HEADLINE
Pemprov Sumbar Perkuat Kapasitas Pengelola Usaha Perhutanan Sosial Melalui Bimtek    
Kamis, Januari 22, 2026

On Kamis, Januari 22, 2026

Pemprov Sumbar Perkuat Kapasitas Pengelola Usaha Perhutanan Sosial Melalui Bimtek
Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah. 

BENTENGSUMBAR.COM
- Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Pemprov Sumbar) terus memperkuat peran perhutanan sosial sebagai instrumen strategis dalam penguatan ekonomi masyarakat sekitar kawasan hutan. Upaya tersebut diwujudkan melalui pelaksanaan Bimbingan Teknis Penyusunan Rencana Usaha Perhutanan Sosial (RUPS).

Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah menyampaikan kegiatan ini menjadi langkah penting untuk meningkatkan kapasitas kelompok pengelolaan usaha perhutanan sosial agar lebih terarah, berkelanjutan, dan sesuai dengan kebutuhan pasar. “Melalui kegiatan ini diharapkan kapasitas kelompok pengelolaan usaha perhutanan sosial di Sumatera Barat semakin meningkat, sekaligus mampu mengembangkan bidang usaha yang benar-benar dibutuhkan pasar,” ujar Mahyeldi saat membuka Bimtek Penyusunan RUPS di The ZHM Premiere Hotel Padang, Kamis (22/1/2026).

Gubernur menegaskan, perhutanan sosial di Sumbar tidak lagi dipandang semata sebagai program pengelolaan hutan, melainkan telah menjadi bagian penting dari strategi pembangunan daerah dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan hutan. “Perhutanan sosial merupakan solusi strategis dalam menjawab tantangan pengelolaan hutan, agar tetap lestari sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat,” ungkapnya.

Melalui kebijakan perhutanan sosial, lanjut Mahyeldi, masyarakat diberikan ruang dan kepercayaan untuk mengelola kawasan hutan secara mandiri, bertanggung jawab, dan berkelanjutan, dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan. Gubernur juga mengungkapkan, hingga saat ini luasan perhutanan sosial di Sumbar telah mencapai 340 ribu hektare. Capaian tersebut tidak hanya berkontribusi terhadap upaya pelestarian hutan, tetapi juga berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Bahkan, sejak tahun 2025, rata-rata pendapatan petani hutan di Sumbar tercatat mencapai Rp3,1 juta per bulan.

Menurut Mahyeldi, keberhasilan perhutanan sosial sangat ditentukan oleh kualitas pengelolaan di tingkat Kelompok Perhutanan Sosial (KPS) dan Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS). Oleh karena itu, penyusunan RUPS menjadi tahapan penting dalam memperkuat perencanaan usaha, tata kelola kelembagaan, serta meningkatkan daya saing produk hasil hutan. “Kami mendorong pengelola KPS dan KUPS untuk terus berinovasi, meningkatkan produktivitas, dan memperluas akses pasar. Dengan pengelolaan yang baik dan berorientasi usaha, perhutanan sosial dapat membuka lapangan kerja baru serta memberikan nilai tambah ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat,” tegasnya.

Bimbingan Teknis Penyusunan RUPS ini diselenggarakan oleh Dinas Kehutanan Provinsi Sumbar selama dua hari ini, bertujuan memperkuat kelembagaan dan usaha KPS/KUPS, mendorong peningkatan level KUPS dari Silver ke Gold maupun dari Gold ke Platinum, serta mendukung pencapaian Rencana Operasional FOLU Net Sink 2030. Sebanyak 90 peserta mengikuti kegiatan ini, terdiri dari 60 pengelola KPS/KUPS level Silver dan Gold yang berasal dari 30 kelompok dengan beragam komoditas, seperti ekowisata, agroforestri kopi dan durian, madu, pengolahan pangan lokal, gaharu, serta rotan. Selain itu, kegiatan ini juga diikuti oleh 30 pendamping KPS/KUPS yang berasal dari penyuluh kehutanan ASN serta NGO/CSO. Gubernur berharap, melalui kegiatan ini dapat dihasilkan dokumen RUPS yang matang dan siap disahkan, penguatan kelembagaan kelompok, peningkatan kualitas dan daya saing produk, serta terwujudnya pengelolaan hutan yang semakin lestari dan berkelanjutan di Provinsi Sumatera Barat.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Direktur Pengembangan Usaha Perhutanan Sosial Direktorat Jenderal Perhutanan Sosial Kementerian Kehutanan atau yang mewakili, Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Barat, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Barat, Kepala UPTD PLUT Koperasi dan UMKM Provinsi Sumatera Barat, serta seluruh peserta Bimbingan Teknis Penyusunan RUPS. (Adpsb/rmz/bud)

