Advertorial

Daerah

Strategi Pemasaran Sate Meli, Batusangkar, Sumatera Barat

          Strategi Pemasaran Sate Meli, Batusangkar, Sumatera Barat
Strategi Pemasaran Sate Meli, Batusangkar, Sumatera Barat
MENGUNJUNGI Kota Batusangkar, tak lengkap apabila tidak mampir ke gerobak “Sate Meli” Pak Amrizal. Sate Meli adalah salah satu merek produk sate di Batusangkar yang sudah berdiri sejak tahun 2016 lalu. 

Dinamakan Sate Meli karena pemiliknya Bapak Amrizal memiliki salah seorang anak perempuan yang bernama Meli, anak kesayangannya, maka dari situlah pengambilan nama Sate Meli. 

Sate Meli selalu ramai dikunjungi pembeli dan  menjadi salah satu sate yang cukup favorit di kawasan Batusangkar.

Sate Meli menggunakan beberapa sarana dalam mempromosikan produknya. Salah satunya menggunakan media radio. 

Selain itu, penjual juga menempel iklan di depan gerobaknya. Walaupun promosi Sate Meli terbilang tidak banyak, namun ia mampu memikat pelanggan dengan cara menjalin kedekatan dengan masyarakat.

Dengan adanya komunikasi yang baik dengan masyarakat maka hal itu menjadi daya tarik tersendiri dalam hal pemasaran.

Sate Meli memiliki beberapa cabang penjualan di tempat yang berbeda-beda. Pemilik dari masing-masing cabang ini masih berasal dari keluarga Bapak Amrizal, yaitu anak-anaknya. 

Cabang yang pertama ada di Desa Koto Panjang yang dijual oleh Pak Amrizal. Cabang kedua ada di Rumah Sakit Koto Simpuruik yaitu di RSUD Prof. Dr. M Ali Hanafiah yang dijual oleh Awe. Dan cabang ketiga ada di Pasar Batusangkar. Semuanya menggunakan gerobak untuk menjualnya.

Cabang yang pertama yaitu di  Desa Koto Panjang, yang dijual langsung oleh pemilik utamanya yaitu Bapak Amrizal. 

Dalam pemasarannya Pak Amrizal menjualnya dengan cara menjajakan sate menggunakan gerobak sate yang dibawa menggunkana sepeda motor melewati jalan pedesaan Koto Panjang hingga keluar desa seperti ke Tiga Batur dan Minang. 

Cabang kedua yaitu yang dijual di depan rumah sakit. Di sini sate dijual oleh menantu Pak Amrizal yaitu Awe. Ia berjualan dengan mendirikan gerobak dan stay di satu titik menunggu pelanggan. 

Pembelinya berasal dari penduduk atau warga yang tinggal di sekitar rumah sakit, tukang ojek yang mangkal di depan rumah sakit, hingga keluarga dari pasien yang sakit di rumah sakit.

Kemudian cabang Sate Meli di Pasar Batusangkar, yang penjualannya sama seperti di rumah sakit, yaitu hanya stay berdiri dengan gerobak di satu titik tempat. Lalu menunggu pembeli berdatangan kesana. 

Untuk waktu beroperasinya, Sate Meli cabang Koto Panjang yang dijual Pak Amrizal mulai beroperasi di pagi hari 08.30 sampai waktu zuhur. Terkadang di sore harinya juga berjualan lagi mulai jam 17.00 sampai malam jam 21.00 tergantung cepat habisnya sate. Sate Meli cabang di rumah sakit  mulai beroperasi dari pagi pukul 07.00 sampai pukul 12.00 siang.  

Dan cabang di pasar Batusangkar waktu penjualannya lebih singkat karena lebih cepat terjual, biasanya bisa dari jam 07.00 sampai jam 09.00 sudah habis terjual.

Jumlah pembeli Sate Meli cukup banyak. “Jumlah pembeli dalam sehari bisa berkisar antara 80 sampai 100 orang dan menghabiskan daging sapi 2 sampai 3kg,” tutur Awe. 

Si pembeli berasal dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa hingga lansia. Untuk sate cabang Koto Panjang, kebanyakan yang membeli adalah dari kalangan anak- anak. 

Hal ini dikarenakan harga sate yang dijual Bapak Amrizal sangat ramah di kantong, terutama anak-anak. Dengan uang Rp 3.000, mereka bisa mendapatkan sate kerucut yang berisi ketupat. 

Selain itu, anak-anak tertarik membeli dikarenakan penjual sate yang humoris,suka bercanda dan bercerita terutama kepada anak-anak. Hal tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi mereka.

Varian jenis sate yang dipasarkan bermacam-macam. Mulai dari sate daging sapi, sate daging ayam, tulang ayam dan ceker ayam. 

Semuanya terasa enak, tergantung selera dari para konsumennya masing-masing. Untuk sate ini dilengkapi dengan ketupat. 

Kuah satenya memiliki rasa dan ciri yang khas yang berbeda dengan rasa kuah sate yang lain. Namun, perbedaan inilah yang membuat Sate Meli laku di pasaran. 

“Rasa kuahnya sangat khas, namun enak di lidah,” ujar salah satu pembeli.

“Menurut saya, dari segi harga, Sate Meli dapat dibilang sangat terjangkau di kalangan masyarakat karena harganya yang murah, kita bisa membelinya dari harga Rp3.000,00- sampai Rp15.000,00 per porsinya,” ujar Adis salah satu warga Koto Panjang.

“Sate Meli berjualan dengan cara memakai gerobak yang dijajakan keliling area Sungai Tarab. Sate Meli memiliki ciri khas yang sangat unik, seperti kuahnya yang berbeda dari yang lain, sehingga pembeli tertarik dan sering membeli Sate Meli,” tambah Adis.

Sate Meli ini masih menggunakan kemasan yang tradisional untuk membungkus sate. Yaitu menggunakan daun pisang dilapisi kertas nasi. 

Hal ini juga menjadi strategi yang tepat dalam menarik pembeli, karena dengan menggunakan daun pisang, rasa dari satenya akan jauh lebih enak dan menggugah selera. Selain itu, Sate Meli juga dilengkapi toping bawang gorenng dan kerupuk.

Untuk harganya, Sate Meli memang dapat dikatakan sangat terjangkau. Masyarakat dapat membeli dengan harga Rp5.000, itupun sudah dapat 2 tusuk sate dengan ketupat. 

Di saat sate lain menjual dengan harga tinggi, Sate Meli berani menjual dengan harga yang terjangkau tanpa mengurangi porsi dan cita rasa. 

Hal inilah yang menyebabkan Sate Meli sangat diminati semua orang dan mampu bertahan lama di pasaran.

“Kami tetap mengutamakan rasa dan kebersihannya,” ujar pemilik sate.

*Penulis: Ulfy Azizah, Mahasiswa Jurusan Manajemen Universitas Andalas
Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »