HEADLINE
Hunian Danantara Tahap 2, Siap Digunakan    
Kamis, Januari 08, 2026

On Kamis, Januari 08, 2026

Hunian Danantara Tahap 2, Siap Digunakan
Hunian Sementara (Huntara) lebih dikenal dengan Hunian Danantara, untuk tahap 2 di berbagai wilayah Sumatera, siap digunakan. 

BENTENGSUMBAR.COM
- Hunian Sementara (Huntara) lebih dikenal dengan Hunian Danantara, untuk tahap 2 di berbagai wilayah Sumatera, siap digunakan. 

Paralel, rumah jenis yang sama dari Kementerian PU, siap dipakai, awal Fabruari.

Didapat laporan, Rabu 7/1-2026 Seskab Teddy Indra Wijaya menerima Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo, Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait, Kepala BP BUMN Dony Oskaria dan Direktur Utama Waskita, Adhi Karya, Wijaya Karya (WIKA), Nindya Karya, Hutama Karya (HK), Pembangunan Perumahan (PP), dan Brantas Abipraya, di Kantor Sekretariat Kabinet.

Dalam pertemuan tersebut, dibahas sejumlah hal seperti, terkait perkembangan pembangunan rumah hunian yang dibangun Danantara. Dalam 2 minggu kedepan tambahan rumah hunian di Aceh Utara, Aceh Pidie, Tapanuli Selatan, Tanah Datar, Padang Pariaman dan Agam akan jadi dan siap digunakan.

Sementara, Kementerian Pekerjaan Umum, seiring pembersihan dan pemulihan kembali seluruh fasilitas umum (jalan, rumah sakit, sekolah, pasokan air dan perkantoran) secara masif dan cepat, juga sedang membangun rumah hunian di Aceh yang akan jadi pada awal Februari.

“Setelah 1 bulan pascabencana, Pemerintah terus berkoordinasi dengan setiap Bupati dan Wali Kota dikarenakan keinginan warga terdampak yang beragam terkait hunian, “ kata Tedy.

Misalnya,  ada yang ingin disiapkan hunian, ada yang ingin memperbaiki sendiri, ada yang ingin pindah daerah mengikuti keluarganya  dan lain sebagainya. 

“Pemerintah secepat mungkin membangun hunian, untuk kemudian para bupati yang memobilisasi warga yang menempatinya.”

Bencana Sumatera terjadi di 52 kabupaten/kota di Aceh, Sumut dan3 Sumbar. Musibah itu terjadi 25 dan 26 November 2025.

Danantara telah membangun huntara 600 unit di Aceh Tamiang, beberapa waktu lalu. Sejauh itu, pemerintah pun turun dengan kekuatan nasional. (fb-seskab)

Perumda AM Kota Padang Percepat Pemulihan Layanan demi Kenyamanan Pelanggan    
Kamis, Januari 08, 2026

On Kamis, Januari 08, 2026

Perumda AM Kota Padang Percepat Pemulihan Layanan demi Kenyamanan Pelanggan
Di tengah tantangan cuaca yang tidak menentu, Perumda Air Minum (AM) Kota Padang terus menunjukkan komitmen tanpa henti untuk memberikan pelayanan terbaik bagi warga.

BENTENGSUMBAR.COM
– Di tengah tantangan cuaca yang tidak menentu, Perumda Air Minum (AM) Kota Padang terus menunjukkan komitmen tanpa henti untuk memberikan pelayanan terbaik bagi warga.

Meskipun saat ini masih terdapat sekitar 2,3 persen pelanggan di wilayah Utara yang masih terdampak gangguan distribusi akibat faktor alam, langkah-langkah strategis pemulihan terus dikebut tim teknis di lapangan.

Bertempat di Kantor Perumda AM Kota Padang, Kasubag Humas Perumda AM Kota Padang, Adhie Zein, memberikan penjelasan terkait perkembangan terkini proses perbaikan infrastruktur, Kamis (8/1/2026). 

Diakuinya, bencana banjir bandang beberapa waktu lalu telah mengakibatkan kerusakan serius pada jembatan pipa di Gunung Nago yang menjadi jalur utama suplai air.

Di menjelaskan bahwa pihak Perumda AM Kota Padang tidak tinggal diam dan langsung mengambil langkah taktis. 

"Tim kami, bersama dukungan dari pihak Hutama Karya (HK), sedang melakukan percepatan pemasangan pipa transmisi jalur dua untuk Intake Palukahan. Ini adalah upaya serius kami untuk mengamankan suplai air bagi warga di wilayah Utara, termasuk Lubuk Buaya," ujar Adhie. 

