia juga merupakan catatan tertulis mengenai sebuah tradisi cerita yang hidup di wilayah Tandjong Sakti dan sekitarnya pada awal abad ke-20. Kemiripannya dengan tradisi Si Pahit Lidah membuka ruang untuk penelitian lebih lanjut mengenai hubungan, perbedaan, dan kemungkinan persebaran berbagai versi kisah tersebut di Sumatra bagian selatan.

Berikut adalah kisah Madjoe Pahit sebagaimana dimuat dalam Java-post; weekblad van Nederlandsch-Indië, tahun ke-15, nomor 14, 6 April 1917.

SEBUAH CERITA DARI BENGKOELENSCHE

Pastoor Donat Verhoeven menulis dari Tandjong Sakti

Dulu dalam sebuah surat saya pernah menyebut nama MADJOE PAHIT. Sampai saat ini belum jelas bagi saya, apa yang membuat bangsawan pribumi ini begitu terkenal di kalangan anak cucu (generasi penerus) di sini. Setelah bertanya-tanya, sekarang saya mengetahuinya. Mungkin apa yang sampai ke telinga saya ini juga menarik perhatian Anda. Jika Anda berkenan, maukah Anda mendengarkannya sebentar?

Seberapa jauh kisah ini di masa lalu, tentu saja tidak ada yang tahu. MADJOE PAHIT adalah seorang pemuda dari Palembang yang menjalani kehidupan yang sangat saleh/tertutup, namun sayangnya, ia belum mendapatkan sakti (kekuatan supranatural).

Para dewa (makhluk halus tingkat tinggi) akhirnya berkenan turun dari Bukit Seguntong (Bukit Seguntang) menemui MADJOE PAHIT untuk bercakap-cakap dengannya. Setelah mengobrol tentang berbagai hal, mereka menyuruhnya untuk menjulurkan lidah. Seketika itu juga, mereka meludahi mulutnya.

Tidak lama kemudian, MADJOE PAHIT pulang ke rumah dan menyuruh orang rumah menyiapkan makanan; perutnya sudah keroncongan karena kelaparan.

Seketika itu juga, saudara perempuannya mengambil beras yang diperlukan dan pergi ke sungai untuk mencucinya. Karena menganggap saudara perempuannya pergi terlalu lama, MADJOE PAHIT menjadi marah dan berucap: "Biarlah saudara perempuanku mati di tepi air itu dan tidak usah kembali lagi ke rumah ini."

Keesokan paginya, orang-orang benar-benar menemukan mayat saudara perempuan MADJOE PAHIT di tepi air. Untuk pertama kalinya, MADJOE PAHIT menyadari bahwa dia kini memiliki kekuatan sakti, tetapi di saat yang sama dia mulai menangis dan meratap dengan hebat: "Aduh! Aduh! Adik perempuanku mati. Sungguh malapetaka! Sungguh malapetaka!"

Untuk mengalihkan kesedihannya, dia menyandang tas perjalanannya di punggung dan pergi mengembara.

Di Muara Rambong, MADJOE PAHIT bertemu dengan banyak orang. Saat dia bertanya mengapa orang-orang berkumpul di sana, tidak ada yang memberinya jawaban. Hal ini membuat MADJOE PAHIT kehilangan kesabaran. Dengan suara yang menggelegar lantang, dia berteriak: "Biarlah semua orang di sini menjadi kera!" Dan... dalam sekejap mata, semua orang menumbuhkan ekor kecil dan benar-benar berubah menjadi kera....

Tidak lama kemudian, MADJOE PAHIT tiba di Tanjung Sakti. Dia pergi ke Batu Rancing dan bertemu dengan seorang pria yang sedang membawa kerbaunya ke sungai untuk memandikan binatang itu hingga bersih. MADJOE PAHIT menyapa pria itu dengan salam yang biasa digunakan: "Mau ke mana, Pak Tua?"

Namun, si Pak Tua tidak menjawab, dan MADJOE PAHIT kembali tersulut amarahnya, seraya berkata: "Engkau dan kerbaumu bersama-sama akan menjadi batu besar!" Sampai hari ini, orang-orang masih menunjukkan sebuah batu besar yang sangat mirip dengan kepala kerbau dengan tanduk yang besar. Namun, sesuatu yang mirip dengan wujud manusia tidak dapat ditemukan di sana.

"Mungkin manusia-batu itu dulunya telah hanyut tersapu banjir," kata orang-orang pribumi kami.

