HEADLINE
Gambaran Ruang Literasi Terbuka Dispusip Kota Padang Menurut Pelajar    
Minggu, Juli 26, 2026

On Minggu, Juli 26, 2026

Gambaran Ruang Literasi Terbuka Dispusip Kota Padang Menurut Pelajar
Para pelajar asyik membaca di Halaman Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kota Padang, Jl. Bgd. Aziz Chan No.2, Alang Laweh, Kec. Padang Selatan, Kota Padang, Sabtu (25/7/2026). (Foto: Diskominfo). 

BENTENGSUMBAR.COM
- Kehadiran taman bacaan luar ruang di halaman Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kota Padang mendapat respon positif dari masyarakat. Ruang literasi terbuka tersebut dinilai memberikan pengalaman berbeda bagi pengunjung karena memungkinkan aktivitas membaca dilakukan dalam suasana yang lebih santai, teduh, dan dekat dengan lingkungan terbuka.

Tidak hanya menjadi tempat membaca, taman bacaan tersebut juga menjadi ruang publik yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk bersantai dan menambah pengetahuan. Deretan buku yang tersedia di area terbuka menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang ingin mengisi waktu luang dengan aktivitas yang bermanfaat.

Salah seorang pengunjung, Laskar Lazuardi Syarif, siswa SMK Negeri 2 Pariaman, mengaku menikmati suasana taman bacaan luar ruang tersebut. Menurutnya, suasana terbuka dan teduh membuat kegiatan membaca terasa lebih santai dibandingkan membaca di dalam ruangan.

“Kalau di sini dingin, terbuka, dan adem. Kalau di dalam ruangan itu seperti tidak bisa berbicara seperti ini, harus diam dan sunyi. Kadang juga terasa suntuk. Kalau di sini lebih santai dan lebih seru karena suasananya terbuka," katanya di Halaman Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kota Padang, Jl. Bgd. Aziz Chan No.2, Alang Laweh, Kec. Padang Selatan, Kota Padang, Sabtu (25/7/2026).

Laskar menyebut, dirinya tertarik dengan sejumlah koleksi buku yang tersedia di taman bacaan tersebut. Ia berharap ke depan koleksi buku dapat terus diperbanyak, termasuk buku cerita tentang kenabian yang menjadi salah satu jenis bacaan yang diminatinya.

“Kalau untuk bukunya, mungkin bisa diperbanyak lagi. Saya lebih suka cerita-cerita tentang kenabian. Jadi, kalau koleksinya semakin banyak, tentu akan semakin menarik untuk datang dan membaca di sini," ujarnya.

Selain koleksi buku, Laskar juga berharap suasana alami di sekitar taman bacaan dapat terus dipertahankan dan dikembangkan. Menurutnya, keberadaan tanaman turut membuat suasana taman menjadi lebih nyaman dan menyenangkan.

“Tidak perlu terlalu banyak atap, seperti ini saja sudah lebih seru. Tanamannya juga kalau bisa ditambah lagi, supaya suasananya semakin nyaman dan asri," tukuknya. 

Pendapat serupa disampaikan pengunjung lainnya, Saskia Mutia Zahra, siswi SMK Negeri 2 Pariaman. Ia menilai, keberadaan taman bacaan luar ruang menjadi inovasi yang menarik karena menghadirkan buku di tempat terbuka yang dapat diakses masyarakat secara lebih santai.

“Menurut saya menarik karena tempatnya di luar. Jadi, kalau ada tamu atau orang yang sedang duduk di taman ini, mereka bisa membaca buku sekaligus menambah pengetahuan. Jadi, taman ini tidak hanya menjadi tempat untuk duduk atau beristirahat, tetapi juga bisa dimanfaatkan untuk membaca," jelasnya. 

Sebagai bagian dari generasi Z, Saskia menilai keberadaan taman bacaan seperti itu berpotensi menarik minat anak muda untuk lebih dekat dengan buku. Suasana yang terbuka dan tidak terlalu formal membuat kegiatan membaca terasa lebih mudah diterima oleh berbagai kalangan.

“Bisa menarik minat, karena di sini bisa menjadi tempat beristirahat sekaligus menambah pengetahuan. Kalau datang bersama keluarga juga cocok, karena ada banyak buku yang bisa dibaca. Jadi, anak-anak maupun orang dewasa bisa sama-sama menikmati tempat ini," terangnya. 

Meski demikian, Saskia berharap pengembangan taman bacaan tersebut dapat terus dilakukan, terutama dengan menambah koleksi buku yang sesuai untuk anak-anak.

“Mungkin bukunya bisa ditambah lagi, terutama buku cerita atau buku dongeng. Dengan begitu, anak-anak bisa lebih tertarik untuk datang ke sini dan membaca. Jadi, koleksinya bisa lebih beragam dan dapat dinikmati oleh berbagai usia," tegasnya. 

Beragam respon tersebut menunjukkan bahwa taman bacaan luar ruang di halaman Dispusip Kota Padang tidak hanya menjadi tempat membaca, tetapi juga ruang publik yang menghadirkan pengalaman literasi dengan suasana yang lebih santai, terbuka, dan dekat dengan masyarakat. (*) 

Editor: Zamri Yahya, SH.i, WU

KPK-Kemendagri Kawal Proyek PSEL untuk Pastikan Bersih Korupsi dan Ramah Lingkungan    
Minggu, Juli 26, 2026

On Minggu, Juli 26, 2026

KPK-Kemendagri Kawal Proyek PSEL untuk Pastikan Bersih Korupsi dan Ramah Lingkungan
Direktur Jenderal Bina Bangda Kemendagri, Restuardy Daud menyatakan bahwa Kemendagri akan memperketat pembinaan dan pengawasan terhadap Pemerintah Daerah (Pemda) yang akan membangun PSEL. (Foto: Ist). 

BENTENGSUMBAR.COM
– Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bersama Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) menggelar rapat koordinasi strategis untuk mengawal implementasi Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 109 Tahun 2025 tentang Penanganan Sampah Perkotaan Melalui Pengelolaan Sampah Menjadi Energi Terbarukan Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan.

Pertemuan yang diselenggarakan oleh Satuan Tugas 8 Direktorat Monitoring Kedeputian Pencegahan dan Monitoring KPK dengan Ditjen Bina Pembangunan Daerah Kemendagri, beberapa waktu lalu, menyepakati komitmen bersama untuk memastikan proyek strategis nasional tersebut berjalan transparan, akuntabel, dan bebas dari praktik korupsi.

Analis Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Ahli Madya KPK, Diaz Adiasma menegaskan bahwa Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) merupakan solusi krusial bagi krisis sampah dan transisi energi di Indonesia. Namun, besarnya nilai investasi menuntut pengawasan preventif yang ketat.

Diaz menyebut proyek PSEL memiliki risiko korupsi yang tinggi jika tidak dikawal sejak dini, mulai dari manipulasi studi kelayakan, spesifikasi teknis yang diarahkan ke vendor tertentu, hingga klausul kontrak yang membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). 

“Melalui kolaborasi ini, KPK dan Kemendagri hadir untuk memberikan pendampingan preventif agar uang negara digunakan secara efektif dan benar-benar menyelesaikan masalah sampah," ujar Diaz, dalam rilis yang diterima redaksi, Minggu (26/7/2026)

Senada dengan hal tersebut, Direktur Jenderal Bina Bangda Kemendagri, Restuardy Daud menyatakan bahwa Kemendagri akan memperketat pembinaan dan pengawasan terhadap Pemerintah Daerah (Pemda) yang akan membangun PSEL.

"Kami tidak ingin Pemda sekadar mengejar proyek, tetapi harus benar-benar siap. Pemilihan lokasi dan teknologi harus didasarkan pada kajian ilmiah yang ketat, seperti minimal timbulan sampah 1.000 ton per hari, dan penggunaan teknologi yang terbukti ramah lingkungan, tegas Restuardy.

Restuardy mengatakan Kemendagri akan memastikan tidak ada ruang bagi kepentingan politik atau teknologi abal-abal yang pada akhirnya merugikan masyarakat dan keuangan daerah.

Lebih lanjut, Restuardy juga menyoroti peran dan kewenangan penanganan  sampah bukan sepenuhnya tanggung jawab Kemendagri, melainkan dapat berkolaborasi dengan kementerian/lembaga teknis terkait. 

Untuk menjalankan amanat Perpres 109/2025, Pasal 30 ayat (2), yang menugaskan Menteri Dalam Negeri untuk melaksanakan pembinaan dan pengawasan terhadap pemerintah daerah, Kemendagri menegaskan bahwa perannya bersifat pembinaan, pengawasan, dan fasilitasi integrasi perencanaan daerah, bukan sebagai otoritas teknis.

Penentuan kelayakan lokasi, verifikasi pasokan sampah, maupun substansi PKS merupakan ranah Kementerian Lingkungan Hidup, Danantara, dan Ditjen Bina Administrasi Kewilayahan. 

Restuardy juga menjelaskan secara tuntas tentang harmonisasi antara amanat UU 18/2008 dan Perpres 109/2025 dalam pengolahan sampah. Amanat UU Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah yang menekankan pengurangan di hulu, sedangkan Perpres 109/2025 fokus pada penanganan di hilir, merupakan dua pendekatan yang sedang berjalan beriringan. 

“Sesuai arah RPJMN, kita menargetkan sampah yang dikelola pada 2029 sebesar 100%. Upaya pengurangan di hulu melalui edukasi masyarakat, prinsip 3R, dan ekonomi sirkular tetap berlangsung paralel dengan percepatan penanganan di hilir melalui PSEL," jelas Restuardy.

Sementara itu, Direktur Perencanaan, Evaluasi, dan Informasi Pembangunan Daerah (PEIPD) Ditjen Bina Pembangunan Daerah Kemendagri, Iwan Kurniawan menyoroti peran politik dan anggaran dalam penanganan dan pengolahan sampah di tingkat daerah yang fluktuatif bahkan mangkrak karena masih bergantung pada pengaruh kebijakan politik dan anggaran.

Iwan menegaskan bahwa politik memainkan peran ganda dalam program PSEL di tingkat daerah. Di satu sisi komitmen politik sangat dibutuhkan untuk mendorong inovasi pengelolaan sampah  dan transisi energi. Namun di sisi lain, pengaruh politik daerah yang tidak sehat, seperti praktik KKN, transaksi elit, dan inkonsisten kebijakan akibat pergantian pemimpin, menjadi ancaman terbesar yang membuat proyek ini mangkrak, membebani keuangan daerah, serta mengorbankan hak atas lingkungan hidup yang baik bagi masyarakat. 

"Oleh karena itu, pengawasan publik, transparansi tender, dan kajian lingkungan yang independen menjadi syarat mutlak agar PSEL tidak sekadar proyek politik,” jelas Iwan.

Menurut Iwan, dalam proyek PSEL, anggaran bukan sekadar angka, melainkan penentu mutlak antara keberlanjutan dan kemangkrakan proyek. Pengaruh anggaran terlihat dari bagaimana ketidakmampuan APBD menanggung tipping fee dan ketidaksepakatan tarif jual listrik menjadi dua penyebab utama mengapa banyak PSEL di Indonesia berstatus mangkrak. Oleh karena itu, perencanaan anggaran PSEL harus sangat berhati-hati, berbasis pada kapasitas fiskal riil daerah.

Melalui sinergi ini, KPK dan Kemendagri optimis bahwa Perpres No. 109 Tahun 2025 tidak hanya akan menghasilkan energi terbarukan, tetapi juga menjadi contoh tata kelola pemerintahan yang bersih, modern, dan berpihak pada kepentingan rakyat. (*)

Sosialisasi Program "Bulek Rancak" di Komplek Mega Permai, Ini Camat Koto Tangah, Rio Ebu Pratama    
Minggu, Juli 26, 2026

On Minggu, Juli 26, 2026

Sosialisasi Program "Bulek Rancak" di Komplek Mega Permai, Ini Camat Koto Tangah, Rio Ebu Pratama
Peluncuran program yang merupakan hasil kolaborasi lintas sektor bersama tim Pengabdian Masyarakat Dosen Poltekkes Kemenkes Padang. (Foto: Diskominfo). 