Sebagai bentuk tanggung jawab terhadap warga yang terdampak, Perumda AM Kota Padang menjalankan operasi kemanusiaan dengan mengerahkan 15 unit mobil tangki. Armada ini bekerja secara marathon mulai pagi hingga dini hari (pukul 02.00 WIB) untuk mengantarkan air bersih langsung ke pemukiman masyarakat. 

"Kami memastikan bahwa warga tidak kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan harian. Distribusi tangki ini melibatkan unit internal kami serta dukungan instansi mitra yang peduli terhadap situasi ini," tambah Adhie. 

Untuk wilayah Pusat Kota, Adhie Zein secara jujur menjelaskan bahwa tingkat kekeruhan air baku di Intake Kampung Koto saat ini masih sangat tinggi dan bercampur lumpur akibat kondisi alam. Demi menjamin standar kesehatan pelanggan, Perumda memilih untuk sangat berhati-hati dalam proses pengolahan agar air yang sampai ke rumah pelanggan tetap berkualitas tinggi. 

Manajemen Perumda AM Kota Padang memohon doa dan dukungan dari seluruh masyarakat agar kondisi cuaca segera membaik sehingga proses teknis di lapangan dapat berjalan maksimal tanpa kendala alam. 

"Kami berjuang setiap hari untuk memastikan layanan kembali normal 100%. Kami sangat mengapresiasi kesabaran para pelanggan," tutup Adhie Zein sembari mengimbau warga untuk tetap menyediakan wadah penampungan air cadangan sebagai langkah antisipasi mandiri. (Viqi/Ari/Wiki/Nindy/Ivan/Taufik)

Mulai Januari 2026, Tiga Koridor Bus Trans Padang Berubah Rute    
Kamis, Januari 08, 2026

On Kamis, Januari 08, 2026

Mulai Januari 2026, Tiga Koridor Bus Trans Padang Berubah Rute
Tiga koridor bus Trans Padang mengalami perubahan rute terhitung 7 Januari 2026. Ketiga rute itu yakni di Koridor 2, Koridor 4 dan Koridor 5.

BENTENGSUMBAR.COM
– Tiga koridor bus Trans Padang mengalami perubahan rute terhitung 7 Januari 2026. Ketiga rute itu yakni di Koridor 2, Koridor 4 dan Koridor 5.

Bus Trans Padang koridor 2 yang melayani rute RTH Imam Bonjol menuju Bungus Teluk Kabung, sebelumnya berhenti di titik perhentian terakhir di Batas Kota Padang – Painan.

Namun mulai 1 Januari 2026, bus Trans Padang di koridor ini berhenti di Simpang Sungai Pisang.

Selain itu, Koridor 4 yang sebelumnya melayani rute Terminal Anak Air – Pelabuhan Teluk Bayur, berakhir di Pelabuhan Teluk Bayur.

Terhitung 1 Januari 2026, bus Trans Padang berakhir di Lantamal / Bukik Putuih.

Koridor 5 yang melayani penumpang di jalur Imam Bonjol – Indarung, berakhir di RTH Imam Bonjol Timur. 

Akan tetapi sejak 7 Januari kemarin, bus Trans Padang berakhir di Jalan Hasanuddin / RTH Imam Bonjol Selatan. 

Terkait keberangkatan, bus Trans Padang di koridor ini akan berangkat di titik awal melalui Halte Jalan Hasanuddin / RTH Imam Bonjol Selatan.(Charlie)

Pemko Padang–Kemenag Perkuat Sinergi, Rencanakan Pembangunan MAN Kejuruan    
Kamis, Januari 08, 2026

On Kamis, Januari 08, 2026

Pemko Padang–Kemenag Perkuat Sinergi, Rencanakan Pembangunan MAN Kejuruan
Pemerintah Kota (Pemko) Padang memperkuat sinergi dengan Kementerian Agama (Kemenag). 

BENTENGSUMBAR.COM
- Pemerintah Kota (Pemko) Padang memperkuat sinergi dengan Kementerian Agama (Kemenag) Kota Padang dalam pengembangan pendidikan keagamaan dan vokasi di daerah tersebut. 

Salah satu agenda strategis yang tengah direncanakan bersama adalah pembangunan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Kejuruan di Kota Padang.