Anggota DPRD Kota Padang Rusdi Hadiri Rakorbang Kelurahan Koto Baru Nan XX: Saya Hadir untuk Mendengar Langsung Kebutuhan Masyarakat    
Kamis, Januari 22, 2026

On Kamis, Januari 22, 2026

Anggota DPRD Kota Padang Rusdi Hadiri Rakorbang Kelurahan Koto Baru Nan XX: Saya Hadir untuk Mendengar Langsung Kebutuhan Masyarakat
Anggota DPRD Kota Padang, H. Rusdi, ST MT menghadiri Rapat Koordinasi Pembangunan (Rakorbang) Kelurahan Koto Baru Nan XX pada Kamis (22/1/2026).

BENTENGSUMBAR.COM
- Anggota DPRD Kota Padang, H. Rusdi, ST MT menghadiri Rapat Koordinasi Pembangunan (Rakorbang) Kelurahan Koto Baru Nan XX pada Kamis (22/1/2026).

Kehadirannya menjadi wujud nyata komitmen wakil rakyat dalam menyerap langsung aspirasi masyarakat dari tingkat paling bawah.

H. Rusdi yang juga Anggota Komisi IV DPRD Padang ini, menegaskan pentingnya partisipasi aktif warga dalam proses perencanaan pembangunan. Menurutnya, usulan yang lahir dari Rakorbang kelurahan akan menjadi dasar perjuangan di tingkat DPRD agar dapat diakomodasi dalam perencanaan dan penganggaran daerah.

“Saya hadir untuk mendengar langsung kebutuhan masyarakat. Apa yang disampaikan hari ini akan saya bawa dan perjuangkan di DPRD agar bisa diwujudkan dalam program pembangunan Kota Padang,” ujar H. Rusdi yang merupakan Anggota Fraksi Partai Demokrat DPRD Kota Padang.

Camat Lubuk Begalung, Nofiandi Amir, mengapresiasi kehadiran anggota DPRD dalam forum Rakorbang kelurahan. Menurutnya, sinergi antara pemerintah kecamatan, kelurahan, dan DPRD sangat penting agar perencanaan pembangunan benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat di lapangan.

“Rakorbang ini adalah wadah strategis untuk menyelaraskan program pembangunan dari tingkat kelurahan hingga kota. Kehadiran anggota DPRD tentu menjadi penguat agar aspirasi warga dapat ditindaklanjuti secara nyata,” kata Nofiandi Amir.

Rakorbang juga dihadiri oleh Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Padang, Camat Lubuk Begalung, Nofiandi Amir, SH MH, dan Kepala Puskesmas Lubuk Begalung dr. Sari Ramadhani, Lurah Koto Baru Nan XX, Bhabinkamtibmas, Babinsa, perangkat kelurahan, Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), ketua RT/RW, tokoh masyarakat, serta perwakilan warga dari berbagai elemen. (*)

Pengurus PWI DIY 2025–2030 Dilantik di Hadapan Sri Sultan HB X, Tegaskan Etika Pers di Era Viralitas    
Kamis, Januari 22, 2026

On Kamis, Januari 22, 2026

Pengurus PWI DIY 2025–2030 Dilantik di Hadapan Sri Sultan HB X, Tegaskan Etika Pers di Era Viralitas
Prosesi pelantikan diawali dengan pembacaan Surat Ketetapan Pengukuhan Pengurus PWI DIY Masa Bakti 2025–2030 oleh Sekretaris Jenderal PWI Pusat, Zulmansyah Sekedang, yang menandai secara resmi legitimasi kepengurusan baru PWI DIY.