BENTENGSUMBAR.COM
- Dalam upaya menekan angka stunting di Kota Padang, Puskesmas Anak Air meluncurkan program inovasi bertajuk "Bulek Rancak" (Bina Ibu Hamil KEK dan Anemia). Peluncuran program yang merupakan hasil kolaborasi lintas sektor bersama tim Pengabdian Masyarakat Dosen Poltekkes Kemenkes Padang, Sabtu, 25 Juli 2026 di Balai Pertemuan "Silih Baganti" Komplek Mega Permai, Kelurahan Padang Sarai.

Camat Koto Tangah, Rio Ebu Pratama, yang hadir dan membuka kegiatan secara resmi, memberikan apresiasi tinggi atas program pencegahan yang telah direncanakan secara matang.

Ia menegaskan, pencegahan stunting harus dimulai dari hulu—yakni sejak anak berada di dalam kandungan, melalui proses persalinan yang sehat, hingga tahap pertumbuhan anak pada fase berikutnya. Mengingat luasnya cakupan wilayah kerja, Camat Koto Tangah berharap inovasi ini dapat terus dikembangkan dan direplikasi ke puskesmas lain di wilayah Kecamatan Koto Tangah.

"Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk inovasi nyata yang muaranya adalah pencegahan stunting. Ini adalah hasil kolaborasi yang sangat baik antara jajaran Puskesmas dan Ibu-ibu dosen dari Poltekkes Kemenkes Padang," katanya.

Kepala Puskesmas Anak Air, Marta Nofa, menjelaskan bahwa inovasi "Bulek Rancak" dirancang khusus untuk mengedukasi masyarakat agar melakukan pencegahan sejak dini, guna memastikan anak-anak lahir dalam kondisi sehat dan bebas dari risiko stunting.

"Tujuan kita supaya inovasi 'Bulek Rancak' ini dapat mencegah ibu hamil KEK dan anemia, sehingga anak-anak kita tidak lahir dalam kondisi kurus. Jangan sampai kita lagi menyumbang stunting. Kalau bisa, tidak ada lagi penambahan kasus stunting," cakapnya. 

Ia memaparkan, ibu hamil yang mengalami Kurang Energi Kronis (KEK) dan anemia berisiko tinggi melahirkan anak dengan kondisi stunting. Kondisi ini berdampak pada kerentanan anak terhadap penyakit, berat badan tidak sesuai usia, hingga rendahnya tingkat kecerdasan. Oleh karena itu,  Puskesmas Anak Air berkomitmen melakukan pelaporan data kasus secara transparan dan riil sesuai kondisi di lapangan. 

"Kalau bisa, dari trimester pertama begitu tahu hamil, langsung datang ke Puskesmas untuk memeriksakan kehamilan. Tujuannya agar mendapatkan tablet tambah darah dan vitamin untuk mencegah anak stunting serta ibu hamil Kurang Energi Kronis (KEK)," ungkapnya. 

Dalam arahannya, Marta Nofa juga meminta peran aktif kader dan masyarakat untuk mengarahkan ibu hamil agar segera memeriksakan diri ke Puskesmas sejak trimester pertama kehamilan. Ia menyayangkan masih ditemukannya ibu hamil yang baru mendatangi fasilitas kesehatan saat usia kandungan menginjak 8 bulan atau menjelang persalinan. 

Selain itu, Marta Nofa memberikan penegasan penting kepada masyarakat agar tidak lagi melakukan persalinan di rumah demi keselamatan ibu dan bayi. 

Pemilihan lokasi sosialisasi di Kompleks Mega Permai (Tahap 1 dan Tahap 2) didasarkan pada besarnya sasaran pelayanan posyandu di kawasan tersebut. Kompleks Perumahan Mega Permai dikenal sebagai salah satu kawasan permukiman terbesar di Kelurahan Padang Sarai, sehingga intervensi kesehatan melalui inovasi ini diharapkan mampu memberikan dampak signifikan bagi masyarakat luas. 

"Kalau hamil sudah 8 atau 9 bulan dengan kadar HB rendah, dikhawatirkan terjadi pendarahan saat persalinan normal. Jika terjadi pendarahan, akibatnya sangat fatal bagi keselamatan ibu dan bayi. Jadi, untuk ke depannya Bapak dan Ibu, jangan lagi ada yang melahirkan di rumah,"  urainya. 

Senada dengan hal tersebut, Lurah Padang Sarai, Nasrul menegaskan bahwa berbagai langkah strategis seperti Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dan pemanfaatan dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) terus digencarkan demi menyiapkan anak-anak yang sehat dan cerdas menyongsong Generasi Emas 2045.

"Pemerintah dan nakes tidak akan pernah berhenti berinovasi, namun keberhasilan ini sangat bergantung pada kesadaran pola hidup sehat di tingkat keluarga. Mari kita dukung bersama program ini demi masa depan anak-anak kita," akunya. 

Nasrul menekankan bahwa seluruh kebijakan dan program tidak akan membuahkan hasil maksimal tanpa adanya kesadaran dan partisipasi aktif dari masyarakat, khususnya para ibu rumah tangga. 

"Walaupun pihak kesehatan telah berkoar-koar menyampaikan berbagai penyuluhan, tapi jika ibu-ibu tidak memperhatikan pola hidup sehat di rumah dan lingkungan masing-masing, maka apa yang kita inginkan tentu tidak akan tercapai. Kuncinya adalah kesadaran bersama dan kerja sama," tegasnya. (*) 

Editor: Zamri Yahya, SH.i, WU

Wagub Vasko: Pertanian Modern Jadi Kunci Tingkatkan Produksi Pangan dan Ketahanan Pangan Sumbar    
Minggu, Juli 26, 2026

On Minggu, Juli 26, 2026

Wagub Vasko: Pertanian Modern Jadi Kunci Tingkatkan Produksi Pangan dan Ketahanan Pangan Sumbar
Pola Pertanian Modern–Advanced Agriculture System (PM-AAS) di lahan Kelompok Tani Rawang Sari, Nagari Salayo, Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok, Sabtu (25/7/2026). (Foto: adpsb). 

