PILIHAN REDAKSI

Ali Imron Pernah Minta Izin Ngebom Rumah Amien Rais, Denny Siregar: Harusnya Waktu Itu Jangan Ditangkap Dulu

BENTENGSUMBAR.COM – Pegiat media sosial Denny Siregar angkat bicara mengenai pengakuan pelaku Bom Bali 1. Pasalnya, Ali Imron d...

Iklan Bank Nagari

Kisah Francisca Fanggidaej, Pejuang Tanpa Nama yang Dihapus Dari Sejarah Bangsa

          Kisah Francisca Fanggidaej, Pejuang Tanpa Nama yang Dihapus Dari Sejarah Bangsa
NAMA Francisca Fanggidaej telah dihilangkan paksa dari sejarah Indonesia. Masa mudanya dia habiskan untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa. Namun di hari tua, dia menutup mata untuk terakhir kali di tanah asing, setelah menjadi eksil selama puluhan tahun, berpisah dengan anak-anaknya tercinta.

Ketika peristiwa G30S terjadi, Sisca, begitu dia akrab disapa, tengah bertugas di luar negeri. Anggota DPR Gotong Royong ini memang bertugas di Komisi Luar Negeri sehingga waktunya lebih banyak digunakan untuk tugas diplomasi.

Pada 1964, dia ikut rombongan Presiden Sukarno untuk menghadiri persiapan Konferensi Asia Afrika ketiga di Aljazair. Kemudian, dia terbang ke Helsinki untuk menghadiri Konferensi Perdamaian Sedunia pada 1965.

Tidak lama kemudian, Sisca menghadiri kongres Organisasi Jurnalis Internasional di Chile, 28 Oktober 1965. Sejak saat itulah dia tidak pernah bisa pulang ke Indonesia setelah meletus G30S.

Kemudian dia menghadiri Konferensi Trikontinental di Havana, Kuba, pada Januari 1966. Paspornya sudah dianggap tidak berlaku mulai saat itu. Beberapa sumber menyebut, Francisca berpindah-pindah sampai akhirnya tinggal di Belanda pada 1985.

Dalam memoar berjudul “Memoar Perempuan Revolusioner” yang ditulis oleh bekas tahanan politik 1965, Hersri Setiawan, Francisca menulis bahwa peristiwa G30S “sama sekali di luar pikiranku” dan menyebutnya seperti "halilintar di siang bolong”, dia mengaku “sama sekali tidak tahu, apalagi mengerti”.

Diplomasi internasional

Perempuan kelahiran 16 Agustus 1925 tersebut memegang peran penting di masa kemerdekaan. Peneliti sejarah Ita Fatia Nadia menyebutkan, Francisca terlibat dalam beberapa momen penting, seperti upaya diplomasi keluar negeri untuk mencari dukungan internasional.

Dalam wawancaranya dengan BBC Indonesia, dia bercerita bahwa Presiden Soekarno kala itu menunjuk langsung Francisca, untuk berbicara bahwa kemerdekaan Indonesia adalah kemerdekaan yang digagas atau diperjuangkan oleh rakyat Indonesia untuk melawan kolonial.

“Soekarno mengatakan kepada Francisca, ‘kamu yang harus pergi’ berkeliling dunia, berkeliling ke negara-negara yang sedang memperjuangkan kemerdekaan, terutama di Asia, Amerika Latin, dan Eropa,” kata Ita. 

Menurutnya, Francisca berperan penting tidak saja jaringan internasional, tetapi juga bagaimana pemikiran politik dan aktivisme Francisca di dalam gerakan negara-negara yang menuntut pembebasan nasional.

Sosok Francisca penting untuk kembali diingat dalam sejarah Indonesia, khususnya sejarah gerakan perempuan. Boleh jadi namanya tidak pernah ditulis atau disebut dalam teks sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Namun, nama itu tertulis jelas dalam buku peringatan Konferensi Kalkuta pada 1948. Dia menjadi tokoh perempuan dari Indonesia yang berpidato untuk memberitahukan kepada dunia internasional tentang perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Konferensi yang digelar di Kalkuta, India, tersebut adalah konferensi pemuda dari negara-negara terjajah yang sedang memperjuangkan kemerdekaan. Konferensi ini merupakan cikal bakal dari lahirnya Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 1955.