BENTENGSUMBAR.COM
- Pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) masa bakti 2025–2030 resmi dilantik dan dikukuhkan di Kompleks Kepatihan, Kantor Gubernur DIY, Kamis (22/1/2026). Pelantikan ini menjadi peristiwa bersejarah karena untuk pertama kalinya prosesi pengukuhan PWI DIY digelar di pusat pemerintahan daerah dan disaksikan langsung oleh Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Prosesi pelantikan diawali dengan pembacaan Surat Ketetapan Pengukuhan Pengurus PWI DIY Masa Bakti 2025–2030 oleh Sekretaris Jenderal PWI Pusat, Zulmansyah Sekedang, yang menandai secara resmi legitimasi kepengurusan baru PWI DIY.

Ketua PWI DIY, Hudono, menyebut pelantikan di Kompleks Kepatihan sebagai simbol kuat dukungan Pemerintah Daerah DIY terhadap kebebasan pers yang berakar pada nilai Pancasila, etika, dan kepentingan publik.

“Ini pertama kalinya pelantikan PWI DIY dilaksanakan di Kompleks Kepatihan, di hadapan Sri Sultan HB X yang selama ini konsisten menegakkan kebebasan pers di Yogyakarta dan Indonesia. Pers harus berakar pada Pancasila, beretika, dan berpihak pada kepentingan publik,” ujar Hudono.

Ia menegaskan bahwa momentum ini menjadi tonggak penting bagi gerak pers di DIY untuk terus meningkatkan profesionalisme dan kompetensi wartawan.

“Kami berikhtiar mewujudkan pers yang bermartabat di Yogyakarta,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Umum PWI Pusat Akhmad Munir menyampaikan apresiasi atas penghormatan yang diberikan Sri Sultan HB X dengan memfasilitasi pelantikan di Kantor Gubernur DIY.

“DIY sangat istimewa. Ia memiliki sejarah panjang perjuangan bangsa dan menjadi pusat peradaban Jawa yang menginspirasi Indonesia. Nilai budaya ini sejalan dengan nilai-nilai perjuangan PWI,” kata Munir yang juga Ketua Dewas LKBN Antara.

Munir mengingatkan bahwa PWI yang lahir di Solo pada 9 Februari 1946, setahun setelah kemerdekaan Indonesia, sejak awal hadir sebagai bagian dari perjuangan bangsa melalui informasi yang mencerdaskan.

“Di tengah disrupsi informasi yang sangat pesat, wartawan harus tetap menjadi insan perjuangan. Kita menghadapi ancaman bencana informasi yang bisa mengganggu keberlangsungan bangsa,” ujarnya.

Ia juga menegaskan pentingnya posisi Yogyakarta sebagai Kota Pers Pancasila, yang menempatkan Pancasila sebagai benteng profesionalisme, martabat, dan marwah pers di tengah kuatnya pengaruh media sosial dan arus informasi tanpa batas.

Dalam sambutannya, Sri Sultan Hamengku Buwono X menegaskan pentingnya integritas dan tanggung jawab pers di tengah derasnya arus informasi real-time dan logika viralitas.

“Kemerdekaan pers harus berjalan beriringan dengan integritas, kebijaksanaan, serta kesadaran penuh atas dampak sosial dari setiap informasi yang diproduksi dan dikonsumsi di ruang publik,” ujar Sri Sultan.

Sri Sultan mengingatkan bahwa mutu sebuah kabar ditentukan oleh kejernihan sumber, ketepatan cara, dan kebersihan niat. Ia menegaskan bahwa pers yang bermartabat tidak semata-mata diukur dari kecepatan, tetapi dari kedalaman dan ketepatan informasi.

“Pers yang bermartabat bukan hanya hadir lebih cepat dari peristiwa, tetapi lebih dalam dari sekadar headline,” tegasnya.

Sri Sultan juga menyoroti tantangan era pasca-kebenaran, ketika opini kerap mengalahkan fakta dan algoritma lebih berpengaruh daripada nurani.