Komitmen tersebut disampaikan Wali Kota Padang, Fadly Amran saat menghadiri Tasyakuran Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 Kemenag di Aula Kantor Kemenag Kota Padang, Kamis (8/1/2026). 

Langkah ini diarahkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan madrasah yang selaras dengan kebutuhan dunia kerja.

Fadly Amran menegaskan bahwa pembangunan MAN Kejuruan merupakan bentuk dukungan nyata pemerintah daerah terhadap penguatan pendidikan keagamaan yang adaptif dan berorientasi masa depan.

"Pemerintah Kota Padang memandang penting pengembangan madrasah yang tidak hanya kuat secara keagamaan, tetapi juga memiliki keterampilan kejuruan. Karena itu, kami siap bersinergi dengan Kementerian Agama untuk merencanakan pembangunan MAN Kejuruan di Kota Padang," ujar Wali Kota jebolan  Universitas Seattle, Amerika Serikat itu. 

Ia menambahkan, kolaborasi antara pemerintah daerah dan Kemenag menjadi kunci dalam menghadirkan lembaga pendidikan yang mampu mencetak lulusan berkarakter, kompeten, dan siap berkontribusi dalam pembangunan daerah.

Sinergi Pemko Padang dan Kemenag Kota Padang juga diarahkan pada penyelarasan perencanaan dan kebijakan pendidikan agar sejalan dengan arah pembangunan daerah, khususnya dalam penguatan sektor sumber daya manusia.

Kepala Kemenag Kota Padang, Edy Oktafiandi mengakui bahwa pembangunan MAN Kejuruan bukan pekerjaan mudah dan dibutuhkan dukungan dari seluruh stakeholder. 

"Penguatan madrasah, termasuk rencana MAN Kejuruan, membutuhkan sinergi lintas sektor. Dukungan dari pemerintah daerah akan sangat menentukan keberhasilan dan keberlanjutan program pendidikan madrasah," katanya. 

Melalui penguatan sinergi ini, Pemko Padang dan Kemenag Kota Padang bersepakat untuk terus membangun kerja sama berkelanjutan dalam pengembangan pendidikan keagamaan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan tantangan pembangunan Kota Padang.(ArC/Taufik)

Wako Fadly Amran: Total Kerusakan dan Kerugian yang Tercatat Mencapai Sekitar Rp5,5 Triliun    
Kamis, Januari 08, 2026

On Kamis, Januari 08, 2026

Wako Fadly Amran: Total Kerusakan dan Kerugian yang Tercatat Mencapai Sekitar Rp5,5 Triliun
Rakor strategis ini dibuka Sekretaris Utama (Sestam) BNPB, Rustian, dan dihadiri Gubernur Sumbar, Mahyeldi, unsur Forkopimda, serta para bupati dan wali kota se-Sumbar. 

BENTENGSUMBAR.COM
- Wali Kota Padang, Fadly Amran, memaparkan kondisi kerusakan Kota Padang dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Finalisasi Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P) Hidrometeorologi Sumatera Barat (Sumbar), yang digelar di Auditorium Gubernur Sumbar, Kamis (8/1/2025).

Rakor strategis ini dibuka Sekretaris Utama (Sestam) BNPB, Rustian, dan dihadiri Gubernur Sumbar, Mahyeldi, unsur Forkopimda, serta para bupati dan wali kota se-Sumbar.

Fadly Amran menyampaikan bahwa berdasarkan pemutakhiran data dan kajian teknis terbaru, estimasi kebutuhan penanganan rehab-rekon pascabencana diperkirakan mencapai angka Rp5,5 triliun.

Peningkatan kebutuhan anggaran ini menurutnya, dipicu oleh masuknya program pengelolaan sumber daya air, termasuk pembangunan check dam, sabo dam, serta pengamanan daerah aliran sungai sebagai langkah mitigasi bencana berkelanjutan.

“Berdasarkan hasil diskusi bersama para tenaga ahli, total kerusakan dan kerugian yang tercatat mencapai sekitar Rp5,5 triliun, dengan rincian kebutuhan di sektor perumahan sekitar Rp2,4 triliun, infrastruktur Rp2,7 triliun, ekonomi Rp154 miliar, sosial Rp93 miliar, dan lintas sektor sekitar Rp140 miliar,” ujar Fadly Amran 

Wali Kota Padang itu juga mengungkapkan bahwa bencana hidrometeorologi yang terjadi pada periode November 2025 hingga Januari 2026 berdampak pada sekitar 67.563 jiwa. Berdasarkan pendataan, kerusakan rumah tercatat sebanyak 556 unit rusak berat, 2.207 unit rusak sedang, dan 2.934 unit rusak ringan.