Selamat tinggal

Francisca tak sempat mengucap selamat tinggal kepada tujuh orang anaknya, maupun suaminya, Supriyo. Bahkan, Supriyo yang merupakan wartawan dipaksa masuk bui tanpa proses peradilan. Selama 12 tahun dia mendekam dan baru bisa menghirup udara bebas pada 1978.

Akan tetapi tidak dengan Francisca. Dia terasing dari satu negara ke negara lain tanpa bisa mengabari anak-anaknya.

Begitupun dengan ketujuh anaknya. Mereka tumbuh tanpa orangtua, dibesarkan oleh sanak keluarga, dengan menanggung ketidaktahuan dan stigma sebagai “anak PKI”.

Savitri Sasanti Rini, anak Francisca Fanggidaej, hingga kini mengaku masih trauma dengan peristiwa 55 tahun silam. Saat itu usianya masih 7 tahun, ketika dia kehilangan ayah dan ibunya.

“Terus terang saya sangat sedih jika ingat beliau. Saya selalu berdoa kapan saya bisa ketemu dengan ibu saya. Dan keadaannya seperti apa? Ibu saya sebenarnya ada di mana?” kata dia.

Ketika itu, anak-anak Francisca sama sekali tak mengetahui keberadaan ayah dan ibu mereka. Setelah belasan tahun, mereka baru tahu sang ayah di penjara di Salemba. 

Mayanti Trikarini si anak bungsu mengatakan, ketika itu berita tentang ibunya masih simpang siur. Semua keluarga sudah memikirkan kondisi terburuk, bahwa Francisca sudah tak bernyawa.

Peristiwa 1965 menggoreskan luka batin bagi anak-anak Francisca. Mereka pun tumbuh dalam stigma latar belakang ibunya. Salah seorang anaknya, Nusa Eka Indriya, berusia 9 tahun saat mereka diusir oleh tentara dari rumahnya tidak lama setelah peristiwa G30S.

“Kalau saya bicara masa lalu, saya berharap jangan ada lagi. Biar kami saja, karena itu membekas sekali, bayangkan ketika kita main (diteriaki) PKI.. PKI.. aduh PKI siapa? PKI itu makanan apa? Saya juga enggak tahu kan waktu itu,” tutur ayah enam anak ini.

Pejuang tanpa nama

Fransisca memang telah memilih menjadi warga negara Belanda ketika paspornya tak lagi diakui. Setelah reformasi 1998, yakni ketika Presiden Abdurrahman Wahid mempersilakan para eksil untuk pulang, Fransisca sempat pulang ke Indonesia untuk bertemu dengan anak-anaknya.

Pejuang tanpa nama itu akhirnya bisa kembali memeluk anaknya, melihat cucunya, dan berkumpul sejenak bersama keluarga. Sebelum tutup usia pada 2013, menurut keterangan Savitri, dia sempat berwasiat kepada anak-anaknya.

“Satu pesan dari ibu yang saya ingat adalah tolong anak-anak jangan dilibatkan dalam dunia politik. Saya setuju, karena saya merasa karena politik bapak saya hancur, karena politik anak-anak hancur,” ujar Savitri lirih.

Setelah mendapat penjelasan mengenai perjuangan sang ibu dari ayah mereka, serta membaca memoar, anak-anak Francisca mulai menyadari sosok ibunya sebagai pejuang.

“Akhirnya saya bilang ibu saya seorang pejuang wanita tangguh. Dia benar-benar memikirkan negara, untuk perjuangan Indonesia. Dari situ saya baru tahu, akhirnya saya mengakui kalau mama saya pejuang. Tapi pejuang tanpa nama, maksudnya tidak diakui, belum ada yang mengakui,” ucap Mayanti. (Malahati – Anggota Perempuan Indonesia Satu)
Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »
Loading...