BENTENGSUMBAR.COM
– Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Pemprov Sumbar) terus mempercepat transformasi sektor pertanian menuju sistem budidaya yang lebih modern, efisien, dan berbasis teknologi sebagai strategi meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penanaman perdana benih padi dengan pola Pertanian Modern–Advanced Agriculture System (PM-AAS) di lahan Kelompok Tani Rawang Sari, Nagari Salayo, Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok, Sabtu (25/7/2026).

Wagub Sumbar, Vasko Ruseimy menegaskan modernisasi pertanian merupakan langkah penting untuk menjawab tantangan sektor pertanian di tengah semakin terbatasnya lahan sawah dan meningkatnya kebutuhan pangan masyarakat.

“Ini kegiatan yang bagus sekali untuk mendukung program pemerintah,” kata Vasko.

Menurutnya, peningkatan produksi pangan tidak lagi dapat hanya mengandalkan perluasan lahan pertanian. Karena itu, pemerintah mendorong berbagai inovasi dan pemanfaatan teknologi agar produktivitas setiap hektare lahan dapat terus ditingkatkan.

Vasko menilai penerapan pertanian modern harus diiringi dengan pendampingan yang berkelanjutan kepada petani. Dengan demikian, inovasi yang diperkenalkan tidak berhenti pada tahap demonstrasi, tetapi benar-benar diterapkan secara luas dan mampu memberikan manfaat nyata bagi peningkatan hasil panen serta kesejahteraan petani.

“Kita ingin teknologi ini benar-benar diterapkan oleh petani sehingga produktivitas meningkat dan kesejahteraan mereka ikut terangkat,” ujarnya.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakil Bupati Solok, Chandra; Kepala Dinas Perkebunan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Sumbar, Afniwirman; Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Solok, Deslirizaldi; Kepala BRMP Sumbar, penyuluh pertanian, kelompok tani, serta masyarakat setempat.

Kepala Dinas Perkebunan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Sumbar, Afniwirman menjelaskan PM-AAS merupakan program pertanian modern yang digagas Menteri Pertanian untuk meningkatkan produktivitas lahan melalui mekanisasi dan penerapan budidaya dan mekanisme tanam benih yang lebih presisi.

Berbeda dengan pola konvensional yang menggunakan bibit hasil persemaian, pada sistem PM-AAS benih ditanam langsung menggunakan alat tanam khusus. Metode tersebut membuat proses tanam lebih cepat, efisien, mengurangi kebutuhan tenaga kerja, serta memungkinkan pengaturan populasi tanaman secara lebih optimal.

Menurut Afniwirman, kebutuhan benih dalam sistem PM-AAS memang lebih tinggi, yakni sekitar 70–80 kilogram per hektare dibandingkan pola konvensional yang rata-rata sekitar 25 kilogram per hektare. Kebutuhan pupuk juga disesuaikan untuk mendukung populasi tanaman yang lebih rapat sehingga potensi hasil panen dapat meningkat secara signifikan.

“Dengan sistem ini produktivitas ditargetkan mencapai sekitar 10 hingga 12 ton gabah per hektare. Kalau luas lahan sawah semakin terbatas, maka yang harus kita lakukan adalah meningkatkan produktivitas dari setiap hektare lahan yang ada,” ujarnya.

Ia menambahkan, penanaman di Nagari Salayo merupakan penerapan perdana PM-AAS di Sumbar setelah sebelumnya masih berada pada tahap uji coba.

“Hari ini merupakan penanaman pertama PM-AAS di Sumatera Barat. Sebelumnya baru tahap uji coba,” katanya.

Untuk mempercepat implementasi program tersebut, pemerintah akan mengoptimalkan peran penyuluh pertanian sebagai ujung tombak pendampingan di lapangan. Setiap penyuluh ditargetkan mendampingi penerapan PM-AAS pada lahan sekitar 50 hektare sehingga teknologi budidaya modern dapat diterapkan secara benar sesuai kondisi masing-masing wilayah.

Dengan jumlah penyuluh pertanian di Sumbar yang mencapai lebih dari seribu orang, potensi pendampingan diperkirakan mampu menjangkau sekitar 50 ribu hektare lahan pertanian.

Pemprov Sumbar berharap keberhasilan penerapan PM-AAS di Kabupaten Solok dapat menjadi model pengembangan pertanian modern di berbagai sentra produksi padi lainnya. Melalui mekanisasi, penerapan teknologi, serta pendampingan yang berkelanjutan, produktivitas pertanian diharapkan terus meningkat sehingga mampu memperkuat ketahanan pangan daerah sekaligus mendukung target swasembada pangan nasional. (adpsb/bud)

M. Alkhalifi Hakim dan Mufidah Salma Putri Terpilih sebagai Wali Kota Cilik dan Wakil Wali Kota Cilik Kota Padang Tahun 2026    
Minggu, Juli 26, 2026

On Minggu, Juli 26, 2026

M. Alkhalifi Hakim dan Mufidah Salma Putri Terpilih sebagai Wali Kota Cilik dan Wakil Wali Kota Cilik Kota Padang Tahun 2026
M. Alkhalifi Hakim dan Mufidah Salma Putri resmi terpilih sebagai Wali Kota Cilik dan Wakil Wali Kota Cilik Kota Padang Tahun 2026 setelah melalui serangkaian seleksi. (Foto: Diskominfo). 

BENTENGSUMBAR.COM
- M. Alkhalifi Hakim dan Mufidah Salma Putri resmi terpilih sebagai Wali Kota Cilik dan Wakil Wali Kota Cilik Kota Padang Tahun 2026 setelah melalui serangkaian seleksi.

Kegiatan Pilwadu 2026 ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Anak Nasional ke-42 dan wujud nyata upaya Pemko Padang dalam mewujudkan Kota Layak Anak (KLA).

Pilwadu diikuti oleh 111 peserta dari berbagai sekolah. Peserta melewati seleksi administrasi (esai dan video) menjadi 32 besar, dilanjutkan wawancara dan unjuk bakat hingga menyisakan 14 finalis terbaik di babak akhir.

