Muhidi Imbau Seluruh Petugas yang Tengah Bekerja di Lapangan untuk Menjaga Kesehatan dan Keselamatan
On Minggu, November 30, 2025
| Ketua DPRD Sumatera Barat (Sumbar), Muhidi. |
| Ketua DPRD Sumatera Barat (Sumbar), Muhidi. |
| Dorongan tersebut disampaikan Muhidi usai ia menyalurkan bantuan kepada pengungsi di SDN 02 Cupak Tangah, Minggu (30/11). |
| Ketua DPRD Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), Muhidi, meninjau posko pengungsian korban banjir bandang di SDN 02 Cupak Tangah, Minggu (30/11). |
Acara yang berlangsung selama 2 hari (28-29 November 2025) bertempat di Universitas Paramadina, Kampus Kuningan, dan kampus Cipayung.
Prof. Suharnomo, Rektor Universitas Diponegoro, dalam sambutanya dengan nada tegas namun penuh keprihatinan, ia menyampaikan bahwa demokrasi Indonesia berada pada titik yang membutuhkan penguatan mendesak.
Menurutnya, kita tidak boleh hanya terpaku pada prosedur demokrasi seperti pemilu atau pergantian kepemimpinan. Demokrasi membutuhkan institusi kuat yang mampu menopang legitimasi politik dan menjaga ruang publik tetap sehat.
Ia mengingatkan bahwa dalam situasi politik seperti sekarang ketika banyak lembaga pengawasan melemah, dan ketika ruang kebebasan sipil mengalami tekanan maka literasi demokrasi menjadi kebutuhan yang tak bisa ditunda.
“Dalam situasi seperti ini, institusi demokrasi tidak boleh melemah apalagi runtuh. Dampaknya akan serius, tidak hanya bagi kebijakan, tetapi juga bagi masa depan bangsa,” tuturnya.
Dr. Handi Risza Idris, Wakil Rektor Bidang Pengelolaan Sumber Daya Universitas Paramadina, memulai dengan sebuah pertanyaan yang sering muncul dalam wacana pembangunan: manakah yang harus dibangun terlebih dahulu, demokrasi atau ekonomi? Pertanyaan ini tampak sederhana, namun jawaban dan implikasinya sangat kompleks.
Menurut Handi, dalam sejumlah negara, terutama negara kesejahteraan di Eropa, pembangunan ekonomi sering kali menjadi fondasi awal sebelum demokrasi berkembang secara matang. Namun Indonesia berada dalam dinamika yang berbeda.
Reformasi 1998 membuat demokrasi tumbuh bersamaan dengan proses pembangunan ekonomi. Akibatnya, seringkali keduanya dipertentangkan: apakah negara harus lebih fokus pada stabilitas ekonomi atau kebebasan politik?
Handi menegaskan bahwa dilema itu sebetulnya tidak relevan lagi. Demokrasi dan ekonomi bukan dua pilihan yang harus dipilih salah satu. Indonesia, memiliki potensi ekonomi yang besar: bonus demografi, pertumbuhan industri kreatif, sektor digital yang berkembang pesat, hingga kekayaan alam yang masih belum sepenuhnya dimanfaatkan.
Namun potensi sebesar apa pun tidak akan memberi manfaat tanpa tata kelola yang baik. Dan tata kelola yang baik hanya dapat muncul dari sistem demokrasi yang sehat.
“Demokrasi dan ekonomi harus diberi ruang yang sama, keduanya merupakan pilar negara untuk menghadirkan kesejahteraan sebagaimana amanat Pasal 33 UUD 1945,” kata Handi.
Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menegaskan bahwa perjalanan pemberantasan korupsi di Indonesia selama dua dekade terakhir mengalami pasang surut yang sangat signifikan.
Dalam sebuah diskusi publik yang digelar di Universitas Paramadina, Wijayanto menyoroti dinamika KPK dari awal pembentukannya pada tahun 2000 hingga saat ini, menekankan perlunya pengembalian independensi dan penguatan lembaga antikorupsi di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Menurut Wijayanto, pembentukan KPK pada awal 2000-an menjadi simbol tekad bangsa Indonesia untuk menegakkan hukum dan menolak budaya korupsi.
“KPK dilahirkan sebagai representasi struktur politik, sosial, dan ekonomi yang ingin bersih dari korupsi. Ini bukan sekadar institusi, tetapi cermin komitmen bangsa terhadap demokrasi,” ujarnya.