“Kecepatan tanpa ketelitian berisiko menyesatkan. Kebebasan tanpa tanggung jawab berpotensi melukai kepercayaan publik,” tandasnya.

Ia menegaskan bahwa Pemerintah Daerah DIY memandang pers sebagai mitra strategis dalam pembangunan dan demokrasi, dengan relasi yang saling menguatkan antara keterbukaan pemerintah dan fungsi kontrol pers.

“Semoga amanah ini dapat dijalankan dengan integritas, kebijaksanaan, dan keberpihakan kepada kebenaran demi kepentingan publik,” pungkas Sri Sultan.

Dalam kepengurusan PWI DIY masa bakti 2025–2030, sejumlah tokoh tercatat sebagai penasihat, antara lain GKR Mangkubumi, Prof. Dr. Drs. Edy Suandi Hamid, Drs. A. Hafid Asrom, MM, Prof. Dr. Suyanto, dan Ki Bambang Widodo.

Sementara di jajaran Dewan Pakar terdapat nama-nama Prof. Dr. Muchlas, Prof. Dr. Sujito, SH, MSi, Prof. Pardimin, PhD, Dr. Aciel Suyanto, SH, MH, Dr. Esti Susilarti, M.Par, Dr. TM. Luthfi Yazid, SH, LL.M., serta Ahmad Subagya. (*)

Kayu Akibat Banjir Menjadi Sampah di Pantai Gajah, Ketua DPRD Kota Padang Muharlion Menyatakan Akan Segera Melakukan Koordinasi dengan DLH    
Kamis, Januari 22, 2026

On Kamis, Januari 22, 2026

Kayu Akibat Banjir menjadi Sampah di Pantai Gajah, Ketua DPRD Kota Padang Muharlion Menyatakan Akan Segera Melakukan Koordinasi dengan DLH
Ketua DPRD Kota Padang, Muharlion, menyatakan akan segera melakukan koordinasi dengan DLH Kota Padang terkait sampah kayu yang masih menumpuk di sepanjang kawasan pantai. 

BENTENGSUMBAR.COM
- Pantai Gajah di belakang Kampus Universitas Negeri Padang (UNP) kini tak lagi menyuguhkan hamparan pasir dan laut yang lapang. Sejauh mata memandang, bibir pantai justru dipenuhi tumpukan kayu berukuran kecil, sisa banjir bandang yang datang beberapa waktu lalu dan hingga kini belum sepenuhnya ditangani.

Berbeda dengan sejumlah pantai lain di Kota Padang yang telah dibersihkan pascabencana, Pantai Gajah seolah luput dari perhatian. Kayu-kayu itu teronggok memanjang mengikuti garis pantai, menjadi penanda bisu betapa dahsyatnya banjir bandang yang membawa material dari hulu hingga ke laut. Wajah pantai yang sebelumnya terbuka kini tertutup oleh sisa-sisa alam yang murka.

Tumpukan kayu tersebut tak hanya merusak pemandangan, tetapi juga menyulitkan aktivitas nelayan setempat. Perahu nelayan kesulitan untuk bersandar, jaring kerap tersangkut, dan ruang gerak di pesisir semakin terbatas. “Kami susah mau sandar. Kalau air pasang, kayu-kayu ini bisa terbawa lagi dan menghantam perahu,” ujar seorang nelayan sambil menunjuk ke arah tumpukan kayu yang memanjang di tepi pantai.

Keresahan serupa dirasakan warga sekitar. Pantai yang biasanya menjadi ruang beraktivitas dan menikmati sore kini terlihat kumuh. Sampah kayu bercampur plastik dibiarkan mengering di bawah terik matahari, menambah kesan tak terurus di kawasan yang berdekatan dengan lingkungan kampus. “Sayang sekali, ini dekat kampus tapi seperti luput dari perhatian pemerintah. Kayu yang besar sudah dipotong warga, tapi yang kecil dibiarkan tergelatak dan mengering. Sampai kapan kondisi ini dibiarkan?” keluh seorang warga.

Hingga kini, belum tampak upaya pembersihan berarti dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Padang. Tumpukan kayu masih bertahan di bibir pantai, seakan menunggu waktu untuk kembali hanyut atau membusuk di tempat.