"Pemilihan Wali Kota Cilik dan Duta Anak bukan sekadar ajang perlombaan, tetapi wadah untuk melatih keberanian, kepemimpinan, kemampuan berkomunikasi, kepedulian, dan tanggung jawab anak sejak dini. Siapa pun yang terpilih, jadilah teladan, sahabat bagi anak-anak lainnya, serta penyambung suara anak-anak Kota Padang kepada Pemerintah Kota Padang," kata Ketua Tim Penggerak PKK Kota Padang, Dian Puspita Fadly Amran di Lantai 1 Youth Center Padang, Sabtu, 25 Juli 2026.

Penyelenggaraan tahun 2026 ini merupakan tahun keenam pelaksanaan sejak 2021, dan merupakan tahun kedua dibukanya ruang bagi anak berkebutuhan khusus melalui kategori Duta Anak Pejuang Disabilitas.

"Optimalisasi peran anak dalam pembangunan diwujudkan melalui keikutsertaan anak dalam kegiatan yang mampu mendorong kreativitasnya, salah satunya melalui Pemilihan Wali Kota Cilik dan Duta Anak. Sudah saatnya suara anak didengar dan menjadi kontribusi bagi pembangunan. Semoga anak-anak kita menjadi calon-calon pemimpin masa depan," Sekretaris Daerah Kota Padang, Raju Minropa. 

Selain Wali Kota dan Wakil Wali Kota Cilik, dewan juri juga menetapkan berbagai kategori Duta Anak lainnya, seperti Duta Anti Kekerasan Anak, Duta Kesehatan Anak, Duta Cegah Kawin Anak, Duta Anak Tangguh Bencana, Duta Literasi dan Budaya, serta Duta Anak Pejuang Disabilitas.

Pemko Padang menegaskan komitmen mereka dalam mewujudkan KLA yang terencana dan berkelanjutan. Hal ini sejalan dengan Visi Kota Padang 2025–2029 dan Program Unggulan Padang Melayani yang memfokuskan perlindungan dan pemenuhan hak anak.

"Kegiatan ini merupakan pelaksanaan tahun keenam sejak 2021 dan telah menjadi inovasi daerah sebagai wujud implementasi Kota Layak Anak. Tahun ini juga menjadi tahun kedua kami membuka ruang bagi anak berkebutuhan khusus melalui kategori Duta Anak Pejuang Disabilitas," aku Kepala DP3AP2KB Kota Padang, Boby Firman. (*) 

Editor: Zamri Yahya, SH.i, WU

Menapaki Titian Paradigma Baru: Refleksi Ilmiah dan Inspirasi Kepemimpinan Muda KAHMI Sumatera Barat dalam Dialektika Zaman     
Minggu, Juli 26, 2026

On Minggu, Juli 26, 2026

Menapaki Titian Paradigma Baru: Refleksi Ilmiah dan Inspirasi Kepemimpinan Muda KAHMI Sumatera Barat dalam Dialektika Zaman
Penulis: DR. H. Khairul Ikhwan, MM., seorang aktivis, penulis, akademisi dan pengamat yang tinggal di Kota Padang, Sumatera Barat. (Foto: Ist). 

Sebuah Analisis Sosiologis dan Epistemologis Pasca Musyawarah Wilayah KAHMI Sumatera Barat (Juli 2026) 

Oleh: Khairul Ikhwan 

Pergantian  kepemimpinan  dalam  sebuah  organisasi  kemasyarakatan  bukanlah  sekadar  proses mekanisme pergantian kursi kekuasaan semata, melainkan sebuah momen epistemologis dimana terjadi pergeseran konstruksi makna, arah kebijakan, dan pulsa energi kolektif. Dalam konteks Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Sumatera Barat, pelaksanaan Musyawarah Wilayah yang melahirkan figur kepemimpinan baru - yang notabene digerakkan oleh semangat muda dan energetik - menandai babak baru yang sangat krusial. Kehadiran kepemimpinan muda ini bukan sekadar gejala demografis  biasa,  melainkan  sebuah  fenomena  sosiologis  yang  memancarkan  cahaya  harapan sekaligus menuntut tanggung jawab ilmiah untuk membawa organisasi dan masyarakat Sumatera Barat menuju perubahan yang lebih bermakna.

Untuk memahami kedalaman fenomena ini, kita perlu membedahnya tidak hanya dari kacamata administratif, melainkan melalui lintasan analisis sosiologis, fisika energi sosial, hingga epistemologi kepemimpinan itu sendiri. Tulisan ini mencoba merefleksikan dinamika tersebut dalam alur pemikiran yang mengalir, menembus batas-batas birokrasi konvensional, dan menyentuh esensi perubahan peradaban di ranah Minang.  

I. Anatomi Sosiologis "Kaum Mudo" dalam Ranah Minang dan Nalar KAHMI 

Dalam struktur sosial masyarakat Minangkabau, kita mengenal dialektika abadi antara ‘Kaum Tuo’ dan ‘Kaum Mudo’. Kaum Tuo merepresentasikan kestabilan, kearifan lokal, dan pelestarian nilai-nilai lama yang telah teruji oleh waktu. Sementara itu, Kaum Mudo adalah representasi dari dinamika, inovasi, dan keberanian untuk membongkar paradigma lama yang sudah tidak relevan dengan tantangan zaman. Kehadiran kepemimpinan muda di KAHMI Sumatera Barat sesungguhnya adalah sinkronisasi yang sangat indah antara nalar organisasi (yang notabene lahir dari rahim pergerakan mahasiswa) dengan DNA kultural masyarakat tempat organisasi itu berdiri. 