MADJOE PAHIT terus melanjutkan perjalanannya dan akhirnya tiba di Sebakas, tempat di mana banyak orang tinggal, karena pada masa itu di sana terdapat sebuah dusun yang sangat bagus dan makmur.

Kembali lagi MADJOE PAHIT tidak dapat menahan rasa ingin tahunya, lalu bertanya: "Mengapa orang-orang berkumpul di sini?"

Tidak ada yang menjawab. "Semua orang di sini menjadi binatang!" seru MADJOE PAHIT. Atau menurut versi orang lain: "Orang-orang yang tampan dan baik menjadi dewa di atas Sebakas, sedangkan orang-orang lainnya menjadi binatang!"

Setelah kejadian itu, MADJOE PAHIT pergi ke Besemah dan bertemu dengan seorang pria dari dusun BABAS NJAME atau TANJONG AGRẺ yang sedang bersama seekor kerbau. Ketika pria ini juga tidak menjawab pertanyaannya, dia tiba-tiba berubah menjadi batu, persis seperti yang diperintahkan oleh MADJOE PAHIT.

Setelah itu, 7 dewa, 8 diwata, dan 9 paroli (para tetua/makhluk suci) bermusyawarah. Mereka sampai pada kesimpulan bahwa jika MADJOE PAHIT dibiarkan lebih lama lagi berada di bumi, semua manusia akan punah dan dalam waktu singkat akan berubah menjadi batu atau binatang.

Untuk mencegah hal ini, mereka memutuskan: "Sangat baik jika seorang pria bermata empat turun ke bumi dengan tujuan untuk menyingkirkan MADJOE PAHIT."

Pria yang memiliki dua mata di depan dan dua mata di belakang kepalanya itu pun turun dan bertemu dengan MADJOE PAHIT di Hulu Padang Guci. Di sana, MATÈ EMPAT (Tuan Bermata Empat) langsung mengajaknya mengobrol.

MATÈ EMPAT bertanya: "Apakah kamu memiliki kekuatan supranatural?"

"Tentu saja," jawab MADJOE, "Aku memiliki kekuatan supranatural yang sangat besar."

"Maukah kita menguji, siapa yang memiliki kekuatan supranatural paling tinggi?" usul MATÈ EMPAT. Dan MADJOE PAHIT menjawab: "Setuju!"

Di dekat sana berdiri sebuah pohon besar yang disebut "nan reboe" (pohon merbau/rebo), dan kini MATÈ EMPAT mengusulkan kepada MADJOE PAHIT: "Salah satu dari kita harus tidur terlebih dahulu di bawah pohon nan reboe ini, sementara yang lain memanjat ke atas pohon dan menjatuhkan sebuah dahan ke bawah. Jika jatuhnya dahan itu melukai orang yang berada di bawah pohon, maka orang yang berada di atas pohon itulah yang memiliki kekuatan supranatural tertinggi."

MADJOE PAHIT memerintahkan MATÈ EMPAT untuk tetap berada di bawah pohon, sementara dia sendiri yang memanjat ke atas pohon.

Setelah beberapa saat, MADJOE PAHIT menjatuhkan sebatang dahan ke bawah, tetapi karena MATÈ EMPAT juga memiliki dua mata di belakang kepalanya, dia melihat dahan itu datang dan segera menghindar dengan cepat.

Sekarang giliran dibalik; MADJOE PAHIT tinggal di bawah pohon dan MATÈ EMPAT memanjat ke atasnya. Karena mata MADJOE PAHIT hanya menghadap ke tanah, dia tidak bisa melihat dahan tersebut jatuh, akibatnya dia terhantam oleh dahan itu dan.... tewas.

Maka MATÈ EMPAT keluar sebagai pemenang. Namun, dia belum merasa puas dan berpikir dalam hatinya: "Mengapa MADJOE PAHIT bisa memiliki kekuatan sakti? Mungkin karena namanya berarti 'Lidah Pahit', rahasianya ada pada lidahnya. Ayo, coba kuperiksa apakah lidahnya benar-benar pahit atau tidak."

Seketika itu juga dia mengambil potongan kecil dari lidah tersebut, mencicipinya dan.... mati pada saat itu juga, karena rasa pahit yang luar biasa dari lidah tersebut....