"Selain perumahan, kerusakan juga terjadi pada berbagai infrastruktur vital, diantaranya 31 unit rumah, 13 jembatan, sekitar 74 ribu meter jalan, 22 bendungan. Kemudian lima gedung pemerintahan, puluhan fasilitas pendidikan, kesehatan, rumah ibadah, dan irigasi, hingga drainase, sistem penyediaan air bersih, serta area pertanian, dan perikanan," paparnya.

Lebih lanjut ia menyampaikan bahwa untuk pembangunan Hunian Tetap (Huntap), Pemerintah Kota Padang telah menyampaikan lokasi di Balai Gadang dan di Kecamatan Pauh.

“Total kebutuhan Huntap mencapai sekitar 800 unit rumah, dari sebelumnya sekitar 500 unit rumah. 300 unit tambahan ini merupakan rumah yang harus direlokasi dari bibir sungai,” pungkasnya.

Sementara itu, Sestama BNPB, Rustian, mengharapkan finalisasi dokumen R3P sebagai dasar percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi yang terencana, terintegrasi, dan akuntabel.

“Data yang valid menjadi kunci agar bantuan, relokasi warga, hingga perbaikan infrastruktur tepat sasaran. BNPB siap mensupport dukungan rehab-rekon bagi daerah terdampak ke kementerian terkait,” imbuhnya. (*)

Wako Fadly Amran dan Wawako Maigus Nasir, Mengikuti Rakor Finalisasi Dokumen R3P Hidrometeorologi Sumbar    
Kamis, Januari 08, 2026

On Kamis, Januari 08, 2026

Wako Fadly Amran dan Wawako Maigus Nasir, Mengikuti Rakor Finalisasi Dokumen R3P Hidrometeorologi Sumbar
Wali Kota Fadly Amran dan Wakil Wali Kota Padang, Maigus Nasir, mengikuti Rapat Koordinasi (Rakor) Finalisasi Dokumen Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P) Hidrometeorologi Sumatera Barat. 

BENTENGSUMBAR.COM
- Wali Kota Fadly Amran dan Wakil Wali Kota Padang, Maigus Nasir, mengikuti Rapat Koordinasi (Rakor) Finalisasi Dokumen Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P) Hidrometeorologi Sumatera Barat (Sumbar), yang berlangsung di Auditorium Gubernuran Sumbar, Kamis (8/1/2026).

Rakor strategis ini dibuka Sekretaris Utama BNPB, Rustian, dan dihadiri Gubernur Sumbar yang diwakili Sekdaprov Arry Yuswandi, unsur Forkopimda, serta para bupati dan wali kota se-Sumbar.

Fadly Amran menegaskan komitmen Pemerintah Kota Padang untuk mendukung penuh kebijakan pemerintah pusat dan provinsi dalam penanganan pascabencana, khususnya memasuki fase rehabilitasi dan rekonstruksi.

“Kita berharap rehabilitasi dan rekonstruksi tidak hanya memulihkan fisik, tetapi juga harus dibarengi penguatan mitigasi guna menekan risiko bencana ke depan,” tegasnya usai memaparkan data R3P Kota Padang. 

Bencana banjir dan longsor yang melanda Kota Padang pada akhir November 2025 berdampak pada 67.563 warga yang tersebar di lima kecamatan. Kerusakan rumah tercatat sebanyak 5.523 unit, terdiri dari 546 unit rusak berat, 2.174 unit rusak sedang, dan 2.949 unit rusak ringan.

Selain permukiman, bencana mengakibatkan kerusakan berat pada 13 jembatan, 74.327 meter jalan, 22 bendungan, dan 56 jaringan irigasi pertanian, serta kerusakan sedang pada 3.050 meter ruas jalan.

"Kerusakan juga mencakup 11 intake SPAM Pamsimas, 8 intake SPAM Perumda Air Minum, tebing sungai, drainase, dan fasilitas publik lainnya," tambah Maigus Nasir.

Sementara itu, Sestama BNPB Rustian menekankan pentingnya finalisasi dokumen R3P sebagai dasar percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi yang terencana, terintegrasi, dan akuntabel.

“Data yang valid menjadi kunci agar bantuan, relokasi warga, hingga perbaikan infrastruktur tepat sasaran. Sesuai dokumen R3P ini BNPB siap mendukung penuh proses rehab-rekon bagi daerah terdampak ke kementerian terkait,” ujarnya.