Menanggapi kondisi tersebut, Ketua DPRD Kota Padang, Muharlion, menyatakan akan segera melakukan koordinasi dengan DLH Kota Padang terkait sampah kayu yang masih menumpuk di sepanjang kawasan pantai. “Ya, kita akan lakukan koordinasi dengan DLH Kota Padang terkait sampah kayu yang masih ada di sepanjang pantai, mulai dari Kecamatan Padang Utara hingga Kecamatan Koto Tangah,” ujarnya, Kamis (22/1).

Selain itu, Muharlion juga mendorong peran aktif camat setempat untuk menggerakkan gotong royong bersama warga sebagai langkah awal penanganan. “Salah satu cara yang bisa dilakukan saat ini adalah mengajak warga bergotong royong membersihkan sampah di pantai. Nanti akan saya koordinasikan dengan camat setempat,” tutupnya. (*)

Hearing, Ketua DPRD Kota Padang Muharlion Minta Pemko Segera Siapkan Seluruh Berkas Administrasi    
Kamis, Januari 22, 2026

On Kamis, Januari 22, 2026

Hearing, Ketua DPRD Kota Padang Muharlion Minta Pemko Segera Siapkan Seluruh Berkas Administrasi
Hearing DPRD Kota Padang membahas krisis air bersih yang hingga kini masih dirasakan warga pascabanjir bandang beberapa waktu lalu di Kota Padang.

BENTENGSUMBAR.COM
- Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Perkim) Kota Padang bersama Perumda Air Minum Kota Padang mendapat sorotan tajam DPRD Kota Padang saat rapat dengar pendapat (hearing) di Kantor DPRD, Kamis (22/1). 

Hearing tersebut membahas krisis air bersih yang hingga kini masih dirasakan warga pascabanjir bandang beberapa waktu lalu di Kota Padang.

Ketua Komisi II DPRD Padang, Rachmad Wijaya, melontarkan kritik keras terkait rencana pembangunan ratusan sumur bor yang digadang-gadang sebagai solusi krisis air bersih. Ia mempertanyakan realisasi 200 titik sumur bor yang telah di data oleh Perkim Kota Padang. “Di mana 200 titik sumur bor yang direncanakan itu? Apakah Bapak dan tim sudah turun ke lapangan? Apakah bapak telah koordinasi dengan Lurah dan Camat setempat? Jangan beri jawaban Asal Bos Senang (ABS). Faktanya, baru empat sumur bor yang terealisasi,” tegas Rachmad kepada Marzuki, Kabid di Dinas Perkim Kota Padang yang hadir dalam hearing tersebut.

Tak hanya itu, Rachmad juga menyoroti lambannya pelayanan Perumda Air Minum Kota Padang terhadap pelanggan yang mengalami kekeringan. Ia mengaku hampir setiap hari menerima keluhan warga, sementara tempat penampungan air yang dibangun PDAM disebut sudah lama kering. “Saya sering ditelepon warga. Saya juga sering menelepon Bapak, tapi hanya janji tanpa realisasi. Kalau mobil tangki kurang, ya sewa saja. DPRD tidak menuntut soal PAD yang di berikan Perumda Air Minum kok,” ujarnya dengan nada kecewa kepada Direktur Utama Perumda Air Minum.

Sementara itu, Ketua DPRD Kota Padang, Muharlion, menjelaskan bahwa warga terdampak krisis air bersih terdiri dari pelanggan dan nonpelanggan Perumda Air Minum. Penanganannya pun dibagi sesuai kewenangan. “Untuk pelanggan, ditangani langsung oleh Perumda Air Minum. Sedangkan nonpelanggan akan ditangani oleh BPBD Kota Padang,” jelasnya.

Dalam percepatan pembangunan sumur bor, Muharlion meminta Pemerintah Kota Padang segera menyiapkan seluruh berkas administrasi yang dibutuhkan agar pembangunan dapat dilakukan oleh Balai Penataan Bangunan Prasarana dan Kawasan (BPBPK) Sumatera Barat. “BPBPK saat ini menunggu data dari Pemko Padang. Menurut saya, lokasi ideal pembangunan sumur bor adalah fasilitas umum, seperti lingkungan rumah ibadah. Tempatnya aman dan nyaman bagi warga,” ungkapnya.