Ia membagi perjalanan pemberantasan korupsi ke dalam tiga periode penting: era Presiden Gus Dur, era Presiden SBY, dan era Presiden Jokowi. Setiap periode menunjukkan karakter yang berbeda, dengan pencapaian dan tantangan tersendiri.
Selama periode 2007 hingga 2019, menurut Wijayanto, pemberantasan korupsi menunjukkan kemajuan yang nyata. Kasus-kasus besar berhasil ditangani, dan KPK mendapat dukungan publik yang luas. Namun, titik balik terjadi pada tahun 2019 ketika revisi UU KPK disahkan.
“Sejak saat itu, independensi KPK melemah. Bukan karena KPK tidak ingin bekerja, tetapi karena struktur politik dan administratif membatasi ruang geraknya,” katanya.
Ia menekankan bahwa ketika KPK dilemahkan, bukan hanya lembaganya yang dirugikan, tetapi struktur demokrasi dan tata kelola pemerintahan Indonesia secara keseluruhan. Selain itu, Wijayanto juga mengkritik fenomena dramatisasi kerugian negara yang sering muncul di publik. Ia menekankan bahwa perhitungan kerugian harus berbasis nilai nyata, bukan potensi atau estimasi yang bombastis.
“Di banyak negara maju, nilai kerugian dihitung secara konkret, berdasarkan kerugian yang terjadi. Di Indonesia, angka-angka kadang terlihat besar karena cara menghitungnya yang tidak konsisten,” ujarnya.
Ia mencontohkan kasus pengadaan kapal ASDP yang nilainya dinilai hanya sebagai besi tua, padahal sebenarnya merupakan investasi strategis. Perbedaan metode ini, menurutnya, sering membuat pemberantasan korupsi tampak dramatis tanpa memberikan pemahaman yang jelas tentang dampak nyata bagi negara.
Melihat situasi ini, Wijayanto menegaskan bahwa pemerintahan Presiden Prabowo memiliki pekerjaan rumah besar.
Ia menekankan perlunya konsolidasi peran KPK, membersihkan hambatan administratif, mengembalikan independensi lembaga, mengakhiri politisasi dan dramatisasi kasus korupsi, serta menetapkan metodologi pengukuran kerugian negara yang jelas dan ilmiah.
Semua langkah ini, penting agar pemberantasan korupsi tidak hanya menjadi narasi populer, tetapi juga menghasilkan tata kelola yang nyata dan berkelanjutan.
“Pemberantasan korupsi bukan sekadar menangkap pelaku atau menciptakan sensasi di media sosial. Ini tentang membangun kepercayaan publik, memperkuat demokrasi, dan menciptakan kepastian hukum,” tegasnya.
Malik Ruslan, Redaktur Penerbitan LP3ES, mengajak peserta untuk melihat korupsi bukan hanya sebagai masalah hukum dan administrasi, tetapi sebagai persoalan moral dan budaya politik.
Menurutnya, korupsi di Indonesia memiliki akar sosiologis yang panjang. Budaya pemberian, hubungan patron-klien, serta struktur sosial yang permisif terhadap praktik-praktik tidak etis turut memperkuat lingkaran korupsi. Malik menjelaskan bahwa masyarakat kerap menganggap pemberian hadiah sebagai bentuk hubungan baik, bukan sebagai gratifikasi.
Kebiasaan ini telah berlangsung ratusan tahun dan sulit dihapus hanya dengan regulasi baru. Ia mengatakan bahwa “sistem sebaik apa pun akan hancur jika manusianya tidak berubah.
Ini bukan pembelaan terhadap korupsi, tetapi sebuah pengingat bahwa pemberantasan korupsi tidak dapat didekati hanya melalui penguatan lembaga. Pendidikan moral, budaya transparansi, dan kritik publik menjadi komponen penting yang tidak boleh diabaikan,” tutur Malik. (*)
| Fadly Amran menyampaikan sampai IPA Perumda AM bisa beroperasi optimal. |
BENTENGSUMBAR.COM - Rapat evaluasi rehabilitasi bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kota Solok dalam beberapa hari terakhir.
Rapat evaluasi rehabilitasi bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kota Solok dalam beberapa hari terakhir.
Rapat berlangsung di Posko Penanggulangan Bencana Balai Kota Solok, Sabtu (29/11/2025), dipimpin lansung oleh Wali Kota Solok.
Rapat evaluasi ini menghadirkan Wakil Wali Kota Solok, Suryadi Nurdal.
Selian itu, rapat diikuti Asisten I Bidang Pemerintahan, Nova Elfino, kepala OPD terkait, Kepala Bagian Prokomp Setda Kota Solok.