* Marjafri - Jurnalis, Pegiat budaya, Ketua Komunitas Anak Nagari Sawahlunto "Art, Social Culture & Tourism

Erianto Mahmuda Bongkar Kekuatan Kota Padang di Porprov XVI Sumbar: 31 Emas, 64 Medali dan 8 Cabor Jadi Mesin Juara!    
Minggu, Oktober 04, 2026

On Minggu, Oktober 04, 2026

Erianto Mahmuda Bongkar Kekuatan Kota Padang di Porprov XVI Sumbar: 31 Emas, 64 Medali dan 8 Cabor Jadi Mesin Juara!
Ketua KONI Kota Padang, Erianto Mahmuda, menyebut capaian tersebut menjadi sinyal kuat bahwa perjuangan atlet Kota Padang di Porprov XVI Sumbar berjalan di jalur positif. (Foto: Ist). 

BENTENGSUMBAR.COM
- Perolehan medali sementara Kota Padang di Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XVI Sumatera Barat 2026 terus mencuri perhatian. Hingga Ahad malam, 4 Oktober 2026, kontingen Kota Padang telah mengoleksi 64 medali, terdiri dari 31 emas, 18 perak, dan 15 perunggu.

Ketua KONI Kota Padang, Erianto Mahmuda, menyebut capaian tersebut menjadi sinyal kuat bahwa perjuangan atlet Kota Padang di Porprov XVI Sumbar berjalan di jalur positif. Raihan emas yang sudah menembus angka 31 menjadi modal penting untuk menjaga persaingan di papan atas klasemen.

Yang paling mencolok, gimnastik tampil sebagai penyumbang emas terbesar. Cabor ini sementara telah mengamankan 8 emas dan 1 perunggu, atau total 9 medali. Performa tersebut membuat gimnastik menjadi salah satu mesin utama perolehan medali Kota Padang.

Tak kalah menggigit, taekwondo juga tampil luar biasa dengan torehan 7 emas, 7 perak, dan 4 perunggu. Dengan total 18 medali, taekwondo menjadi cabor dengan jumlah medali terbanyak dalam daftar sementara kontingen Kota Padang.

Panahan ikut menyumbang kekuatan besar dengan 5 emas, 3 perak, dan 4 perunggu. Sementara itu, gulat mengamankan 4 emas, 3 perak, dan 1 perunggu. Dua cabor ini ikut menjaga laju perolehan medali Kota Padang tetap agresif.

Dari cabang balap sepeda, Kota Padang menambah 3 emas, 2 perak, dan 2 perunggu. Kemudian kabaddi menyumbangkan 2 emas, sedangkan akuatik mencatat 1 emas, 3 perak, dan 2 perunggu. Petanque juga ikut menyumbang 1 emas dan 1 perunggu.

Dengan torehan sementara tersebut, tercatat 8 cabang olahraga dari 54 cabor telah menyumbangkan medali untuk Kota Padang. Angka ini masih berpeluang bertambah seiring pertandingan Porprov XVI Sumatera Barat 2026 terus bergulir.

Erianto Mahmuda menegaskan, KONI Kota Padang terus memberikan perhatian terhadap perjuangan para atlet dan kontingen. Capaian 31 emas menjadi penyemangat untuk menjaga fokus hingga seluruh pertandingan berakhir. Bagi Kota Padang, setiap pertandingan adalah kesempatan untuk menambah medali dan memperkuat posisi di klasemen.

Perolehan 31 emas, 18 perak, 15 perunggu atau total 64 medali menjadi kabar panas dari arena Porprov XVI Sumbar. Dukungan untuk atlet Kota Padang pun terus mengalir agar perjuangan meraih prestasi terbaik dan mempertahankan gengsi olahraga daerah bisa dituntaskan dengan hasil maksimal. (*) 

Pewarta: Zamri Yahya, WU

Erianto Bakar Semangat Kontingen Padang! 8 Emas Gimnastik Jadi Modal Kejar Juara Umum Porprov Sumbar 2026    
Minggu, Oktober 04, 2026

On Minggu, Oktober 04, 2026

Erianto Bakar Semangat Kontingen Padang! 8 Emas Gimnastik Jadi Modal Kejar Juara Umum Porprov Sumbar 2026
Ketua Umum KONI Kota Padang Erianto kembali mendapat sorotan setelah kontingen Kota Padang mencatat hasil gemilang pada hari ketiga Porprov XVI Sumatera Barat 2026. (Foto: Dedi). 

BENTENGSUMBAR.COM
- Ketua Umum KONI Kota Padang Erianto kembali mendapat sorotan setelah kontingen Kota Padang mencatat hasil gemilang pada hari ketiga Porprov XVI Sumatera Barat 2026. Cabor gimnastik sukses menyumbangkan 8 medali emas dan 1 medali perunggu dari 14 nomor yang dipertandingkan.