Secara sosiologis, energi muda dalam kepemimpinan ini membawa apa yang disebut oleh Robert K. Merton sebagai ‘disruption of equilibrium’ - pengguncangan keseimbangan yang sehat. Organisasi besar  seperti  KAHMI  kerap  kali  terjebak  dalam  apa  yang  sosiolog  Max  Weber  sebut  sebagai "routinization  of  charism,"  di  mana  karisma  awal  perjuangan  perlahan-lahan  membatu  menjadi birokrasi  yang  kaku  dan  formalistik.  Kehadiran  semangat  muda  adalah  antitesis  dari  proses pembatuannya. Mereka hadir dengan ‘cognitive flexibility’ (fleksibilitas kognitif) yang tinggi, dimana otak-otak muda  ini  terbiasa memproses  informasi secara  paralel, melihat  pola-pola  baru  dalam masalah  lama,  dan  tidak  takut  untuk  melakukan  sintesis  antara  nilai-nilai  tradisional  Islam  dan Minangkabau dengan tuntutan kontemporer seperti ekonomi digital, transformasi pendidikan, dan isu perubahan iklim. 

Namun, semangat muda ini tidak boleh salah dibaca sebagai euforia adolesens yang tanpa arah. Dalam tubuh  KAHMI,  semangat  muda  ini  harus  dijerat  oleh  ‘epistemic  humility’  (kerendahan  hati epistemologis) - kesadaran bahwa kecepatan bukanlah segalanya, melainkan ketepan arahlah yang menentukan  kualitas  perubahan.  Kepemimpinan  muda  KAHMI  Sumbar  dituntut  untuk  menjadi jembatan, bukan penghancur jembatan; menyerap irama langkah kaum tuo, namun memainkan melodi yang lebih cepat dan relevan.  

II. Transformasi Energi: Dari Potensial Menjadi Kinetis dalam Gerakan Sosial 

Jika kita meminjam perspektif fisika kuantum klasik, energi dalam suatu sistem itu bersifat kekal, namun bisa berubah wujud. Semangat dan energi yang meledak-ledak dari kepemimpinan baru KAHMI Sumatera Barat saat ini adalah ‘energi potensial’. Ia sangat besar, menggelegak, penuh dengan ide-ide segar dan asa yang membara. Namun, energi potensial tidak akan pernah bisa menggerakkan sebuah roda peradaban jika ia tidak segera dikonversi menjadi ‘energi kinetik’ - energi yang bergerak, yang melakukan usaha nyata di lapangan. 

Ilmu manajemen modern menyebut proses konversi ini sebagai ‘execution’. Dalam konteks KAHMI, eksekusi bukanlah sekadar mengadakan rapat, seminar, atau musyawarah yang bersifat seremonial. Eksekusi yang dimaksud adalah turunnya kader-kader muda KAHMI ke ruang-ruang kontak sosial yang sesungguhnya.  Bagaimana  energi  muda  ini  diubah  menjadi  kebijakan  pendidikan  vokasi  yang mengangkat harkat martabat anak-anak di pelosok Agam dan Tanah Datar? Bagaimana euforia ini dikonversi menjadi aksi nyata dalam memberdayakan ekonomi petani kopi di Solok atau nelayan di Pesisir Selatan melalui pendekatan teknologi dan jaringan KAHMI nasional? 

Di titik inilah kepemimpinan yang energik diuji. Banyak organisasi yang gagal bukan karena kekurangan energi, melainkan karena mengalami ‘entropy’ (entropi) - penurunan tingkat ketertiban dan efektivitas sistem  karena  energi  terbuang  percuma  dalam  friksi  internal,  egosentrisme  kader,  atau  konflik kepentingan sektoral. Kepemimpinan muda KAHMI Sumbar harus menjadi insinyur sosial yang mampu meminimalisir friksi ini, merancang saluran-saluran distribusi energi yang efisien, sehingga setiap tetes keringat dan pemikiran kader dapat jatuh secara presisi pada akar-akar permasalahan masyarakat Sumatera Barat.  

III. Intelektualisme Agil: Mengubah Wajah Peran KAHMI di Tengah Disrupsi 

KAHMI bukanlah organisasi tandingan partai politik, bukan pula sekadar wadah silaturahmi biasa. Secara genealogis, KAHMI adalah rumah bagi intelektual-intelektual muslim yang lahir dari kaderisasi HMI, yang notabene memiliki tradisi kritik sosial yang kuat, berbasis pada ilmu pengetahuan, dan berorientasi pada terciptanya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT. Oleh karena itu, kepemimpinan  baru  ini  harus  membangun  apa  yang  kita  sebut  sebagai  ‘Agile  Intellectualism’ (Intelektualisme Agil). 

Apa itu Intelektualisme Agil? Dalam era disrupsi informasi dan kecerdasan buatan saat ini, gagasan yang  bersifat  statis  akan  sangat  cepat  usang.  Intelektualisme  agil  adalah  kemampuan  untuk merumuskan teori, konsep, dan solusi kebijakan yang cepat beradaptasi dengan perubahan data dan realitas lapangan. Kepemimpinan muda KAHMI Sumbar harus meninggalkan gaya ‘old school’ yang hanya piawai berorasi di podium tanpa menyentuh data empiris.

Masyarakat Sumatera Barat hari ini menghadapi paradoks yang memerlukan kecerdasan analitis tinggi. Di satu sisi, ranah Minang dikenal sebagai "sumbang siur" intelektual, melahirkan banyak tokoh nasional. Namun di sisi lain, terjadi ‘brain drain’ yang masif, di mana anak-anak muda terbaik Sumbar lebih memilih merantau dan mengabdikan kecerdasannya di luar daerah, meninggalkan ruang-ruang kekuasaan dan ekonomi yang terkadang diisi oleh mereka yang tidak memiliki kapasitas memadai.  

Belum lagi persoalan kemiskinan struktural, ketimpangan ruang, serta ancaman degradasi moral dan budaya akibat arus globalisasi yang tidak terfilter. 

Di hadapan kompleksitas ini, KAHMI Sumbar dibawah kepemimpinan muda harus tampil sebagai ‘Think Tank’ (bukan sekadar talk tank) yang menghasilkan ‘policy papers’ yang tajam, melakukan advokasi berbasis data, dan menyediakan kader-kader ahli yang siap diutus ke berbagai lini eksekutif, legislatif, maupun yudikatif, baik di tingkat daerah maupun nasional. Intelektualisme agil menuntut KAHMI untuk menjadi pelengkap negara (complemenstaat), yang hadir memperbaiki celah-celah kebijakan pemerintah dengan tetap menjaga adab dan etika organisasi.  