Serta seluruh camat serta lurah se-Kota Solok, guna memastikan langkah pemulihan pasca banjir dapat berjalan cepat, tepat, dan terkoordinasi.
Wali Kota menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam percepatan penanganan dampak bencana serta pemulihan kondisi masyarakat terdampak.
Evaluasi menyeluruh dilakukan terhadap penanganan darurat, distribusi bantuan, serta rencana langkah rehabilitasi dan rekonstruksi wilayah yang terdampak.
Pemerintah Kota Solok berkomitmen terus berada di garis depan dalam memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat.
Terutama bagi warga yang masih membutuhkan dukungan akibat bencana banjir yang terjadi.( BO )
Dua pria tersebut NA (19 ) tahun, wwrga Jorong Simpang Sawah Balik Nagari Koto Baru Kecamatan Kubung Kabupaten Solok Sumatra Barat dan IMF ( 18 ), Warga Perumahan Tanjung Harapan Indah Rt.001 Rw.004 Kelurahan Tanjung Paku Kecamatan Tanjung Harapan Kota Solok Sumatra Barat.
Dari tangan pelaku ditemukan
1 (satu) buah kotak plastik warna hitam yang berisikan 7 (tujuh) buah plastik klip bening berisikan butiran kristal bening diduga narkotika jenis shabu.
Selain itu, 1 (satu) paket ganja kering yang dibalut dengan plastik klip bening, 6 (enam) Lembar kertas piper merk antareja.
Ditemukan juga 1 (satu) unit handphone android merk Realme Note 60x warna gitam, uang sejumlah Rp.215.000 (dua ratus lima belas ribu rupiah) dengan rician, 3 (tiga) Lembar uang pecahan Rp. 50.000 (lima puluh ribu rupiah), 1 (satu) Lembar uang pecahan Rp. 20.000 (dua puluh ribu rupiah), 8 (delapan) Lembar uang pecahan Rp. 5.000 (lima ribu rupiah). 2 (dua) lembar uang pecahan Rp.2000 (dua ribu rupiah). 1 (satu) lembar uang pecahan Rp.1000 (seribu Rupiah).
Bahkan ditemukan, 4 (empat) buah mancis, 1 (satu) buah pipet serok, 4 (empat) buah kaca pirek, 1 (satu) buah alat hisap bong dari botol plastik bening.
Serta ditemukan, 1 (satu) buah dompet kain kecil warna merah, 1 (satu) buah jarum yang dimodifikasi, 6 (enam) buah plastik klip bening, 1 (satu) Buah kerdus kecil warna coklat.
Dalam keterangan Kasat Narkoba AKP Amin Nurasyid melalui Pasi Humas AKP Edy Suhendra mengatakan, Satuan Satres Narkoba mendapatkan informasi dari masyarakat sering transaksi narkotika di Tanjung Paku. Dari Informasi tersebut, Team Satresnarkoba Polres Solok Kota langsung melakukan Penyelidikan ke Tanjung Paku.
" Saat itu juga Team Resnarkoba Polres Solok kota melihat ciri - ciri pelaku dan kemudian langsung mengamankan ke dua orang itu NA dan IMF di depan sebuah rumah yang berada di Perumnas Tanjung Harapan Indah RT 002 RW 004 Kelurahan Tanjung Paku Kecamatan Tanjung Harapan Kota Solok, " katanya.
Lebih lanjut Kasat Narkoba mengatakan, dua oran itu diduga terlibat dalam tindak pidana narkotika jenis shabu dan ganja, saat dilakukanlah penggeledahan oleh pelapor dan tim yang disaksikan langsung oleh 2 orang saksi dari masyarakat sekitar.
Di dalam pinggang celana NA ditemukan 1 (unit) Hp Android merk Realme Note 60x warna hitam, kemudian di dalam saku celana sebelah kanan temukan uang sebanyak Rp 100.000 (seratus ribu rupiah) dan 1 (Satu) buah kotak plastik warna hitam berisi 7 (tujuh) buah plastik klip bening berisi diduga narkotika jenis shabu yang diakui milik NA.
Setelah itu di saku celana sebelah kiri ditemukan 1 (satu) Paket ganja yang di balut dengan plastik klip bening, 6 (enam) lembar kertas papir merk Antareja dan uang sebanyak Rp 115.000 (seratus lima belas ribu rupiah).
Ketika pelapor menanyakan tentang izin kepemilikan shabu dan ganja tersebut namun NA tidak memiliki izin dari pihak yang berwenang untuk memiliki shabu dan ganja tersebut.