Raihan tersebut menjadi tambahan amunisi penting bagi Kota Padang dalam perburuan juara umum Porprov Sumbar 2026. Penampilan para atlet di Kompleks GOR PT Semen Padang, Minggu (4/10/2026), menunjukkan bahwa persaingan perebutan medali semakin sengit.

Erianto bersama Sekda Kota Padang Raju Minropa memantau langsung perjuangan para atlet gimnastik. Turut hadir Bendahara Umum KONI Kota Padang Zulhardi Z. Latif, Staf Khusus KONI Kota Padang Jufrizal, Wakil Sekretaris III KONI Kota Padang Dedi Prima Maha Rajo Dirajo, serta jajaran Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Padang.

Erianto menyebut raihan 8 emas dan 1 perunggu menjadi modal penting untuk menjaga peluang Kota Padang dalam persaingan menuju posisi teratas klasemen medali. Namun, ia mengingatkan seluruh atlet dan pelatih agar tidak cepat puas.

“Kita jangan cepat puas. Perjuangan masih panjang. Mudah-mudahan medali emas terus bertambah dan target juara umum dapat kita wujudkan,” tegas Erianto.

Sementara itu, Raju Minropa mengapresiasi perjuangan atlet gimnastik Kota Padang. Menurutnya, capaian delapan emas dan satu perunggu dari 14 nomor pertandingan merupakan hasil positif yang patut diapresiasi sekaligus menjadi penyemangat bagi seluruh kontingen.

Dukungan Pemerintah Kota Padang juga dinilai memberikan energi tambahan bagi atlet, pelatih, dan ofisial. Kehadiran Raju Minropa mewakili Wali Kota Padang Fadly Amran menjadi bagian dari dukungan pemerintah terhadap perjuangan kontingen pada Porprov XVI Sumbar 2026.

Di balik torehan medali tersebut terdapat kerja keras atlet, pelatih, ofisial, pembina, dan orang tua atlet. Dukungan seluruh pihak menjadi kekuatan penting untuk menjaga mental dan konsistensi para atlet menghadapi pertandingan berikutnya.

Perjuangan Kota Padang belum selesai. Dengan kompetisi Porprov XVI Sumbar yang berlangsung hingga 14 Oktober 2026, Erianto meminta seluruh kontingen terus menjaga fokus dan semangat. 8 emas gimnastik menjadi sinyal kuat, tetapi perburuan juara umum masih panjang dan setiap pertandingan akan menentukan. (*) 

Laporan: Dedi Prima
Editor: Zamri Yahya, WU

Goro Bareng di Sekretariat, LMP Sumbar Tunjukkan Kekompakan dan Soliditas Organisasi    
Minggu, Oktober 04, 2026

On Minggu, Oktober 04, 2026

Goro Bareng di Sekretariat, LMP Sumbar Tunjukkan Kekompakan dan Soliditas Organisasi
Dipimpin Kamada LMP Sumbar Surya Jufri, S.Sos, MM, jajaran LMP menggelar goro bersama di sekretariat Jalan By Pass, Kecamatan Lubuk Begalung, Kota Padang, Minggu (4/10/2026). (Foto: Novrianto). 

BENTENGSUMBAR.COM
- Semangat gotong royong puluhan pengurus dan anggota Laskar Merah Putih (LMP) Markas Daerah Sumatera Barat kembali terlihat. Dipimpin Kamada LMP Sumbar Surya Jufri, S.Sos, MM, jajaran LMP menggelar goro bersama di sekretariat Jalan By Pass, Kecamatan Lubuk Begalung, Kota Padang, Minggu (4/10/2026).

Kegiatan ini bukan sekadar bersih-bersih sekretariat. Goro bersama menjadi momentum memperkuat kekompakan, soliditas dan rasa memiliki terhadap organisasi. Puluhan anggota bahu-membahu membersihkan lingkungan, menata ruangan, merapikan fasilitas hingga membenahi bagian sekretariat yang membutuhkan perbaikan.

Goro tersebut dikomandoi Panglima LMP Mada Sumbar Ade Putra Koto. Tanpa sekat jabatan, pengurus dan anggota turun langsung mengerjakan berbagai pekerjaan. Suasana kekeluargaan pun terasa kuat di tengah aktivitas pembenahan sekretariat.