Sekdaprov Sumbar Arry Yuswandi mengatakan, R3P disusun dengan semangat “Sumbar Bangkit Menuju Ketangguhan Bencana” melalui pendekatan Build Back Better, Safer, and Sustainable, sebagai instrumen strategis yang menyatukan langkah pemerintah pusat hingga daerah.

"Melalui finalisasi dokumen R3P ini, kita optimistis proses pemulihan pascabencana dapat berjalan lebih cepat, terarah, dan terukur. Sehingga Sumatera Barat tidak hanya pulih, tetapi juga menjadi wilayah yang lebih tangguh dan aman bencana di masa depan," harapnya.

Pada kesempatan tersebut, Wakil Wali Kota Padang turut menandatangani komitmen “Sumbar Bangkit” bersama 12 bupati dan wali kota daerah terdampak, sebagai wujud kesepahaman percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana. (*)

Benteng Terakhir yang Hendak Diruntuhkan    
Kamis, Januari 08, 2026

On Kamis, Januari 08, 2026

Benteng Terakhir yang Hendak Diruntuhkan
Di ruang-ruang tertutup rapat, di mana asap cerutu berkelindan dengan ambisi kekuasaan, sebuah gagasan lama yang berbahaya kembali ditiupkan. (Ilustrasi). 

KETIKA
rakyat merasa tak lagi punya kuasa atas suaranya, mereka mungkin akan merasa tak lagi punya alasan untuk percaya pada negaranya.


Di ruang-ruang tertutup rapat, di mana asap cerutu berkelindan dengan ambisi kekuasaan, sebuah gagasan lama yang berbahaya kembali ditiupkan: mengakhiri era pemilihan kepala daerah (pilkada) langsung. Dalihnya seragam dan terdengar sangat "mulia"—efisiensi anggaran, memutus rantai politik uang, hingga meredam polarisasi horisontal yang melelahkan. Namun, di balik jubah teknokratis itu, terselip sebuah upaya sistematis untuk menarik kembali mandat rakyat ke tangan segelintir elite di parlemen. Jika ini terjadi, kita sedang menyaksikan prosesi pemakaman bagi apa yang disebut sebagai the last bastion of democracy—benteng terakhir demokrasi kita.


Gagasan mengembalikan pemilihan ke DPRD bukan sekadar soal perubahan prosedur teknis, melainkan sebuah pengkhianatan terhadap kontrak sosial pasca-Reformasi. Dalam teori democracy’s last line of defence, pilkada langsung bukan hanya urusan mencoblos gambar di bilik suara. Bagi jutaan rakyat yang selama ini merasa terpinggirkan oleh kebijakan pusat, hak memilih pemimpin daerah adalah "satu-satunya" kedaulatan politik yang masih terasa nyata dan berdenyut di genggaman mereka.


Mandat yang Hendak Dikurung di Ruang Sidang


Selama dua dekade terakhir, rakyat telah mencicipi manis-pahitnya menentukan nasib sendiri. Mereka tahu bahwa meskipun banyak kepala daerah yang berakhir di rompi oranye KPK, setidaknya mereka punya kesempatan untuk menghukum pemimpin yang ingkar janji pada pemilu berikutnya. Jika hak ini dirampas dan dikembalikan ke parlemen, maka hubungan antara pemimpin dan rakyat akan terputus seketika. Pemimpin daerah tak lagi merasa perlu berpeluh menyapa warga di pasar-pasar, karena nasib mereka hanya ditentukan oleh "restu" ketua partai dan kesepakatan transaksional di ruang sidang DPRD.


Inilah yang memicu alarm resistensi publik yang sangat tinggi. Ketika ekonomi sedang menghimpit dan ruang aspirasi terasa kian menyempit, mencabut hak pilih langsung adalah cara tercepat untuk mematikan sisa-sisa kepercayaan publik terhadap sistem demokrasi. Rakyat akan merasa bahwa elite politik tidak hanya ingin menguasai sumber daya, tetapi juga ingin memonopoli hak paling dasar milik warga: hak untuk menentukan siapa yang pantas mengurus halaman rumah mereka sendiri.