IV. Refleksi Kedalaman Makna: "Perubahan yang Bermakna" bagi Masyarakat Sumatera Barat

Frasa "membawa perubahan lebih baik dan bermakna" sering kali diucapkan dalam setiap pidato kenegaraan  atau  organisasi.  Namun,  jika  ditelaah  secara  filosofis,  apa  sesungguhnya  "makna" (meaningfulness) itu? Dalam psikologi humanistik, khususnya teori Viktor Frankl, makna tidak pernah bisa diciptakan secara subjektif semata, melainkan ditemukan melalui tanggung jawab terhadap sesuatu yang ada di luar diri kita - yaitu masyarakat dan lingkungan. 

Bagi masyarakat Sumatera Barat, perubahan yang bermakna dari KAHMI bukanlah berapa banyak balai pertemuan yang dibangun, melainkan sejauh mana KAHMI mampu mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap otoritas moral intelektual. Masyarakat Minang sangat menjunjung tinggi apa yang disebut sebagai ‘kato nan ampek’ (pandai, bajalan nan elok, maluruik ka pisang, ma ambiak ka rumbuik).  Kepemimpinan  muda  KAHMI  harus  merekonstruksi  identitas  ini  dalam  bentuk kontemporer.

Pertama, makna perubahan itu harus terlihat di sektor pendidikan karakter. KAHMI harus menjadi garda terdepan dalam melawan budaya ‘bullying’, intoleransi, dan degradasi akhlak di kalangan generasi muda Sumbar. Mengingat dasar organisasi yang islami, KAHMI harus menunjukkan bahwa wajah Islam yang rahmatan lil 'alamin itu nyata, bukan sekadar retorika.

Kedua, makna perubahan itu harus dirasakan dalam ekonomi umat. Enerji muda harus diarahkan untuk  menciptakan  ekosistem  kewirausahaan  sosial  (social  entrepreneurship).  Alih-alih  hanya mengandalkan iuran anggota, kepemimpinan baru ini harus berani membentuk unit-unit bisnis KAHMI yang tidak hanya mencari keuntungan, tetapi juga menciptakan lapangan kerja dan memutus rantai kemiskinan.  Bagaimana  KAHMI  Sumbar  bisa  menyatukan  alumni-alumni  yang  sukses  di  bidang teknologi,  perbankan,  dan  perdagangan  untuk  melakukan  ‘knowledge  transfer’  dan  pendanaan (fundraising) bagi UMKM yang dikelola oleh kader-kader muda dan masyarakat lokal? 

Ketiga, makna perubahan itu terletak pada pelestarian lingkungan hidup. Sumatera Barat dengan geografisnya yang rentan terhadap bencana (banjir, longsor) membutuhkan gerakan intelektual yang mampu mendorong kebijakan pembangunan berkelanjutan. KAHMI, dengan jaringan akademisinya, harus menjadi suara yang vokal namun solutif terhadap eksploitasi SDA yang merusak ekosistem.  

V. Mengelola Paradoks: Antara Idealisme Membara dan Realitas Pragmatis 

Sebagai catatan reflektif yang ilmiah, kita tidak boleh berhenti hanya pada romantisme semangat muda. Kita harus berani membicarakan bahaya dan paradoks yang mengintai. Semangat muda yang hiper-idealis sering kali menghantam tebing realitas pragmatis yang dingin dan licin. Kepemimpinan 4  
baru KAHMI Sumatera Barat akan segera menghadapi ‘paradoks birokrasi’ - dimana mereka ingin bergerak cepat, namun terbelenggu oleh aturan organisasi (AD/ART) yang mungkin sudah usang. 

Mereka juga akan menghadapi ‘paradoks kompromi’ - dimana untuk mencapai tujuan besar yang bermakna bagi masyarakat, mereka harus berunding dan berkompromi dengan kekuatan-kekuatan politik maupun elit ekonomi yang mungkin berseberangan secara ideologis. Di sinilah dibutuhkan ketajaman ‘political will’ yang dibungkus dengan kearifan ‘political skill’. Kepemimpinan muda tidak boleh naif. Naivitas dalam politik organisasi akan mengubah energi yang seharusnya membangun menjadi destruktif.

Mereka  harus  mempelajari  sejarah.  Sejarah  pergerakan  mahasiswa  di  Indonesia,  khususnya  di Sumatera Barat,  penuh dengan liku-liku perjuangan melawan otoritarianisme  dan ketidakadilan. Kepemimpinan muda KAHMI hari ini adalah penerus ‘spiritus movens’ (roh penggerak) dari para pendahulu yang berjibaku di era 66, 74, 98, dan seterusnya. Namun, medan perjuangan hari ini berbeda. Lawan hari ini bukan lagi rezim otoriter secara frontal, melainkan sistemik yang berwujud kemiskinan, kebodohan, ketimpangan, dan budaya apatis. Melawan sistemik membutuhkan taktik yang lebih canggih, data yang lebih akurat, dan jejaring yang lebih luas, bukan sekadar teriakan di jalanan.  

VI. Menutup Rangkaian: Membangun "Rumah Gadang" Epistemologis Baru 

Jika kita mengibaratkan KAHMI Sumatera Barat sebagai sebuah Rumah Gadang, maka Musyawarah Wilayah  yang  baru  saja  berlalu  adalah  prosesi  ‘batagak  pangulu’  (mengangkat  penghulu)  yang menunjuk ‘tuo tiang’ (tiang penyangga utama) yang baru. Tiang yang baru ini terbuat dari kayu pilihan yang masih segar, berserat kuat, dan siap menahan beban atap yang berat. 