Kemudian penggeledahan di lanjutkan di rumah IMF yang diamankan oleh pelapor dan tim yang berjarak sekitar 15 meter dari tempat NA diamankan.
Kemudian di dalam kamar rumah di temukan 1 (satu) buah kardus kecil warna coklat yang didalamnya berisi 4 (empat) buah mencis, 1 (satu) buah pipet serok, 1 (satu) Buah alat hisap bong dari botol plastik bening, 1 (satu) Buah jarum yang di modifikasi dan 1 (satu) Buah dompet kain kecil berwana merah yang berisi 4 (empat) Buah kaca pirex dan 6 (enam) buah plastik klip bening.
Kemudian tim tidak ada menemukan lagi barang-barang yang diduga ada kaitannya baik langsung maupun tidak langsung dengan dugaan tindak pidana narkotika yang dilakukan oleh terlapor.
Selanjutnya pelapor dan Tim membawa Terlapor dan barang bukti Ke Satres Narkoba Polres Solok Kota untuk proses selanjutnya.( BO )
Potongan video tersebut berisi pernyataan Bahlil saat memaparkan agenda hilirisasi di Indonesia pada Jakarta Geopolitical Forum IX/2025, 4 Juni lalu.
Video yang diunggah ulang oleh Muhammad Said Didu melalui akun X-nya @msaid_didu itu memicu ratusan komentar dari warganet. Unggahan tersebut juga memperoleh ratusan retweet dan ribuan tanda suka.
Dalam video berdurasi satu menit itu, Bahlil menyinggung bagaimana negara-negara yang kini berstatus maju pernah membabat hutan dan mengeruk sumber daya alam mereka sendiri.
Bahlil menyebut praktik tersebut dilakukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi negara pada masa awal industrialisasi mereka.
Akibat dari pernyataannya tersebut, respons warganet pun bermunculan, bahkan sebagian besar bernada kritik.
Salah satu komentar berasal dari August Hnedri. Melalui akun @Hnedri, ia menulis, “Pak Bahl, kita berlaku Ihsan bukan terhadap sesama manusia saja… Tapi sebagai manusia cerdas kita juga berlaku Ihsan terhadap makhluk lain. Berlaku Ihsan terhadap rumah gajah, harimau, dan burung2 cantik yang tinggal di Hutan. Salam cerdas, Pak.”
Dalam video yang sama, Bahlil turut mempertanyakan mengapa pemanfaatan sumber daya alam oleh Indonesia kerap menimbulkan kritik.
Negara maju, kata Bahlil, telah melakukan hal yang serupa ketika membangun pondasi ekonomi mereka puluhan tahun lalu.
“Negara-negara lain pada saat era 40an, 50an dan 60an, mereka-kan banyak hutan juga, mereka juga punya tambang banyak, semua mereka punya banyak,” ujar Bahlil dalam video tersebut.
Ketika itu, lanjut Bahlil, negara-negara maju tersebut masih berada dalam tahap berkembang.
“Maka mereka mengambil sumber daya alam mereka, hutannya dibabat, tambangnya diambil dan mungkin lingkungan mereka saat itu tidak lebih baik dari apa yang kita lakukan sekarang,” ucapnya.
Bahlil kemudian mengajukan pertanyaan retoris, “Pertanyaan saya, siapa yang memprotes mereka saat itu?”
Ia juga berpendapat bahwa banyak pihak merasa terganggu dengan langkah negara berkembang yang mulai mengelola sendiri sumber dayanya.
“Sekarang negara kita… yang baru memulai untuk berfikir mendapatkan nilai tambah… kok ada yang merasa terganggu, ada apa di balik itu,” kata Bahlil.
Meski begitu, tidak sedikit warganet yang menolak perbandingan yang disampaikan oleh Bahlil.
“Negara maju mana yang eksploitasi alamnya? Yg ada negara maju itu eksploitasi negara lain yang pemimpinnya Bodoh,” tulis akun @ardianTaka.
Sementara itu, akun @MachmudYaha menilai eksploitasi sumber daya alam selama ini justru dilakukan tanpa mempertimbangkan keselamatan rakyat dan hanya berfokus pada keuntungan.
Di tengah ramainya kritik publik atas pernyataannya tersebut, Bahlil dalam kesempatan lain menyampaikan belasungkawa kepada para korban banjir bandang.
Keterangannya itu ia sampaikan dalam Talkshow Aksi Nyata untuk Bumi Lestari di Kantor DPP Partai Golkar, Palmerah, Jakarta Barat, Jumat, 28 November 2025.