Aktor di Balik Layar: Wajah-Wajah Penjemput Mandat


Wacana untuk mengandangkan kembali hak pilih rakyat ke gedung parlemen bukanlah sebuah aspirasi yang lahir dari ruang hampa. Sejarah mencatat, "serangan" terhadap pilkada langsung sering kali dimotori oleh koalisi besar yang merasa dirugikan oleh biaya politik atau hasil pilihan rakyat yang tak sejalan dengan instruksi partai. Pada tahun 2014, jagat politik kita sempat gempar ketika koalisi partai yang tergabung dalam Koalisi Merah Putih (KMP)—yang saat itu digawangi oleh tokoh-tokoh seperti Prabowo Subianto (Gerindra) dan didukung oleh faksi kuat di Golkar era Aburizal Bakrie serta PKS—secara terbuka memperjuangkan pengesahan UU Pilkada lewat DPRD.


Meski saat itu sempat disahkan, gelombang perlawanan publik dan terbitnya Perpu oleh Presiden SBY berhasil menyelamatkan pilkada langsung. Namun, bara itu tak pernah benar-benar padam. Di tahun-tahun berikutnya, tokoh-tokoh dari PDI Perjuangan pun sempat melempar wacana serupa dengan dalih evaluasi atas biaya politik yang tinggi dan ancaman perpecahan di akar rumput. Narasi yang dibangun para politikus ini seragam: pilkada langsung dianggap sebagai produk "demokrasi liberal" yang tidak sesuai dengan napas sila keempat Pancasila. Sebuah alasan yang bagi banyak pakar hukum tata negara, hanyalah kedok untuk mengembalikan supremasi partai atas kedaulatan rakyat.


Asimetri Kekuasaan dan Matinya Akuntabilitas


Pemilihan melalui DPRD hanya akan menciptakan apa yang oleh para pakar politik disebut sebagai "pasar gelap kekuasaan". Tanpa pengawasan langsung dari mata rakyat, proses pemilihan kepala daerah akan berubah menjadi ajang lelang jabatan. Biaya politik yang katanya ingin ditekan, sebenarnya tidak hilang—ia hanya berpindah tempat, dari biaya kampanye terbuka menjadi biaya lobi-lobi tertutup yang jauh lebih sulit dilacak.


Dalam skema ini, akuntabilitas kepala daerah akan bergeser 180 derajat. Alih-alih melayani kepentingan publik, sang bupati atau wali kota akan lebih sibuk melayani syahwat politik partai-partai penyokongnya di legislatif agar posisinya tetap aman. Rakyat hanya akan menjadi penonton pasif yang dipaksa menerima siapa pun yang diputuskan oleh para makelar politik. Ini adalah bentuk pengabaian konstitusional terhadap hak warga untuk berpartisipasi dalam pemerintahan, sebuah langkah mundur yang membawa kita kembali ke era kegelapan otoritarianisme yang berbaju otonomi.


Risiko Sosial: Ketika Suara Tak Lagi Berharga


Mengambil hak pilih langsung berarti meruntuhkan kompas moral politik warga. Jika satu-satunya kanal resmi bagi rakyat untuk mengekspresikan pilihan politiknya ditutup, maka jangan kaget jika resistensi itu akan mencari jalan keluar di luar sistem. Sejarah telah mengajarkan bahwa ketika kedaulatan rakyat disumbat, ia akan meledak dalam bentuk apatisme masif atau, yang lebih berbahaya, kemarahan di jalanan.


Negara harus diingatkan bahwa infrastruktur demokrasi yang paling mahal bukanlah kotak suara atau kertas pemungutan, melainkan "rasa memiliki" rakyat terhadap negara ini. Dengan mempertahankan pilkada langsung, kita sebenarnya sedang merawat rasa memiliki tersebut.


Sebaliknya, dengan menyerahkannya ke tangan parlemen, elite politik sedang membangun tembok tinggi yang memisahkan mereka dari denyut nadi rakyatnya sendiri.


Pada akhirnya, pilkada langsung adalah benteng pertahanan terakhir yang menjaga agar demokrasi kita tidak sepenuhnya jatuh ke tangan oligarki.


Meruntuhkannya mungkin akan memudahkan urusan logistik partai, namun ia akan meninggalkan luka permanen pada nurani bangsa. Jangan sampai demi "kenyamanan" para elite, kita mengorbankan martabat rakyat yang telah susah payah diperjuangkan dengan darah dan air mata sejak 1998. Karena ketika rakyat merasa tak lagi punya kuasa atas suaranya, mereka mungkin akan merasa tak lagi punya alasan untuk percaya pada negaranya. (*)


Ditulis Oleh: Muhibbullah Azfa Manik