| Kreator Konten Topi Merah menduga hasil analisis Rismon Sianipar terkait ijazah mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) merupakan hasil rekayasa atau editing. |
Dugaan tersebut disampaikan berdasarkan hasil uji ulang yang ia lakukan terhadap metode pengolahan citra yang dipaparkan eks tersangka tudingan ijazah Jokowi itu.
Topi Merah mengaku mencoba merekonstruksi langkah-langkah analisis menggunakan sumber gambar yang ia unduh langsung dari platform X, namun tidak menemukan hasil serupa.
Dia pun menyampaikan keraguannya terhadap temuan yang menampilkan watermark dan emboss pada citra ijazah.
"Jadi saya sebagai orang yang dari dulu juga mengikuti kasus ini ya, agak janggal dengan presentasi ini (presentasi Rismon)," ujarnya, dalam acara Rakyat Bersuara bertajuk “Rismon: Ijazah Jokowi Asli, Roy CS: Rekayasa” yang disiarkan iNews, Selasa (5/5/2026).
Ia menjelaskan, secara teknis dalam pengolahan citra digital, informasi yang sudah rusak, terutama pada bagian tepi, tidak mungkin dapat dimunculkan kembali secara utuh.
"Karena dalam suatu citra itu ketika objek tepi atau edge dari sebuah citra itu sudah rusak, itu hampir mustahil untuk dimunculkan kembali," jelasnya.
Topi Merah mengaku telah menguji ulang metode yang digunakan Rismon dengan menggunakan sumber gambar yang ia unduh langsung dari platform X milik Dian Sandi. Namun, hasilnya berbeda dengan yang dipresentasikan.
Ia juga menegaskan bahwa proses yang ia lakukan mengikuti langkah yang sama seperti yang dipaparkan Rismon. Meski demikian, hasil pengolahan citra yang ia lakukan tidak menunjukkan kemunculan watermark maupun emboss secara jelas seperti yang diklaim.
"Ketika saya mencoba ternyata hasilnya malah jadi seperti ini. Watermark-nya masih rusak, emboss-nya apalagi, tidak kelihatan," ungkapnya.
Dari situ, ia menyimpulkan kemungkinan adanya perbedaan sumber data yang digunakan.
"Saya mendapatkan kesimpulan bahwa source-nya adalah beda, bukan dari Dian Sandi yang Pak Rismon," katanya.
Untuk memperkuat analisisnya, Topi Merah juga menggunakan pendekatan lain dengan menghitung frekuensi piksel menggunakan metode wavelet. Hasilnya menunjukkan perbedaan karakteristik antara dua gambar yang dibandingkan.
Ia pun mempertanyakan bagaimana mungkin dengan sumber dan metode yang sama dapat menghasilkan output yang berbeda.
"Bagaimana bisa source yang sama dengan proses yang sama output-nya beda?" pungkasnya.
Sebelumnya, eks tersangka tudingan Ijazah Jokowi, Rismon Sianipar membeberkan kajian terbaru ijazah mantan Presiden ke-7 RI Jokowi yang sebelumnya dituding palsu.
Kini, Rismon memastikan bahwa ijazah Jokowi memiliki emboss dan watermark. Rismon mengatakan bahwa dirinya tidak memasukkan emboss dan watermark dalam objek kajian ijazah Jokowi sebelumnya. Selain itu, dia juga memasukkan normalisasi resolusi dalam kajian terbarunya tersebut. (*)
Sumber: SINDONews.com
Silakan baca konten menarik lainnya dari BentengSumbar.com di Google News
BERITA SEBELUMNYA
« Prev Post
« Prev Post
BERITA BERIKUTNYA
Next Post »
Next Post »