Muharlion menegaskan agar Pemko Padang menuntaskan seluruh persiapan dalam waktu satu minggu ke depan, mengingat kebutuhan air bersih warga semakin mendesak. “Warga sangat membutuhkan air bersih. Saat ini 98 persen pelanggan sudah kembali teraliri air. Sebentar lagi memasuki bulan puasa, kebutuhan air akan semakin tinggi,” tegasnya. (*)

Pemprov Sumbar Siapkan Langkah Intervensi Hadapi Tekanan Inflasi Pasca Bencana dan Jelang Ramadhan    
Kamis, Januari 22, 2026

On Kamis, Januari 22, 2026

Pemprov Sumbar Siapkan Langkah Intervensi Hadapi Tekanan Inflasi Pasca Bencana dan Jelang Ramadhan
Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah saat menghadiri kegiatan forum High Level Meeting Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Tahun 2026.

BENTENGSUMBAR.COM
- Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Pemprov Sumbar) menyiapkan sejumlah langkah intervensi strategis untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pangan pascabencana serta menjelang Ramadhan dan Idul Fitri Tahun 2026. Salah satunya dengan mengajukan permintaan suplai pangan ke Badan Pangan Nasional (Bapanas) guna memastikan kecukupan cadangan pangan daerah dalam tiga bulan ke depan.

"Sejumlah langkah intervensi telah kita siapkan untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pangan di Sumbar. Termasuk mengajukan permintaan tambahan cadangan pangan ke Bapanas. Selanjutnya kami mohon dukungan dari semua pihak," ungkap Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah saat menghadiri kegiatan forum High Level Meeting Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Tahun 2026 yang digelar di Aula Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumbar, Kamis (22/1/2026).

High Level Meeting TPID tahun ini mengusung tema “Sinergi dan Strategi Pengendalian Inflasi Pasca Bencana serta Persiapan Ramadhan dan Idul Fitri Tahun 2026”, sebagai respons atas meningkatnya tekanan inflasi akibat dampak bencana serta tingginya kebutuhan masyarakat menjelang hari besar keagamaan. Gubernur mengungkapkan, bencana hidrometeorologi yang melanda Sumbar pada akhir November lalu telah mengakibatkan kerusakan dan kerugian yang signifikan bagi daerah, dampak terparah terjadi pada sektor infrastruktur, pertanian, perkebunan dan perikanan. Dampak tersebut juga berpengaruh langsung terhadap produksi, distribusi, dan ketersediaan pangan di Sumbar.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat inflasi Sumbar sepanjang tahun 2025 menunjukkan tren peningkatan, terutama dipengaruhi oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Tekanan inflasi tersebut berpotensi semakin meningkat seiring terganggunya pasokan pangan akibat bencana dan tingginya permintaan. “Jika tidak dimitigasi segera, kondisi tersebut tentu akan semakin memperparah tekanan inflasi bagi Sumatera Barat,” ujar Mahyeldi.

Menghadapi kondisi tersebut, Mahyeldi menegaskan pentingnya sinergi dan kolaborasi lintas sektor, baik antara pemerintah pusat dan daerah, Bank Indonesia, maupun seluruh pemangku kepentingan, dalam upaya pengendalian inflasi. Ia lalu menawarkan 2 pendekatan utama untuk menekan laju inflasi di Sumbar, yakni pengendalian harga dalam jangka pendek serta penguatan ketahanan pangan daerah untuk jangka panjang. “Untuk jangka pendek, kita harus memastikan harga tetap terkendali dan pasokan tersedia. Sementara untuk jangka panjang, ketahanan pangan daerah harus diperkuat agar tidak mudah terguncang oleh faktor bencana maupun fluktuasi permintaan,” tegasnya.