Bahlil kemudian menegaskan komitmen pemerintah untuk memperketat tata kelola pertambangan dan lingkungan.
“Saya khususnya di sektor pertambangan akan melakukan tindakan, langkah-langkah yang terukur, untuk bagaimana bisa menjaga pengelolaan tambang yang ramah lingkungan,” tuturnya dalam talkshow “Aksi Nyata untuk Bumi Lestari”.
Ia juga memastikan pihaknya akan memeriksa dugaan keterlibatan tambang ilegal dalam memperparah dampak banjir.
Seperti yang diketahui, Banjir bandang yang melanda Aceh, Sumut, dan Sumbar dipicu oleh curah hujan ekstrem yang membawa lumpur serta gelondongan kayu ke permukiman warga.
BNPB mencatat, hingga Jumat sore, 28 November 2025, total korban meninggal mencapai 174 jiwa.
Rinciannya, Aceh mencatat 25 korban meninggal dan 25 orang hilang, Sumatra Utara mendata sebanyak 116 meninggal dan 42 orang belum ditemukan, sementara Sumatra Barat melaporkan 23 korban meninggal dan 12 orang masih dalam pencarian.
Upaya pencarian korban dan penanganan darurat bencana alam masih terus berlangsung di seluruh wilayah yang terdampak.
Pemerintah pusat dan daerah berfokus membuka akses, mengevakuasi warga, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memperbesar dampak bencana tersebut. (*)
Sumber: Disway. id
BENTENGSUMBAR.COM - Setahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto rupanya belum lepas dari sorotan tajam para pengamat.
Rocky Gerung ikut menyoroti dilema Prabowo sebagai pemimpin baru: terus menatap masa depan atau masih menoleh pada masa lalu.
Dua nama besar, Sri Radjasa Chandra dan Rocky Gerung, kompak menilai bahwa Prabowo masih berjalan dengan “bayang-bayang panjang” warisan Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Pengamat intelijen Sri Radjasa Chandra mengungkapkan bahwa satu tahun pertama ini masih penuh beban politik masa lalu.
“Yang paling mencolok, Prabowo masih dibebani legacy Jokowi,” ujar Sri Radjasa dalam podcast Ten Ten Podcast, Sabtu (29/11/2025).
Rocky Gerung ikut menyoroti dilema Prabowo sebagai pemimpin baru: terus menatap masa depan atau masih menoleh pada masa lalu. Menurut Rocky, ini menjadi tekanan psikologis tersendiri bagi Presiden RI ke-8 itu.
Rocky menegaskan bahwa janji-janji Prabowo yang begitu besar pro rakyat, demokrasi kuat, dan ekonomi kerakyatan ala “Sumitronnomics” justru bisa berubah menjadi beban berat.
“Itu yang sebetulnya menjadi beban,” tegas Rocky.
Kritik Rocky semakin menajam ketika ia menyebut bahwa Prabowo bahkan seperti harus membawa "tong sampah" dari pemerintahan sebelumnya.
“Prabowo itu dibebankan semacam tong sampah di belakang dia yang isinya adalah rezim sebelumnya,” ujar Rocky.
Rocky mengaitkan hal itu dengan sikap sopan Prabowo terhadap Jokowi, yang menurutnya baik secara etik, tapi bisa membuat publik bertanya-tanya.
“Kalau terlalu sopan, nanti keenakan yang disopani,” tambahnya.
Namun Rocky menilai Prabowo, dengan latar belakang militernya, adalah sosok yang paham momentum dan tahu kapan bergerak.
Di tengah kritik keras itu, Rocky memberikan apresiasi besar pada kinerja Prabowo di panggung internasional. Ia menilai Prabowo berhasil memulihkan citra Indonesia yang sempat meredup.
“Presiden Prabowo berhasil menyelamatkan imej buruk Indonesia di politik internasional,” kata Rocky.
Prabowo dinilai mampu mengembalikan memori publik global bahwa Indonesia pernah menjadi pemain penting dunia—sejak era Soekarno dan Soeharto.
Penampilan Prabowo di berbagai forum kenegaraan, termasuk sidang PBB, disebut membawa Indonesia kembali menjadi negara yang diperhitungkan, baik secara ideologis, ekonomi, maupun pertahanan.
Dalam satu tahun pertamanya, Prabowo dianggap masih berada dalam transisi besar: melepaskan bayang-bayang rezim lama sambil membuktikan janji-janji besarnya kepada rakyat. (*)
Sumber: Citrasumsel.com