Ade Putra Koto menegaskan, sekretariat merupakan pusat koordinasi dan komunikasi organisasi. Karena itu, tempat tersebut harus dibuat nyaman dan representatif agar mampu menunjang berbagai kegiatan LMP Mada Sumbar, termasuk program internal dan kegiatan sosial kemasyarakatan.

“Goro ini bukan hanya untuk membenahi dan membersihkan sekretariat, tetapi yang paling utama adalah membangun kebersamaan dan kekompakan seluruh jajaran LMP Mada Sumbar. Dengan turun bersama, kita ingin menumbuhkan rasa memiliki terhadap organisasi,” ujar Ade Putra Koto.

Sementara itu, Kamada LMP Sumbar Surya Jufri, S.Sos, MM, mengapresiasi antusiasme puluhan pengurus dan anggota yang hadir. Menurutnya, kekompakan tersebut menjadi bukti bahwa semangat kebersamaan dan rasa memiliki terhadap LMP Sumbar masih terjaga kuat.

Surya Jufri berharap sekretariat yang semakin tertata dapat menjadi rumah bersama keluarga besar LMP Mada Sumbar. Dari tempat tersebut, jajaran organisasi diharapkan mampu memperkuat komunikasi, menyusun program, membangun silaturahmi serta melahirkan kegiatan positif yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Yang terpenting adalah bagaimana kita menjaga kekompakan dan terus bergerak bersama. Kita ingin LMP Mada Sumbar semakin solid, semakin tertata dan ke depan semakin banyak memberikan kontribusi positif untuk masyarakat Sumatera Barat,” tegas Surya Jufri.

Goro bersama ini pun menjadi sinyal kuat bahwa LMP Mada Sumbar terus membangun organisasi melalui kerja nyata. Dengan semangat gotong royong, komunikasi dan kekeluargaan, sekretariat di Jalan By Pass Lubeg diharapkan menjadi pusat aktivitas organisasi yang semakin aktif, solid dan konstruktif bagi masyarakat. (*) 

Laporan: Novrianto
Editor: Zamri Yahya, WU

7 Emas Diperebutkan! Bulutangkis Porprov XVI Sumbar 2026 Memanas di Benteng Badminton Hall    
Minggu, Oktober 04, 2026

On Minggu, Oktober 04, 2026

7 Emas Diperebutkan! Bulutangkis Porprov XVI Sumbar 2026 Memanas di Benteng Badminton Hall
Pertandingan yang menjadi salah satu cabang olahraga bergengsi ini dipusatkan di Benteng Badminton Hall, Kota Padang, Minggu (4/10/2026). (Foto: Tommi). 

BENTENGSUMBAR.COM
-  Persaingan atlet bulutangkis dalam Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XVI Sumatera Barat 2026 resmi bergulir. Pertandingan yang menjadi salah satu cabang olahraga bergengsi ini dipusatkan di Benteng Badminton Hall, Kota Padang, Minggu (4/10/2026).

Atmosfer kompetisi langsung terasa sejak pertandingan dimulai. Para atlet bulutangkis Porprov XVI Sumbar tampil membawa misi besar untuk mengharumkan nama daerah masing-masing dalam ajang olahraga tingkat provinsi tersebut.

Panitia Pelaksana Cabor Bulutangkis Porprov XVI Sumbar, Tedy Roy, mengatakan pertandingan berlangsung selama delapan hari, mulai 3 hingga 10 Oktober 2026. Seluruh rangkaian pertandingan dipusatkan di Benteng Badminton Hall.

Setiap hari, pertandingan dijadwalkan mulai pukul 09.00 WIB dan ditargetkan berakhir sekitar pukul 17.00 WIB. Namun, jadwal bisa molor hingga sekitar pukul 19.00 WIB karena terdapat atlet yang harus menjalani pertandingan rangkap.

Persaingan sengit terlebih dahulu terjadi pada kategori beregu putra dan beregu putri. Babak beregu dijadwalkan berlangsung hingga Rabu sebelum kompetisi berlanjut ke nomor perorangan.

Setelah nomor beregu selesai, tensi pertandingan dipastikan semakin tinggi. Atlet akan kembali bertarung pada nomor tunggal putra, tunggal putri, ganda putra, ganda putri, dan ganda campuran (mix double).

Tedy Roy menjelaskan, total terdapat tujuh medali emas yang diperebutkan pada cabor bulutangkis Porprov XVI Sumbar 2026. Tujuh nomor tersebut mencakup beregu putra, beregu putri, tunggal putra, tunggal putri, ganda putra, ganda putri, serta ganda campuran.