Mahyeldi mengingatkan, berkaca dari pengalaman tahun sebelumnya, komoditas utama penyumbang inflasi pada periode Ramadhan dan Idul Fitri tahun 2024–2025, yakni cabai merah, bawang merah, dan beras. Sehingga, komoditas tersebut perlu menjadi fokus pengendalian bagi TPID ke depan. Mahyeldi mengungkap, Pemprov Sumbar telah menyiapkan sejumlah langkah intervensi strategis untuk persiapan menghadapi Ramadhan dan Idul Fitri 2026. Di antaranya, mengajukan permintaan suplai cadangan pangan ke Bapanas, melaksanakan kegiatan gerakan pangan murah dan operasi pasar, menjaga kelancaran distribusi pangan.

Selain itu, pihaknya juga akan memperkuat kerja sama antar daerah, mengawasi praktik penimbunan dan spekulasi harga, serta melakukan komunikasi yang efektif kepada masyarakat guna menjaga stabilitas harga dan daya beli. Hal tersebut dilaksanakan untuk menekan laju inflasi dan menjaga ketersediaan pangan di Sumbar jelang Ramadhan dan Idul Fitri. High Level Meeting TPID tersebut turut dihadiri Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Barat, para kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lingkup Pemprov Sumbar, serta bupati dan wali kota se-Sumatera Barat. (adpsb/rmz/bud)

Gubernur Mahyeldi Buka Seleksi Petugas Haji Daerah Sumbar 1447 H/2026 M    
Kamis, Januari 22, 2026

On Kamis, Januari 22, 2026

Gubernur Mahyeldi Buka Seleksi Petugas Haji Daerah Sumbar 1447 H/2026 M
Seleksi Petugas Haji Daerah (PHD) Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia di Auditorium Gubernuran, Kamis (22/1/2026).

BENTENGSUMBAR.COM
- Gubernur Sumatera Barat (Sumbar), Mahyeldi Ansharullah membuka secara resmi kegiatan seleksi Petugas Haji Daerah (PHD) Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia di Auditorium Gubernuran, Kamis (22/1/2026).

Seleksi PHD tahun ini diikuti oleh 38 peserta untuk mengisi kuota kebutuhan sebanyak 21 petugas. Seluruh rangkaian seleksi dilaksanakan selama satu hari dan hasilnya akan diumumkan setelah seluruh tahapan proses seleksi selesai.

Dalam sambutannya, Gubernur Mahyeldi menegaskan bahwa proses seleksi Petugas Haji Daerah merupakan amanat Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2025, yang mengatur bahwa calon PHD diusulkan oleh kepala daerah kepada Kementerian Haji dan Umrah RI untuk selanjutnya mengikuti tahapan seleksi.

Menurutnya, mekanisme ini sekaligus menjadi bentuk aktualisasi prinsip keterbukaan, transparansi, dan akuntabilitas dalam penyelenggaraan ibadah haji, sehingga petugas yang terpilih benar-benar memiliki kompetensi, integritas, serta kesiapan dalam melayani jemaah.

“Petugas Haji Daerah mengemban amanah besar, tidak hanya mendampingi secara teknis para jemaah tetapi juga melayaninya. Ikutilah proses seleksi ini dengan penuh kejujuran dan niat ikhlas, jangan hanya diniatkan karena semata-mata ingin medapatkan penugasan,” tegas Mahyeldi.

Gubernur juga mengingatkan panitia dan tim seleksi agar menjalankan tugas secara profesional dan bertanggung jawab, serta menjunjung tinggi integritas, sehingga hasil seleksi benar-benar sesuai dengan kebutuhan pelayanan jemaah haji Provinsi Sumbar.

“Kita berharap, petugas yang terpilih nantinya mampu memberikan pelayanan terbaik, menjaga nama baik daerah, serta membantu para jemaah menjalankan ibadah haji dengan aman, tertib, dan khusyuk,” ujarnya.

Selain Gubernur, kegiatan pembukaan seleksi PHD Provinsi Sumbar tahun 2026 ini juga dihadiri oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Provinsi Sumbar, Dr. H. M. Rifqi, M.A.; Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat Setdaprov Sumbar, Edi Dharma; serta Asisten Pemerintahan dan Kesra Setdaprov Sumbar, Ahmad Zakri. (adpsb/rmz/bud)