 |
| Yudhi Jumaidi Hadi (38), seorang pengusaha air isi ulang di Kota Payakumbuh, Sumatera Barat, Indonesia. (Foto: Hermiko). |
BENTENGSUMBAR.COM – Musibah bisa datang tanpa pernah memberi tanda dan keyakinan itulah yang membuat Yudhi Jumaidi Hadi (38), seorang pengusaha air isi ulang di Kota Payakumbuh, tidak pernah lalai menjaga status kepesertaan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) miliknya
tetap aktif selama 12 tahun terakhir.
Baginya, iuran yang dibayarkan setiap bulan bukan sekadar kewajiban, melainkan investasi perlindungan kesehatan bagi keluarga sekaligus wujud nyata semangat gotong royong
antarsesama peserta.
Menurut Yudhi, memiliki status kepesertaan JKN yang aktif memberikan rasa tenang karena ia tidak perlu khawatir menghadapi risiko biaya pengobatan ketika sakit datang secara tiba-tiba. Terlebih, pekerjaan yang ia tekuni saat ini membutuhkan fisik yang sehat dan kuat.
“Punya status BPJS Kesehatan yang aktif itu sangat penting karena saat kita membutuhkan layanan sudah ada yang menjamin dan kita bisa terhindar dari risiko finansial. Kita tidak pernah tahu kapan sakit itu datang, sehingga perlindungannya harus dipersiapkan dari sekarang,” ujar Yudhi.
Sebagai peserta JKN segmen Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU), Yudhi mengaku selalu berusaha membayar iuran sebelum tanggal 10 setiap bulan. Menurutnya, manfaat yang diterima jauh lebih besar dibandingkan iuran yang dibayarkan.
Ia juga menilai Program JKN merupakan salah satu bentuk gotong royong terbaik yang dimiliki Indonesia karena memungkinkan peserta yang sehat membantu peserta yang sedang sakit, sementara peserta yang mampu turut membantu mereka yang membutuhkan pelayanan kesehatan.
“Saya tidak pernah merasa rugi membayar iuran setiap bulan. Justru dengan iuran itu kita saling membantu. Yang sehat membantu yang sakit, yang mampu membantu yang membutuhkan. Semangat gotong royong seperti ini harus terus dijaga,” kata Yudhi.
Pengalaman keluarganya menjadi bukti nyata manfaat Program JKN. Salah satu momen yang paling membekas baginya adalah ketika anaknya mengalami patah tulang akibat terjatuh saat bermain. Dalam kondisi darurat tersebut, Yudhi segera membawa sang anak ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit terdekat dan langsung mendapatkan penanganan medis.
Selain itu, kepesertaan JKN juga dimanfaatkan untuk pemeriksaan kesehatan rutin di puskesmas hingga pemeriksaan kehamilan dan persalinan anak ketiganya.
“Saya sudah beberapa kali memanfaatkan JKN. Mulai dari pemeriksaan kesehatan di puskesmas, pemeriksaan kehamilan hingga persalinan anak ketiga kami. Termasuk, saat anak kami membutuhkan pertolongan medis segera akibat cidera patah tulang. Saya merasa bersyukur ada JKN yang menjaminnya,” ungkap Yudhi.
Selama memperoleh pelayanan kesehatan menggunakan JKN, Yudhi mengaku tidak pernah merasakan adanya perbedaan perlakuan dibandingkan pasien umum. Menurutnya, pelayanan yang diterima selalu ramah, cepat, dan profesional.
Ia bahkan membantah anggapan yang masih berkembang di masyarakat mengenai adanya diskriminasi terhadap peserta JKN ataupun pembatasan lama hari rawat inap. Menurutnya, masyarakat perlu memastikan kebenaran informasi melalui sumber resmi agar memperoleh pemahaman yang tepat mengenai penyelenggaraan Program JKN.
“Kami tidak pernah merasakan perbedaan pelayanan antara pasien JKN dengan pasien umum. Anak kami bahkan menjalani rawat inap lebih dari tiga hari sesuai kebutuhan medis dan diagnosa dokter. Mulai dari administrasi sampai mendapatkan ruang perawatan semuanya berjalan lancar dan tidak berbelit-belit,” jelas Yudhi.
Di sisi lain, Yudhi juga mengapresiasi transformasi digital yang dilakukan BPJS Kesehatan melalui Aplikasi Mobile JKN. Sejak diluncurkan, ia telah memanfaatkan berbagai fitur yang tersedia untuk mempermudah kebutuhan administrasi kepesertaan tanpa harus datang ke kantor BPJS Kesehatan.
Melalui aplikasi tersebut, ia dapat mengecek status kepesertaan, melihat informasi tagihan iuran, mengakses kartu digital, mengubah Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP), melihat riwayat pelayanan, hingga mengambil antrean online sebelum berobat.
“Saya sudah menggunakan Aplikasi Mobile JKN sejak awal diluncurkan. Semua kebutuhan administrasi sekarang jauh lebih mudah karena cukup melalui handphone. Fitur-fiturnya lengkap dan sangat membantu peserta,” tutur Yudhi.
Yudhi juga mengingat kembali kondisi pelayanan kesehatan sebelum hadirnya Program JKN. Menurutnya, tidak sedikit masyarakat yang harus mencari pinjaman bahkan menjual harta
benda demi memperoleh biaya pengobatan.
Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk mensyukuri keberadaan Program JKN dengan menjadi peserta aktif dan disiplin membayar iuran setiap bulan. Bahkan, peserta PBPU bisa mendaftar layanan autodebit iuran JKN setiap bulan melalui Aplikasi Mobile JKN agar terhindari dari risiko tunggakan.
“Kita patut bersyukur memiliki Program JKN. Program ini membantu masyarakat terhindar dari risiko kemiskinan akibat biaya berobat. Selama mengikuti prosedur yang berlaku dan status kepesertaannya aktif, masyarakat bisa memperoleh pelayanan kesehatan yang berkualitas tanpa perlu khawatir terhadap biaya pengobatan,” tegas Yudhi.
Menutup perbincangan, Yudhi berharap BPJS Kesehatan terus menjaga kualitas pelayanan, menghadirkan inovasi yang memudahkan peserta, serta terbuka menerima berbagai masukan dari masyarakat. Ia juga mengingatkan bahwa keberlangsungan Program JKN tidak hanya menjadi tanggung jawab BPJS Kesehatan, tetapi juga seluruh peserta JKN.
“Saya berharap BPJS Kesehatan terus memberikan pelayanan terbaik dan selalu menghadirkan inovasi yang memudahkan peserta. Mari kita jaga Program JKN ini dengan rutin
membayar iuran setiap bulan dan memastikan status kepesertaannya tetap aktif. Setiap iuran yang kita bayarkan sangat bermakna bagi mereka yang membutuhkan,” pungkas Yudhi. (HM)