“Untuk hari ini kita mulai dari jam 9 pagi, itu kita buat sampai jam 5 sore. Tapi karena ada beberapa pertandingannya rangkap, mungkin bisa sampai jam 7-an malam maksimalnya. Kita bertanding sampai tanggal 10 Oktober,” ujar Tedy Roy.

Ia menambahkan, rangkaian pertandingan dimulai dari nomor beregu hingga Rabu, kemudian dilanjutkan dengan nomor perorangan. Para atlet Porprov menjadi pusat perhatian karena harus menjaga stamina, konsentrasi, dan strategi demi mengejar peluang meraih medali emas bagi kontingennya.

Dengan tujuh emas yang diperebutkan, Bulutangkis Porprov XVI Sumbar 2026 menjadi salah satu arena yang layak disorot. Benteng Badminton Hall pun menjadi saksi perebutan prestasi para atlet bulutangkis Sumatera Barat hingga pertandingan berakhir pada 10 Oktober 2026. (*) 

Editor: Zamri Yahya, WU

Bola Voli Kota Padang Bidik 3 Emas di Porprov XVI Sumbar, Tri Putra: Jangan Mudah Menyerah!    
Minggu, Oktober 04, 2026

On Minggu, Oktober 04, 2026

Bola Voli Kota Padang Bidik 3 Emas di Porprov XVI Sumbar, Tri Putra: Jangan Mudah Menyerah!
Pelepasan kontingen berlangsung di halaman Kantor Kerapatan Adat Nagari (KAN) Pauh IX, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, Minggu (4/10/2026). (Foto: Dedi). 

BENTENGSUMBAR.COM
- Persaingan Porprov XVI Sumatera Barat 2026 semakin panas. Cabang olahraga Bola Voli Kota Padang resmi dilepas untuk bertarung membawa nama daerah pada ajang olahraga provinsi yang digelar di Kabupaten Tanah Datar.

Pelepasan kontingen berlangsung di halaman Kantor Kerapatan Adat Nagari (KAN) Pauh IX, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, Minggu (4/10/2026). Sebanyak 44 atlet, pelatih, dan ofisial siap menjadi bagian dari perjuangan Kota Padang mengejar prestasi terbaik.

Sekretaris Umum KONI Kota Padang, Dr. Tri Putra Junaidi Nast, S.Pd., M.Pd., secara resmi melepas kontingen tersebut. Dalam pesannya, ia meminta para atlet tampil percaya diri, menjaga kondisi fisik, serta mempertahankan kekompakan selama pertandingan.

“Jaga kesehatan, fokus menghadapi pertandingan, dan jangan mudah menyerah. Tampilkan kemampuan terbaik yang sudah dilatih selama menjalani persiapan,” tegas Tri Putra.

Target yang dipasang PBVSI Kota Padang terbilang berani dan tinggi. Dari empat nomor yang dipertandingkan, tim Bola Voli Kota Padang membidik tiga medali emas pada Porprov XVI Sumbar 2026.

Empat nomor tersebut yakni bola voli indoor putra, indoor putri, bola voli pasir putra, dan bola voli pasir putri. Target tiga emas menjadi tantangan serius bagi para atlet untuk membuktikan hasil latihan dan pembinaan yang telah dilakukan.

Sekretaris Umum PBVSI Kota Padang, Padri, mengatakan persiapan atlet dilakukan secara intensif. Bukan hanya teknik, tetapi juga kekuatan fisik, mental bertanding, disiplin, kekompakan, hingga konsistensi menjadi perhatian sebelum turun ke arena Porprov.

“Kami yakin dan percaya dengan persiapan tim yang ada. Mudah-mudahan kita bisa membawa medali pulang dan meraih prestasi yang kita inginkan,” ujar Tri Putra.

Dukungan terhadap kontingen Bola Voli Kota Padang diharapkan menjadi bagian penting dari perjuangan mewujudkan Padang Juara. Jajaran pengurus PBVSI Kota Padang, KONI Kota Padang, atlet, pelatih, dan ofisial turut hadir dalam pelepasan tersebut. Kini, tantangan berada di tangan para pejuang voli Kota Padang untuk tampil maksimal, menjunjung sportivitas, dan membawa pulang medali dari Porprov XVI Sumbar 2026. (*) 

Laporan: Dedi Prima
Editor: Zamri Yahya, WU