Semangat muda dan energik yang dimiliki oleh kepemimpinan baru ini adalah oksigen segar yang meniupkan kehidupan baru ke dalam setiap ruangan organisasi. Namun, sebuah rumah gadang tidak kokoh hanya karena tiangnya yang muda; ia kokoh karena keselarasan tiang muda itu dengan ‘bindu matua’  (papan  usia  tua/papan  diagonal)  yang  menguncinya,  dan  fondasi  ‘batu  pasusuk’  yang tertancap kuat di tanah. Nilai-nilai dasar KAHMI - keIslaman, keIndonesiaan, dan keilmuan - adalah fondasi  itu.  Para  senior  dan  mantan  pengurus  adalah  ‘bindu  matua’  -  nya.  Sinkronisasi  antara ketiganya akan menciptakan ketahanan organisasi yang luar biasa. 

Membawa perubahan yang bermakna bagi organisasi khususnya dan masyarakat Sumatera Barat umumnya  adalah  sebuah proyek  peradaban  jangka  panjang.  Ia  menuntut  kesabaran  yang  tidak menghilangkan kegesitan, dan kegesitan yang tidak menggerus kesabaran. Kepemimpinan muda KAHMI Sumbar harus menyadari bahwa mereka sedang menorehkan tinta emas dalam sejarah.  

Jangan biarkan api semangat ini hanya menjadi kembang api yang indah sesaat di langit Musyawarah Wilayah, lalu lenyap ditelan kegelapan malam birokrasi. Ubahlah api itu menjadi tungku peleburan besi - panas yang konsisten, yang mampu menempa kader-kader KAHMI Sumbar menjadi baja yang tajam untuk memotong kemiskinan, kuat untuk menopang keadilan, dan fleksibel untuk membangun jembatan menuju masa depan Ranah Minang yang Adat basandi Syarak, Syarak basandi Kitabullah, namun tetap berdiri setara dan berdikari dalam percaturan global.  

Selamat bertugas di garis depan peradaban. Semoga langkah-langkah kaki yang energetik ini selalu dibarengi oleh ketenangan hati, kejernihan akal, dan kabrah yang lurus kepada Sang Maha Pemilik Ilmu dan Kekuasaan.

Buah mengkudu buah pinang,
Sangat jauh jika ditelisi, 
Jayalah slalu KAHMI di bumi Minang, 
Keharuman nama berkat kolaborasi..  

Tak cukup jemari digemai,
Tangan Mencincang Bahu Memikul, 
Selepas Muswil gerak dimulai,
Komitmen dicanang wujudkan ProGul..  

Salam Sukses Mulia.. Wallahu a'lam bish-shawab. (*)

Wako Fadly Amran Apresiasi Pelaksanaan PIAGEX 2026 yang Menjadi Ruang bagi Pelajar    
Minggu, Juli 26, 2026

On Minggu, Juli 26, 2026

Wako Fadly Amran Apresiasi Pelaksanaan PIAGEX 2026 yang Menjadi Ruang bagi Pelajar
Wali Kota Padang Fadly Amran mengapresiasi pelaksanaan PIAGEX 2026 yang menjadi ruang bagi pelajar. (Foto: Diskominfo). 

BENTENGSUMBAR.COM
- Pemerintah Kota Padang berkolaborasi dengan Sekolah Vokasi Universitas Negeri Padang (UNP), Musyawarah Guru Mata Pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi Sekolah Menengah Pertama (MGMP TIK SMP), dan Industri Animasi menggelar Padang International Animation & Game Expo (PIAGEX) 2026 di Gedung Bagindo Aziz Chan Youth Center, 25–27 Juli 2026, mulai pukul 08.30 WIB. 

Ketua Panitia PIAGEX 2026 Bayu R. Fajri menyampaikan PIAGEX 2026 menghadirkan expo, pameran, dan stand yang diikuti perguruan tinggi, SMP, serta industri animasi. Kegiatan juga dirangkai dengan berbagai perlombaan yang melibatkan pelajar, guru, perguruan tinggi, industri, dan masyarakat umum.

"Pembukaan kegiatan ini akan kita laksanakan pada 26 Juli 2026 mendatang. Untuk hari ini kita ada special screening Film Animasi Puti dan Batu Batikam yang merupakan program Kementerian Kebudayaan," katanya di Gedung Bagindo Aziz Chan Youth Center, 25 hingga 27 Juli 2026.

Bayu berharap kegiatan ini dapat mendorong pengembangan kemampuan coding, pembuatan game, dan robotik yang sejalan dengan penerapan mata pelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) di tingkat SMP. Hal tersebut diharapkan dapat membiasakan siswa berpikir kritis sekaligus berkompetisi secara positif.

“Ada tujuh cabang perlombaan, diantaranya lomba desain game tingkat SMP, pembuatan educational game bagi guru, lomba animasi pendek untuk umum, serta live coding bagi siswa SMP dalam membuat game. Jumlah peserta yang terlibat mencapai sekitar 300 orang," cakapnya. 

Wali Kota Padang Fadly Amran mengapresiasi pelaksanaan PIAGEX 2026 yang menjadi ruang bagi pelajar untuk mengembangkan kreativitas dan kemampuan di bidang teknologi digital, khususnya animasi dan pengembangan game.

Menurutnya, kegiatan tersebut sejalan dengan semangat Padang Balomba sebagai bagian dari aktivasi Program Unggulan Padang Juara, yang mendorong masyarakat, khususnya generasi muda, untuk berkompetisi secara positif dan meraih prestasi terbaik.

Fadly Amran berharap PIAGEX 2026 dapat menjadi agenda berkelanjutan yang memberikan ruang bagi generasi muda untuk mengasah kreativitas, kemampuan coding, animasi, dan pengembangan gim. Sekaligus memperkuat ekosistem industri kreatif dan digital di Kota Padang.

“Kolaborasi antara Pemko Padang, perguruan tinggi, dan dunia industri yang tersaji dalam PIAGEX 2026 sangat penting dalam membangun ekosistem yang mendukung pengembangan talenta muda di Kota Padang, khususnya dalam bidang teknologi dan digital. Kita berharap anak-anak Kota Padang semakin berani berkompetisi dan menunjukkan kemampuan mereka. Ini merupakan bagian dari upaya kita mewujudkan generasi juara di Kota Padang,” tegasnya. (*) 

Editor: Zamri Yahya, SH.i, WU